Bagikan:

PANGANDARAN – Upaya pelestarian Banteng Jawa (Bos javanicus) mencetak tonggak sejarah baru. Pada Minggu, 27 Juli, seekor bayi banteng betina lahir di Cagar Alam Pananjung, Pangandaran. Bayi yang diberi nama “Exploitasia” itu menjadi simbol kebangkitan spesies yang nyaris punah di tanah Jawa.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menyampaikan kabar gembira ini sebagai hasil dari program reintroduksi banteng Jawa yang baru diresmikan tujuh bulan lalu, tepatnya pada Desember 2024.

Kelahiran Exploitasia menjadi yang pertama dalam skema reintroduksi ini. Kawasan Pananjung, yang sempat kehilangan jejak banteng pada 2023, kini kembali menjadi habitat aktif bagi spesies tersebut.

Sang induk, Uchi, berasal dari Taman Safari Bogor dan merupakan salah satu dari empat banteng dewasa yang dilepasliarkan pada peresmian pusat reintroduksi. Tiga lainnya adalah Bindi dari Taman Safari Prigen, serta dua jantan—Bejo dan Senta—dari Taman Safari Gianyar.

“Kami menyambut kelahiran Exploitasia sebagai bukti nyata bahwa habitat semi-alami yang disiapkan sudah mendukung proses reproduksi alami,” ujar Direktur Jenderal KSDAE, Satyawan Pudyatmoko, dalam keteranganya diterima, Senin 4 Agustus.

Program ini dijalankan oleh BBKSDA Jawa Barat bekerja sama dengan Taman Safari Indonesia, Pemerintah Kabupaten Pangandaran, PT Star Energy Geothermal Darajat II Limited, dan masyarakat lokal. Keempat banteng hidup di area seluas 5 hektare dalam sistem semi-liar, diawasi ketat oleh sembilan petugas lapangan.

Setiap hari, tim memantau kesehatan, perilaku reproduksi, dan asupan nutrisi satwa. Program ini juga mengedepankan keragaman genetik dengan menggabungkan individu dari berbagai populasi Taman Safari.

“Nama Exploitasia dipilih langsung oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Ini mengandung harapan bahwa si kecil akan menjelajahi dan menaklukkan habitatnya,” kata Satyawan.

Exploitasia bukan hanya penanda keberhasilan teknis, melainkan lambang semangat konservasi berbasis kolaborasi dan komitmen jangka panjang. Tim medis kini memantau pertumbuhan dan kondisi induk serta anak selama 24 jam.

“Kelahiran ini menunjukkan bahwa Pangandaran tak hanya unggul sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai lokasi konservasi yang potensial,” tambah Satyawan.

Program ini menandai babak baru konservasi banteng Jawa di Indonesia. Exploitasia kini menjadi ikon baru yang membawa harapan untuk kebangkitan spesies endemik yang selama ini terancam punah.