Bagikan:

JAKARTA - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, meskipun pesan-pesan dipertukarkan antara Iran dan Amerika Serikat melalui perantara, hal ini tidak berarti proses negosiasi telah dimulai antara kedua belah pihak dan tidak ada pesan resmi.

Berbicara dalam jumpa pers mingguan di Teheran pada Hari Senin, Baghaei menyampaikan pernyataan tersebut menanggapi pertanyaan tentang kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht Ravanchi ke Oman pekan lalu dan apakah Ia menerima pesan dari AS selama kunjungan tersebut.

"Tidak ada pesan resmi," kata juru bicara tersebut, seraya menambahkan berbagai perantara sedang berupaya untuk mendekatkan kedua belah pihak dan pesan-pesan tersebut memang sedang disampaikan, dikutip dari IRNA 3 November.

"Namun, ini sama sekali tidak menandakan dimulainya proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat," tegasnya.

Mengenai syarat-syarat Iran untuk berdialog, Baqaei menekankan bahwa hak dan kepentingan bangsa Iran harus dihormati, dan pihak-pihak lain harus mengakui hak-hak Iran yang tidak dapat disangkal.

Ia menambahkan, Iran tidak akan secara sepihak melepaskan hak-hak sahnya dalam negosiasi apa pun.

"Jika pemahaman dan realisme tersebut tercapai, dapat dikatakan bahwa kondisinya akan mendukung dialog — tetapi saat ini, kita belum berada pada tahap itu," ujarnya, dikutip dari Fars.

Menanggapi pertanyaan tentang pernyataan Menteri Luar Negeri Iran baru-baru ini, "Iran tidak terburu-buru untuk bernegosiasi dengan AS," Baghaei mengatakan: "Ketika pihak lain mengajukan tuntutan yang berlebihan, apakah Anda akan mengizinkan negosiator Anda untuk memasuki perundingan dalam keadaan seperti itu?"

Ketika ditanya syarat apa yang harus dipenuhi agar Iran dan AS dapat memulai perundingan, Baghaei menjawab: "Kita harus ingat bahwa selama proses diplomatik, Iran diserang oleh AS, dan serangan Israel terjadi dengan kolaborasi Amerika. Rakyat Iran tidak boleh melupakan hal itu."

Juru bicara tersebut menambahkan, diskusi mengenai prinsip dan prasyarat negosiasi antara kedua belah pihak hanya dapat berlangsung jika kedua belah pihak mengakui adanya kepentingan dan kekhawatiran bersama.

Baqaei menunjukkan, Negeri Paman Sam masih bersikeras untuk mengejar tuntutan dan ambisinya secara sepihak, tanpa memperhatikan kepentingan dan kekhawatiran pihak lain.

"Pendekatan seperti itu tidak dapat berhasil dengan Iran," katanya, seraya menambahkan "karena itu bukan negosiasi, melainkan dikte."