JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum rangkaian bencana hidrometeorologi yang meluas di kawasan lereng Gunung Slamet, Provinsi Jawa Tengah.
Bencana dipicu curah hujan tinggi dengan durasi panjang yang terjadi secara beruntun dalam beberapa hari terakhir dan berdampak pada wilayah Kabupaten Purbalingga, Pemalang, Brebes, serta Tegal.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, rangkaian kejadian berupa banjir bandang, banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem telah menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, gangguan aksesibilitas wilayah, serta pengungsian warga.
"BNPB merangkum kejadian bencana hidrometeorologi yang meluas di kawasan lereng Gunung Slamet, Provinsi Jawa Tengah, akibat curah hujan tinggi dengan durasi panjang yang terjadi secara beruntun dalam beberapa hari terakhir," kata Abdul Muhari dalam keterangannya, Minggu, 25 Januari.
Di lereng timur Gunung Slamet yang mencakup wilayah Kabupaten Purbalingga, hujan berintensitas tinggi memicu banjir bandang dan angin kencang pada Jumat, 23 Januari, di Kecamatan Rembang dan Kecamatan Karangreja. Luapan sungai dari wilayah hulu membawa material lumpur, batu, dan kayu yang menerjang permukiman serta menutup akses jalan di Desa Serang dan Desa Kutabawa.
Hasil kaji cepat sementara BNPB mencatat satu orang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka-luka. Selain itu, satu unit rumah dilaporkan rusak berat dan satu unit rumah rusak ringan akibat cuaca ekstrem. Akses jalan menuju Dusun Gunung Malang dan Dusun Bambangan terisolasi, sementara Jembatan Kali Bambangan dilaporkan putus total.
Sebanyak 31 kepala keluarga atau 110 jiwa mengungsi ke lokasi yang lebih aman di wilayah Desa Kutabawa. Hingga Sabtu, 24 Januari, siang, hujan lebat masih terjadi dan pemadaman listrik di sejumlah titik menghambat komunikasi serta penanganan darurat.
Sementara itu, di lereng utara Gunung Slamet, wilayah Kabupaten Pemalang, banjir bandang terjadi sejak Jumat sore hingga Sabtu dini hari, sekitar pukul 17.30 WIB hingga 03.30 WIB. Curah hujan tinggi menyebabkan peningkatan debit sungai secara signifikan dan memicu banjir bandang di Desa Gunungsari, Penakir, dan Jurangmangu, Kecamatan Pulosari, serta Desa Sima, Kecamatan Moga.
Dampak kejadian meliputi kerusakan empat unit rumah warga, satu unit fasilitas ibadah, serta infrastruktur penghubung antarwilayah. Dua jembatan penghubung desa dilaporkan terputus dan Jembatan Sungai Reas mengalami kerusakan struktural.
BNPB mencatat satu orang meninggal dunia, dua orang luka berat, sekitar 22 orang luka ringan, serta 119 warga mengungsi dan ditampung di Kantor Kecamatan Pulosari. Hingga laporan ini disusun, kondisi cuaca di wilayah terdampak masih sering hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kabut dan angin.
Di lereng barat Gunung Slamet, wilayah Kabupaten Brebes, hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang sejak Sabtu pagi, 24 Januari, memicu banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem di Kecamatan Sirampog, Bumiayu, dan Paguyangan. BNPB mencatat sembilan unit rumah rusak berat dan hanyut, dua unit rumah rusak sedang, serta 11 unit rumah terdampak.
Selain kerusakan rumah, pohon tumbang menutup badan jalan dan menimpa jaringan listrik. Pergerakan tanah terjadi di Dukuh Pengasinan dan longsor dilaporkan pada tebing penahan Jalan Provinsi Sirampog–Tuwel. Banjir Kali Keruh juga merusak ruas Jalan Kabupaten Adisana–Cilibur sepanjang sekitar 30 meter.
Banjir bandang kembali terjadi di kawasan Obyek Wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, pada Sabtu dini hari sekitar pukul 01.30 WIB. Hujan lebat disertai angin kencang menyebabkan banjir bandang pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Gung yang melintasi kawasan wisata tersebut.
BNPB mencatat kejadian ini merupakan banjir bandang kedua dalam waktu dekat di kawasan Obyek Wisata Guci.
Dampaknya berupa perubahan morfologi alur sungai serta kerusakan sejumlah sarana dan prasarana wisata, termasuk ambruknya Jembatan Jedor dan jembatan di wilayah Pancuran 13, kerusakan area wisata Pancuran 13 dan Pancuran 5, jembatan gantung Pancuran 5, serta satu unit excavator mini yang hanyut terbawa arus.
"BNPB mencatat kejadian ini merupakan banjir bandang kedua dalam waktu dekat di kawasan objek wisata Guci," ungkap Abdul Muhari.
Tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan rumah warga dalam kejadian di Guci. Namun, aktivitas wisata di sejumlah titik terdampak dihentikan sementara untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan pengunjung.
Berdasarkan kaji cepat BNPB yang mengacu pada analisis forensik bencana sementara, rangkaian kejadian ini dipengaruhi karakteristik kawasan lereng Gunung Slamet yang memiliki topografi curam, jaringan sungai berhulu pendek, serta tingkat kerentanan tinggi terhadap peningkatan debit aliran permukaan saat hujan ekstrem.
"Akumulasi curah hujan di wilayah hulu menyebabkan respons hidrologi yang cepat, memicu banjir bandang dengan muatan sedimen tinggi, serta meningkatkan potensi longsor pada lereng dan tebing sungai," tuturnya.
Sebagai langkah mitigasi, BNPB mendorong penguatan pengelolaan daerah aliran sungai dan kawasan lereng Gunung Slamet secara terpadu, termasuk penataan dan normalisasi alur sungai, penguatan struktur pengaman tebing dan jembatan, serta pengendalian pemanfaatan ruang di zona rawan banjir bandang dan longsor.
Dalam penanganan darurat, BNPB bersama BPBD kabupaten terdampak dan BPBD Provinsi Jawa Tengah terus melakukan koordinasi lintas sektor, mulai dari evakuasi warga terdampak, pengamanan area berbahaya, pembersihan material banjir dan longsor, hingga pembukaan akses jalan yang terputus.
BACA JUGA:
Selain itu, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jawa Tengah yang dioperasikan melalui Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang, untuk mereduksi curah hujan berlebih dan meminimalkan risiko bencana susulan.
BNPB mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan lereng Gunung Slamet dan sepanjang alur sungai untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan bencana lanjutan, serta mematuhi arahan petugas di lapangan.