Bagikan:

LEBAK - Tingkat pengangguran di Kabupaten Lebak, Banten, menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lebak, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2025 tercatat 7,30 persen dari total penduduk Lebak sebanyak 1.449.203 jiwa (1,45 juta jiwa).

Angka ini naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di 6,23 persen.

Statistisi Madya BPS Kabupaten Lebak Yulian Sarwo Edi menjelaskan, peningkatan jumlah angkatan kerja tidak diimbangi tersedianya lapangan kerja yang memadai.

“TPT per Agustus 2025 sebesar 7,3 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan jika dibandingkan dengan pada 2024,” ujar Yulian Sarwo Edi kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis 6 November.

Ia menambahkan, meski jumlah lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi meningkat setiap tahun, daya serap lapangan kerja masih belum memadai.

“Supply tenaga kerja terus bertambah, sementara ketersediaan lapangan kerja tidak bertambah secepat itu,” jelasnya.

Data BPS juga mencatat, kelompok yang paling terdampak pengangguran adalah lulusan SMP, sementara laki-laki memiliki tingkat pengangguran lebih tinggi karena lebih aktif mencari kerja di sektor formal.

Lulusan SMP dan dari kalangan laki-laki paling mendominasi,” tambahnya.

Untuk menurunkan angka pengangguran, BPS merekomendasikan beberapa langkah strategis bagi pemerintah daerah, yaitu menciptakan iklim investasi kondusif, terutama di sektor padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Kemudian, meningkatkan keterhubungan antara pendidikan dan dunia industri, agar lulusan sekolah bisa langsung terserap di lapangan kerja.

Mendorong masuknya investasi yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi dan memfasilitasi link and match antara pendidikan dan industri perlu menjadi fokus,” tutupnya.