JAKARTA — Pemerintah mulai menggeser penanganan sampah ke level paling dekat sumbernya, kelurahan dan desa.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan Presiden memberi arahan agar teknologi pengolahan sampah skala mikro yang sudah dikembangkan sejumlah kampus dipercepat dan segera diuji coba tahun ini.
“Selain waste to energy yang tetap berjalan, beberapa teknologi pengolahan sampah skala mikro diminta untuk dilakukan percepatan,” kata Brian di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu, 11 Februari.
Skemanya akan berjalan bersama Danantara dan melibatkan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Brian menegaskan uji coba akan dilakukan di beberapa kota bersama pemda, dengan target unit mikro mampu menangani sekitar 10 ton sampah per hari per kelurahan/desa.
BACA JUGA:
Teknologi yang dibahas masih dalam tahap seleksi, mulai dari gasifikasi hingga plasma-assisted dan plasma dingin. Pemerintah akan melakukan asesmen ulang untuk memilih opsi “paling baik”, sekaligus memastikan standar lingkungan—karena salah desain teknologi bisa memindahkan masalah baru.
Berbeda dengan skema waste to energy, Brian menekankan pengolahan mikro ini tidak menghasilkan listrik dan tidak untuk dijual ke PLN. Outputnya berupa pasir atau debu yang bisa dimanfaatkan sebagai campuran material, seperti untuk trotoar atau semen.
Target percepatan dipasang jelas. “Dalam tahun ini… diuji coba di beberapa kelurahan dan desa,” kata Brian.
Dia berharap pendekatan ini mengurangi mobilisasi sampah antarwilayah karena sampah ditangani di titik asal, sambil menunggu proyek waste to energy berjalan.