Bagikan:

SIAK – Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani, menegaskan bahwa arah pembangunan pariwisata Indonesia harus berbasis konservasi budaya dan lingkungan agar berkelanjutan serta memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya dalam rangkaian kunjungan kerja di Pekanbaru, Kabupaten Siak, dan Kabupaten Kampar, Provinsi Riau pekan lalu.

Menurut Zita, pariwisata tidak semata-mata soal peningkatan angka kunjungan, melainkan bagaimana sebuah destinasi mampu menjaga identitas budaya serta kelestarian alamnya.

“Komunitas adalah jantung dari pariwisata berbasis pengalaman. Ketika budaya dirawat oleh generasi mudanya sendiri, di situlah pariwisata menemukan ruhnya,” kata Zita dalam keteranganya, Kamis 12 Februari.

Ia menekankan, konservasi budaya bukan hanya bentuk pelestarian simbolik, tetapi juga strategi pembangunan ekonomi jangka panjang. Budaya yang dirawat dengan baik, kata dia, dapat menjadi sumber penghidupan berkelanjutan tanpa kehilangan nilai otentiknya.

Di Kabupaten Siak, Zita menilai praktik wisata berbasis pengalaman seperti tradisi sungai dan kuliner lokal menjadi contoh bagaimana alam dan budaya dapat diintegrasikan dalam satu narasi destinasi. Konsep tersebut dinilai memperkuat identitas lokal sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Pariwisata bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, tetapi tentang nilai yang kita temui di sepanjang perjalanan. Dan nilai itu, di Indonesia, bernama budaya,” ungkapnya.

Sementara saat meninjau Candi Muara Takus di Kampar, ia menegaskan bahwa pengembangan wisata sejarah harus berjalan beriringan dengan perlindungan situs.

“Budaya yang dirawat dengan benar bisa menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan. Namun pelestarian harus selalu menjadi prioritas utama agar nilai sejarahnya tetap terjaga untuk generasi mendatang,” tegasnya.

Melalui kunjungan tersebut, Zita menegaskan komitmen untuk membangun ekosistem pariwisata yang berpijak pada identitas budaya, pemberdayaan komunitas, dan keberlanjutan lingkungan, dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku ekonomi kreatif sebagai kunci utama.