Bagikan:

JAKARTA – Analis politik senior, Boni Hargens, mengingatkan pemerintah agar mewaspadai potensi munculnya gelombang aksi besar-besaran di Indonesia yang ia istilahkan sebagai “Jawa Spring.” Peringatan itu ia sampaikan merespons maraknya demonstrasi kolosal di sejumlah kota dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut Boni, aksi massa tersebut bukan sekadar luapan kemarahan sesaat, melainkan determinasi historis rakyat untuk mengingatkan para wakilnya di parlemen bahwa kekuasaan sejatinya milik rakyat. Ia menekankan agar wakil rakyat bersikap rendah hati dan selaras dengan kondisi kehidupan masyarakat yang telah memilih mereka.

“Sejak peristiwa penolakan kenaikan pajak di Pati, Jawa Tengah, sebetulnya sudah terlihat potensi terjadinya gelombang aksi besar yang bisa melahirkan gerakan kolosal yang boleh kita sebut ‘Jawa Spring’,” kata Boni dalam rilis pers yang diterima, Minggu 31 Agustus.

Boni menjelaskan, istilah tersebut merujuk pada “Arab Spring” di Timur Tengah pada 2010. Menurutnya, gerakan rakyat di Pati memiliki makna simbolis, mengingat daerah itu memiliki sejarah panjang dalam perlawanan terhadap rezim kolonial Belanda. Ia menilai aksi yang kian massif dan viral sejak peristiwa Pati harus menjadi perhatian serius negara.

“Dengan pola gerakan yang viral, massif, dan tak terbendung, semua institusi negara yang relevan disarankan melakukan evaluasi dan analisis yang mendalam serta segera merumuskan langkah cegah dini yang efektif. Sudah saatnya kebijakan publik berbasis pada informasi intelijen yang akurat dan obyektif,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Boni juga mengapresiasi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya pejabat publik bersikap rendah hati dan melakukan koreksi diri. Ia menilai pesan tersebut sejalan dengan semangat rakyat yang menuntut perubahan dan perbaikan.

“Pernyataan Presiden adalah bentuk renungan moral yang mendalam. Saya juga teringat ekspresi marah Wapres Gibran Rakabuming Raka saat melihat anggota DPR menari senang dengan kenaikan tunjangan beberapa waktu lalu,” tambahnya.

Boni menegaskan gerakan rakyat hari ini bukanlah gerakan sentimentil yang dipicu kemarahan sesaat, melainkan ledakan dari akumulasi keresahan yang sudah lama menumpuk. Karena itu, ia meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh pada semua sektor, baik legislatif, yudikatif, maupun eksekutif.

Ia juga mengingatkan adanya ancaman penyusupan dari kelompok penumpang gelap yang berpotensi membenturkan massa dengan aparat. “Upaya bentur-membenturkan berpotensi memperumit keadaan dan mendatangkan bencana yang lebih kompleks dan merugikan kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.