Bagikan:

JAKARTA - Pejabat senior Rusia memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak membantu Israel dalam konfliknya dengan Iran.

Israel melancarkan serangan ke Iran pada Jumat dinihari pekan lalu, menargetkan sasaran fasilitas militer dan nuklir.

Iran membalas serangan itu dengan menargetkan sejumlah sasaran di kota-kota Israel. Saling serang kedua negara terus berlanjut hingga Rabu.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkow memperingatkan, bantuan militer langsung AS ke Israel dapat secara radikal mengacaukan situasi di Timur Tengah.

Berbicara di sela-sela Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) 20215, Wamenlu Ryabkov mengatakan kepada kantor berita Interfax, Moskow mendesak Washington untuk menahan diri dari keterlibatan langsung.

"Ini akan menjadi langkah yang secara radikal akan mengganggu seluruh situasi," Interfax mengutip pernyataan Ryabkov, dan mengkritik "opsi spekulatif dan dugaan" seperti itu, seperti dilansir dari Reuters 18 Juni.

Sumber yang mengetahui diskusi internal Amerika Serikat mengatakan, Presiden Donald Trump dan timnya sedang mempertimbangkan opsi termasuk bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap situs nuklir Iran.

Sementara itu, kepala dinas intelijen luar negeri SVR Rusia Sergei Naryshkin, mengatakan, situasi antara Iran dan Israel kini kritis, sedangkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova mengatakan serangan Israel terhadap infrastruktur nuklir Iran berarti dunia berada "hanya beberapa milimeter" dari bencana.

"Fasilitas nuklir tengah diserang," katanya kepada Reuters, seraya menambahkan pengawas keselamatan nuklir PBB telah mencatat kerusakan tertentu.

"Mana (kekhawatiran) seluruh masyarakat dunia? Di mana semua pencinta lingkungan? Saya tidak tahu apakah mereka berpikir mereka jauh dan gelombang (radiasi) ini tidak akan mencapai mereka. Baiklah, biarkan mereka membaca apa yang terjadi di Fukushima," katanya, merujuk pada kecelakaan tahun 2011 di pabrik nuklir Jepang.

Israel Defense Forces (IDF) mengonfirmasi, serangan pada Hari Jumat lantaran memiliki cukup uranium yang diperkaya untuk membuat beberapa bom dalam beberapa hari, sehingga perlu bertindak, dikutip dari The Times of Israel.

Israel diketahui menargetkan tiga fasilitas nuklir kunci Iran di Natanz, Isfahan dan Fordow, serta sejumlah ilmuwan yang terkait riset dan pengembangan nuklir Iran, seperti melansir CNN.

Teheran sendiri mengatakan berhak atas tenaga nuklir yang damai, membantah tengah mengembangkan senjata nuklir. Tetapi, program pengayaan uraniumnya yang berkembang pesat telah menimbulkan kekhawatiran di Barat dan di seluruh Teluk, negara itu ingin mengembangkan senjata nuklir.

Rusia diketahui menandatangani kemitraan strategis dengan Iran pada Bulan Januari, serta memiliki hubungan dengan Israel. Tawaran Rusia untuk menjadi penengah dalam konflik Israel-Iran belum diambil.

Dalam pakta kemitraan strategis selama 20 tahun yang ditandatangani pada Bulan Januari oleh Presiden Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Rusia tidak berjanji untuk membantu Teheran secara militer dan tidak berkewajiban untuk melakukannya, meskipun kedua negara memiliki hubungan militer yang erat.