JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meluncurkan Benyamin S Award berupa lomba penataan kelurahan-kelurahan di Jakarta menjadi lebih bersih, nyaman, indah, dan sejahera.
Pada ajang kompetisi ini, semua kelurahan di Jakarta diberi waktu melakukan penataan sejak bulan Juni hingga penentuan pemenang diumumkan pada 31 Oktober mendatang.
Sebagai bentuk apresiasi, Pramono berjanji akan menghadiahkan pemenang Benyamin S Award dari 267 kelurahan yang dilombakan untuk berkunjung ke luar negeri.
Hadiah ini diharapkan bisa menumbuhkan inspirasi bagi kelurahan di Jakarta untuk lebih memajukan wilayahnya masing-masing.
"Kalau kemudian ini berjalan dengan baik Bahkan juaranya akan saya berikan kesempatan Untuk memilih melihat kota dunia yang paling besar di dunia," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa, 3 Juni.
"Ini untuk membuka wawasan baru apakah pergi ke London, ke New York, ke Tokyo, ke Shanghai, ke Beijing. Untuk membuka wawasan bahwa yang namanya dunia ini sekarang tidak hanya sekotak kecil. Jangankan pergi ke mana saja, pergi ke bulan pun saya izinkan," tambahnya.
Pramono berujar, latar belakang dirinya mengadakan Benyamin S Award adalah proyeksi pembangunan Jakarta yang digadang-gadang menjadi kota global, seiring dengan rencana perpindahan Ibu Kota ke Nusantara.
Selain itu, Jakarta juga akan mencapai usia 500 tahun pada 22 Juli 2027 mendatang. Sehingga, menurut Pramono, Jakarta perlu berbenah agar bisa bersaing pada skala global.
"Mudah-mudahan Benyamin S. Award ini tidak hanya di era pemerintahan kami, akan ada selamanya karena ini menjadi ukuran keberhasilan sebuah kota, terutama adalah kota Jakarta sebagai kota global. Mudah-mudahan segera naik kelas. Yang sekarang ini ranking 74 dalam pemerintahan kami, 5 tahun mudah-mudahan bisa top 50 di dunia," papar Pramono.
BACA JUGA:
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkap alasan kompetisi untuk 267 kelurahan ini diberi nama dari tokoh Betawi Benyamin Sueb.
Rano menyebut, wacana ini muncul sejak masa kampanye Pilkada 2024. Sebagai orang yang mengenal dekat Benyamin karena sama-sama bermain di sinetron Si Doel Anak Sekolahan, Rano menilai pemerintah perlu memberi penghargaan kepada Benyamin lewat kompetisi ini.
"Saya bilang (ke Pramono), 'Mas ini kalau gini insyaallah, Allah ijabah, boleh juga nih kita pakai nama dia, supaya abadi'. Karena inilah istilahnya gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama," jelas Rano.