Bagikan:

JAKARTA - Antisipasi langkah-langkah terbaru yang diambil oleh Amerika Serikat (AS) untuk mencekik perekonomian Kuba, Duta Besar Kuba untuk Ekuador, Basilio Gutierrez, tegas menyatakan tidak akan melepaskan kedaulatannya kepada RIA Novosti, Sabtu.

Pada Kamis (29/1), Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengizinkan AS untuk mengenakan tarif impor pada barang-barang dari negara-negara yang menjual atau memasok minyak ke Kuba, dan juga menyatakan keadaan darurat, dengan alasan ancaman terhadap keamanan nasional yang diduga berasal dari Havana.

"Rakyat Kuba sedang menghadapi masa-masa sulit, tetapi dalam keadaan apa pun kami tidak akan meninggalkan kedaulatan kami dan sistem pemerintahan yang kami pilih secara bebas bertahun-tahun yang lalu," kata Gutierrez, dilansir dari ANTARA, Sabtu, 31 Januari.

Dia juga mengecam keras tekanan terhadap negaranya.

Pada Kamis (29/1), Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla mengatakan bahwa Washington berupaya memaksakan kondisi hidup yang ekstrem kepada rakyat Kuba dengan mendorong blokade de facto pasokan bahan bakar ke Kuba.

Kuba sedang mengalami krisis dengan pemadaman listrik yang berlangsung lebih dari 12 jam dan kekurangan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.

Pihak berwenang menyalahkan situasi tersebut pada sanksi ekonomi AS, yang tetap berlaku selama lebih dari enam dekade meskipun mendapat kecaman internasional secara luas.