Bagikan:

JAKARTA - Iran mengatakan mereka mengharapkan kemajuan dalam kerangka kerja untuk memulai kembali perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.

Tehran mengatakan pada Hari Senin, mereka sedang meneliti beberapa proses diplomatik yang diajukan oleh negara-negara di kawasan itu untuk meredakan ketegangan dengan Washington, menambahkan mereka mengharapkan kerangka kerja untuk pembicaraan dalam beberapa hari mendatang.

Pengumuman itu datang ketika Tehran dan Washington tampaknya mundur dari ancaman aksi militer.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengirim kapal perang ke Timur Tengah setelah Iran mengambil tindakan tegas dalam menangani unjuk rasa yang diikuti kerusuhan pada Bulan Januari, tetapi kemudian Ia menyerukan Teheran untuk membuat kesepakatan untuk melanjutkan pembicaraan tentang program nuklirnya, yang dihentikan pada Bulan Juni ketika Iran diserang oleh AS dan Israel.

Pada Hari Minggu, Presiden Trump mengatakan AS sedang berbicara dengan Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teheran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi negosiasi tidak langsung sedang berlangsung.

"Negara-negara di kawasan ini bertindak sebagai mediator dalam pertukaran pesan," katanya pada Hari Senin tanpa memberikan rincian tentang isi negosiasi tersebut, dikutip dari Al Jazeera (3/2).

"Beberapa poin telah dibahas, dan kami sedang meneliti dan menyelesaikan detail setiap tahap dalam proses diplomatik, yang kami harapkan akan selesai dalam beberapa hari mendatang," tambahnya.

Kantor berita negara IRNA melaporkan, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah melakukan panggilan telepon dengan Arab Saudi, Mesir, dan Turki untuk membahas perkembangan terbaru.

Kemudian, kantor berita Fars mengutip sumber anonim mengatakan Presiden Masoud Pezeshkian telah memerintahkan dimulainya kembali pembicaraan nuklir.

"Iran dan Amerika Serikat akan mengadakan pembicaraan tentang masalah nuklir," lapor Fars tanpa menyebutkan tanggal.

Laporan tersebut juga dimuat oleh surat kabar pemerintah Iran dan harian reformis Shargh.

Menlu Araghchi sendiri dijadwalkan bertemu dengan Utusan AS Steve Witkoff untuk negosiasi dalam konteks ini, kantor berita Iran Tasnim juga melaporkan pada hari Senin.

Presiden Trump mengancam Iran setelah protes massal di sana yang menewaskan ribuan orang pada Bulan Januari. Demonstrasi tersebut, yang dipicu oleh kesulitan ekonomi dan runtuhnya mata uang negara itu, berubah menjadi tantangan langsung terhadap pemerintah.

Namun, pendekatan Presiden Trump sejak itu berubah menjadi tuntutan untuk kesepakatan nuklir karena AS dan Uni Eropa khawatir Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Sementara, Tehran bersikeras programnya murni sipil.

Meskipun Iran pada Hari Senin mengisyaratkan mereka semakin dekat untuk menyetujui pembukaan kembali pembicaraan, dipahami AS telah menetapkan beberapa syarat.

Sumber-sumber Iran mengatakan kepada Reuters, agar pembicaraan dapat dilanjutkan, Presiden Trump menuntut agar Iran setuju untuk mengakhiri pengayaan uranium, mengurangi program rudalnya dan menghentikan dukungan kepada jaringan kelompok bersenjata sekutunya di kawasan tersebut.

Di masa lalu, Iran telah menunjukkan fleksibilitas dalam membahas masalah nuklir, tetapi rudal dan sekutu regional telah lama dianggap sebagai hal yang tidak dapat dinegosiasikan.

Tidak jelas apakah Iran akan mengubah posisinya sekarang karena negara tersebut sangat membutuhkan pencabutan sanksi, guna meningkatkan perekonomian dan mencegah kerusuhan di masa depan.