JAKARTA - Jumlah korban tewas dalam demonstrasi antikorupsi yang dipelopori Gen Z di Nepal pekan ini melonjak menjadi 51 orang.
Para korban termasuk 21 pengunjuk rasa, sembilan tahanan, tiga personel polisi, dan 18 lainnya, ujar juru bicara Kepolisian Nepal Binod Ghimire dilansir Reuters, Jumat, 12 September.
Kondisi Nepal saat ini mulai pulih. Sementara militer Nepal melanjutkan perundingan dengan para demonstran "Gen Z" untuk memilih pemimpin sementara bagi negara Himalaya tersebut.
Perundingan dilakukan setelah demonstrasi berdarah yang menewaskan puluhan orang dan memaksa perdana menteri Nepal mengundurkan diri.
Tentara berpatroli di jalan-jalan Kathmandu yang sepi menyusul protes terburuk di ibu kota dalam beberapa dekade, yang dipicu oleh larangan media sosial yang dicabut oleh pihak berwenang.
BACA JUGA:
Mantan Ketua Mahkamah Agung Sushila Karki, perempuan pertama Nepal yang ditunjuk untuk jabatan tersebut pada tahun 2016, adalah kandidat terdepan untuk menjadi pemimpin sementara. Namanya disarankan oleh banyak pemimpin demonstrasi.
"Kami melihat Sushila Karki apa adanya — jujur, tak kenal takut, dan teguh," kata pendukungnya, Sujit Kumar Jha dilansir Reuters, Kamis, 11 September.
"Dia pilihan yang tepat. Ketika kebenaran berbicara, itu terdengar seperti Karki,” sambungnya.
Karki, 73 tahun, sudah memberikan persetujuannya, tetapi upaya sedang dilakukan untuk menemukan jalur konstitusional untuk menunjuknya, seorang sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Reuters, yang berbicara dengan syarat anonim.
Namun, ada beberapa perbedaan pendapat mengenai pencalonannya di antara para pengunjuk rasa, yang berusaha mencapai keputusan bulat, kata sumber lain.