Bagikan:

JAKARTA – Satu desa kecil di pulau terpencil Akuseki, Prefektur Kagoshima, Jepang, terpaksa dievakuasi setelah diguncang lebih dari 1.000 gempa bumi dalam kurun waktu kurang dari dua minggu. Perintah evakuasi dikeluarkan pada hari Kamis setelah pulau tersebut dilanda gempa berkekuatan magnitudo 5,5, menurut Badan Meteorologi Jepang.

Pulau Akuseki adalah bagian dari rangkaian Pulau Tokara di selatan wilayah Kyushu, yang telah diguncang 1.031 gempa berkekuatan 1 atau lebih sejak 21 Juni. Terletak di "Cincin Api" Pasifik, Jepang memang salah satu negara yang paling rawan gempa di dunia. Evakuasi serupa di Toshima juga pernah dilakukan pada Desember 2021 setelah gempa kuat mengguncang Akuseki.

Sementara, pusat gempa terbaru berada di lepas pantai dengan kedalaman sekitar 20 km. Meskipun getaran tidak memicu peringatan tsunami dan tidak ada laporan kerusakan infrastruktur, pihak berwenang memutuskan untuk mengevakuasi 89 penduduk desa Toshima dari pulau tersebut, seperti dilaporkan oleh NKH World

Melansir The Independent, Sabtu, 5 Juli, para penduduk berangkat menggunakan kapal, menuju pelabuhan di Kagoshima di lepas pantai selatan Jepang, tempat mereka diharapkan untuk tinggal di akomodasi sementara. Desa Toshima sendiri terdiri dari tujuh pulau berpenghuni. Kelompok pertama sudah berangkat pada Jumat dini hari dari Pelabuhan Naze di Pulau Amami Oshima, 120 km selatan Akuseki.

Kapal feri singgah di ketujuh pulau berpenghuni di desa tersebut dan tiba di pelabuhan Kagoshima Jumat malam. Total populasi gabungan pulau-pulau berpenghuni tersebut adalah 668 jiwa per Juni. Para pengungsi akan tinggal di fasilitas penginapan yang diatur oleh desa. Pejabat mengatakan evakuasi bisa berlangsung sekitar seminggu karena orang-orang dari pulau lain di wilayah tersebut juga dapat diminta untuk sementara meninggalkan rumah mereka karena aktivitas seismik yang terus-menerus.

Rumor Gempa Hebat Meredupkan Pariwisata Jepang

Di tengah aktivitas seismik yang meningkat ini, pariwisata Jepang sedang dihadapkan pada tantangan lain. Rumor viral tentang bencana yang akan datang, yang berasal dari prediksi buku komik, telah meredupkan lonjakan pariwisata Jepang. Banyak pengunjung dari wilayah tetangga membatalkan rencana perjalanan mereka.

Steve Huen dari agen perjalanan EGL Tours di Hong Kong menyalahkan banyaknya prediksi di media sosial yang terkait dengan manga berjudul "The Future I Saw". Manga ini, pertama kali diterbitkan pada tahun 1999 dan diterbitkan ulang pada tahun 2021, menggambarkan mimpi gempa bumi dan tsunami besar yang melanda Jepang dan negara-negara tetangga pada Juli 2025.

"Rumor tersebut memiliki dampak yang signifikan," kata Huen kepada Reuters, menambahkan bahwa perusahaannya telah melihat bisnis terkait Jepang menurun hingga separuhnya. Ia menyebut diskon dan pemberian asuransi gempa tak bisa menaikkan perjalanan ke Jepang yang turun hingga nol.