JAKARTA - Presiden Recep Tayyip Erdoğan Turki tidak akan mengizinkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan kelompoknya mendorong kawasan ke dalam bencana yang lebih besar dalam upaya memperpanjang kelangsungan politiknya.
PM Netanyahu pada Hari Senin mengatakan serangan militer terbaru ke Jalur Gaza saat akan segera dimulai, seiring dengan rencana penguasan wilayah kantong Palestina itu secara militer.
"Kami tidak akan membiarkan Netanyahu dan jaringan pembantaiannya menjerumuskan kawasan kami ke dalam bencana yang lebih besar hanya untuk memperpanjang kelangsungan politik mereka," kata Presiden Erdoğan kepada para wartawan setelah rapat Kabinet di ibu kota Ankara Hari Senin, di tengah persiapan Israel untuk melakukan pembantaian lebih lanjut dengan menduduki Jalur Gaza sepenuhnya, dilansir dari Daily Sabah 12 Agustus.
PM Netanyahu pekan lalu mengumumkan rencana untuk menguasi Jalur Gaza dengan kontrol militer. Namun, kabinet keamanannya hanya memberikan persetujuan untuk kontrol militer di wilayah Kota Gaza.
Rencana tersebut mendapat penentangan dari negara-negara di dunia, termasuk Barat, hingga organisasi dan badan internasional, menyoroti krisis kemanusiaan yang semakin mendalam di Gaza.
Presiden Erdoğan mengatakan Turki melakukan segala yang diperlukan untuk menghentikan kekejaman di Gaza, memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa gangguan.
"Kami telah mengerahkan semua sumber daya negara kami dan seluruh kapasitas diplomatik kami," jelas Presiden Erdoğan.
Ia menambahkan, Turki telah memberikan tanggapan yang paling jelas terhadap "kebiadaban dan penindasan" "negara teroris Israel" terhadap Palestina.
"Bangsa kita juga tidak akan meninggalkan Gaza sendirian," tegas Presiden Erdoğan.
Diketahui, konflik terbaru di Gaza pecah usai kelompok militan Palestina menyerang wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, menyebabkan 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera menurut perhitungan Israel, dikutip dari Reuters.
Itu dibalas Israel dengan melakukan blokade, serangan udara hingga operasi militer di wilayah Jalur Gaza.
BACA JUGA:
Israel dan kelompok militan Palestina menyepakati gencatan senjata serta pertukaran sandera dan tahanan pada 19 Januari. Setidaknya 20 dari 50 sandera yang tersisa di Gaza diyakini masih hidup. Mayoritas sandera awal telah dibebaskan melalui negosiasi diplomatik, meskipun militer Israel juga telah membebaskan beberapa sandera.
Pada 2 Maret, Israel kembali melakukan blokade total terhadap Gaza dengan dalih menekan kelompok militan Palestina untuk menyepakati gencatan senjata usulan Amerika Serikat dan pertukaran sandera-tahanan. Seiring berakhirnya kesepakatan gencatan senjata, Israel kembali menggelar operasi militer di Gaza pada 18 Maret.
Kemarin, sumber medis mengatakan total korban tewas Palestina sejak Oktober 2023 bertambah menjadi 61.499 orang, mayoritas anak-anak dan perempuan. Sedangkan jumlah korban luka-luka bertambah menjadi 153.575 orang, dikutip dari WAFA.