JAKARTA - Pemerintah kembali melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem di wilayah Jakarta jelang akhir tahun 2025.
Memasuki hari keenam pelaksanaan OMC pada November 2025, tim gabungan kembali melakukan penyemaian garam (NaCl) di wilayah udara barat dan selatan Banten untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan lebat sebelum mencapai Jakarta.
Operasi yang dikoordinasikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta ini dijalankan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI Angkatan Udara (TNI AU).
"Kegiatan berpusat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, menggunakan pesawat Casa 212-400/A-211 milik TNI AU," kata Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji dalam keterangannya, Senin, 10 November.
Hari ini, tim melaksanakan tiga sortie penerbangan dengan total bahan semai mencapai 2.400 kilogram NaCl. Sortie pertama dilakukan pukul 09.10–11.26 WIB di perairan selatan Ujung Kulon pada ketinggian 8.400–8.600 kaki.
Sortie kedua berlangsung pukul 12.22–14.51 WIB di perairan selatan Ujung Kulon dan selatan Sukabumi pada ketinggian 10.000 kaki.
Sementara sortie ketiga pukul 15.38–17.00 WIB menargetkan area Lebak, Pandeglang, serta perairan barat dan selatan Banten pada ketinggian 8.000–8.500 kaki.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji menjelaskan, pola penyemaian dilakukan berlapis untuk mengoptimalkan pengendalian pertumbuhan awan hujan lebat sebelum masuk ke wilayah Jabodetabek.
BACA JUGA:
"Tim di lapangan melaksanakan tiga sortie penerbangan hari ini dengan fokus penyemaian di wilayah perairan selatan hingga barat Banten. Langkah ini merupakan bagian dari strategi mitigasi dini guna mengurai potensi awan pembawa hujan intensitas tinggi sebelum memasuki wilayah Jakarta," ujar Isnawa.
Berdasarkan hasil observasi, tim mencatat awan Cumulus Humilis dan Cumulus Congestus tumbuh di sekitar perairan Ujung Kulon dengan puncak awan 8.000–10.000 kaki pada sortie pertama. Arah angin terpantau dominan dari timur–timur laut dengan kecepatan 6–18 knot.
Pada sortie kedua, awan Cumulus Mediocris hingga Congestus berkembang di area Lebak, Pandeglang, dan perairan barat Banten dengan puncak awan mencapai 9.000–11.000 kaki. Sementara sortie ketiga menunjukkan pertumbuhan awan Cumulus Towering yang berpotensi hujan lebat di perairan selatan Banten dengan arah angin dominan barat berkecepatan 14–18 knot.
"Kami terus berkoordinasi setiap hari dengan BMKG dan TNI AU untuk menentukan titik semai paling potensial. Dengan kolaborasi ini, kami berupaya menjaga curah hujan tetap terkendali dan meminimalkan potensi genangan maupun banjir di Jakarta," jelas Isnawa.