JAKARTA - Korban tewas akibat serangan Israel dalam pelanggaran gencatan senjata di Jalur Gaza yang disepakati tiga bulan silam tembus 400 jiwa, termasuk banyak anak-anak, menurut angka kementerian kesehatan.
Israel mengatakan serangannya – penembakan, pengeboman, dan serangan udara – ditujukan kepada Hamas dan militan lain yang menimbulkan ancaman bagi pasukannya, atau orang-orang yang bertindak mencurigakan di dekat "garis kuning" yang membagi wilayah tersebut menjadi area yang dikuasai Israel dan Hamas.
Namun, sekitar 40 persen dari 439 orang yang tewas dalam serangan Israel antara awal gencatan senjata pada 10 Oktober dan 9 Januari adalah anak-anak, kata Kementerian Kesehatan Gaza, dikutip dari The National (13/1).
Mahmoud Bassal, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, mempertanyakan pembenaran Israel atas kelanjutan serangannya.
"Jika Israel menanggapi operasi perlawanan, mengapa kita melihat pembunuhan warga sipil hampir setiap hari, terutama anak-anak, jauh dari bentrokan apa pun?" katanya.
"Israel mengklaim ini adalah respons terhadap perlawanan, tetapi itu bohong. Tidak ada perlawanan di dekat daerah-daerah ini. Israel membuat alasan untuk membunuh warga sipil dan anak-anak," tandasnya.
Sementara, keluarga yang tinggal di dekat garis kuning, garis pemisah wilayah Palestina dengan Israel di Gaza, tetap berada di bawah ancaman, sementara mereka yang jauh dari garis tersebut tidak luput dari ancaman.
Kasus terbaru terjadi pada 8 Januari di daerah Falluja, Jabalia, di Jalur Gaza utara, di mana seorang gadis muda, Hamsa Houso, tewas sekitar satu kilometer dari garis kuning.
Pamannya, Mohammad Houso, mengatakan keluarga terbangun karena teriakan.
"Saya berlari ke bawah dan menemukan Hamsa, yang baru berusia 12 tahun, tertembak di kepala," katanya.
Beberapa saat sebelumnya, pasukan Israel menembakkan tiga peluru ke daerah tersebut, diikuti oleh tembakan hebat dari kendaraan lapis baja dan drone quadcopter.
"Peluru itu mengenai kepalanya secara langsung. Ini disengaja. Teknologi Israel canggih, tidak ada yang kebetulan," kata Houso.
Ia membawa Hamsa ke pos medis terdekat, tetapi ambulans di sana tidak berfungsi. Saat tim penyelamat lain tiba, 15 menit kemudian, ia sudah meninggal.
Ia mengatakan Hamsa sangat menyukai sekolah dan bermimpi menjadi "seseorang yang hebat".
Keluarga itu sedang berjuang menghadapi hilangnya ayahnya, Nidal, yang telah hilang sejak pasukan Israel melancarkan operasi di Gaza utara lebih dari setahun yang lalu.
"Kami tidak tahu apakah dia seorang martir atau tahanan. Kami tidak tahu apa-apa," tambah Houso.
Terpisah, Fatima Ma‘rouf (11) sedang duduk di dekat tenda keluarganya di Al Atatra, di sebelah barat kota Beit Lahia di Gaza utara, ketika sebuah drone quadcopter tiba di atas kepalanya pada tanggal 3 Januari.
"Drone itu mulai menjatuhkan bom-bom kecil ke orang-orang,” kata neneknya, Amina Ma‘rouf.
"Salah satu bom itu mengenai Fatima secara langsung dan ia meninggal seketika," getir Amina.
Fatima bermimpi membangun kembali rumahnya, yang telah hancur dalam perang, menyelesaikan sekolah, dan menjadi guru sains, katanya.
Ibunya, yang terluka dalam serangan itu, masih dirawat di ruang perawatan intensif, tidak menyadari bahwa putrinya telah tewas.
"Apa kesalahan keluarga ini? Mereka bukan bagian dari faksi atau kelompok mana pun," ujar Ma‘rouf.
"Israel mengklaim perang telah berakhir, tetapi mereka terus membunuh anak-anak kami secara terang-terangan," lanjutnya.
BACA JUGA:
"Tidak ada alasan yang dapat membenarkan pembunuhan seorang anak. Namun mereka terus membunuh anak-anak kami, dan tidak ada yang menghentikan mereka," tandasnya.
Diketahui, jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 71.419, sementara 171.318 lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023, lapor WAFA Hari Senin.
Sumber medis di Gaza menyebutkan jumlah total korban tewas sejak gencatan senjata pada 10 Oktober telah meningkat menjadi 442, dan jumlah total korban luka menjadi 1.240, sementara 697 jenazah telah ditemukan.