Bagikan:

JAKARTA - Amnesty International mendesak Pemerintah sementara Suriah yang dipimpin Ahmed al-Sharaa mengusut kasus penculikan 36 perempuan dan gadis asal Alawi.

Dalam laporannya, Amnesty mengatakan penculikan itu bagian dari aksi kekerasan dan pembantaian di jantung wilayah pesisir Alawi, Suriah pada Maret 2025.

Kelompok hak asasi manusia (HAM) tersebut mendorong pertanggungjawaban para pelaku di tengah ketidakstabilan yang berkelanjutan setelah penggulingan rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024.

“Komunitas Alawi, yang telah hancur akibat pembantaian sebelumnya, sangat terguncang oleh gelombang penculikan ini. Perempuan dan anak perempuan takut meninggalkan rumah atau berjalan sendirian,” kata Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard, Senin 28 Juli, dikutip dari AFP.

Amnesty memperkirakan sebanyak 1.700 orang, sebagian besar warga sipil Alawi, tewas dalam kejadian tersebut.

Sebuah komite yang menyelidiki kekerasan tersebut pekan lalu mengatakan belum menerima laporan penculikan yang melibatkan perempuan atau anak perempuan.

Dalam perjalanan pengusutan kejadian ini, Amnesty mencatat delapan kasus penculikan di Provinsi Latakia, Tartus, Homs, dan Hama sejak Februari 2025.

Dalam dua kasus dalam kejadian ini, para pejabat dilaporkan menyalahkan keluarga korban. Hanya dua dari delapan perempuan dan anak perempuan yang diculik telah kembali ke rumah.

Sementara keluarga korban yang melaporkan kekerasan ini tidak mendapatkan respons maksimal dari pihak berwenang lantaran investigasi dianggap tidak tuntas.