Bagikan:

JAKARTA - Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney, bekerja sama dengan PT. Bank HSBC Indonesia dan Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Sydney menyelenggarakan forum bisnis bertajuk "Indonesia Updates 2025: Green Investment" di Rydges World Square Sydney, Australia, Rabu (21/5).

Acara tahunan ini merupakan forum bertukar pikiran dan best practices di antara para profesional khususnya di bidang ekonomi, perdagangan, dan investasi, dengan perwakilan pemerintah baik Indonesia maupun Australia.

Duta Besar RI untuk Australia Dr. Siswo Pramono dalam sambutan pembukaannya menyampaikan, sejalan dengan Asta Cita yang digaungkan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Indonesia dan Australia berkomitmen terhadap investasi hijau di tengah-tengah tantangan ekonomi global, dengan memprioritaskan transisi energi, pengembangan infrastruktur dan industri berkelanjutan, dikutip dari keterangan KJRI Sydney, Jumat (23/5).

Sebelumnya, dalam kunjungan ke Jakarta pada 14 Mei 2025 lalu, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Presiden Prabowo menyambut peluang ekonomi dalam transisi global menuju Net-Zero Emission 2050, mengumumkan inisiatif baru, termasuk "KINETIK Fund for Green Infrastructure" sebesar 50 juta dolar Australia, yang diluncurkan di bawah Australia-Indonesia Climate and Infrastructure Partnership.

forum bisnis kjri sydney
Forum bisnis Indonesia Updates 2025: Green Investment

Sementara itu, CEO HSBC Australia dan Selandia Baru Anthony Shaw mengatakan, hubungan yang istimewa antara Indonesia dan Australia, serta potensi untuk meningkatkan perdagangan dan investasi bilateral antara kedua negara.

Ia juga mengutip adanya peningkatan aliran investasi asing ke Indonesia, menyampaikan investasi dari Australia berpotensi untuk mendukung pembangunan infrastruktur Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.

Pada gilirannya, Utusan Khusus Pemerintah Australia untuk Asia Tenggara Nicholas Moore menyoroti pentingnya hubungan ekonomi antara Australia dan Asia Tenggara, khususnya dalam transisi menuju energi bersih.

Meskipun kawasan ini hanya menerima 2 persen dari investasi energi bersih global, Asia Tenggara memiliki potensi besar dan membutuhkan investasi hingga 190 miliar dolar AS pada 2035.

Indonesia sendiri menargetkan peningkatan signifikan dalam porsi energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan.

Dengan keunggulan sektor swasta, kapasitas investasi dan institusi pendidikan yang kuat, Australia diposisikan sebagai mitra strategis dalam mendorong transformasi hijau di kawasan.

Strategi DFAT, yang mencakup 10 sektor prioritas dan 75 rekomendasi, memberikan langkah konkret untuk memperkuat perdagangan, membangun kapabilitas dan meningkatkan kerja sama bisnis demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Indonesia sendiri tengah menunjukkan tren pertumbuhan investasi hijau, dengan mayoritas investasi berasal dari Jepang dan Uni Eropa.

Dalam hal investasi hijau, Australia telah lama berkecimpung di berbagai sektor riil, termasuk agrikultur, kesehatan, pertambangan, dan pendidikan. Dampak investasi tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di berbagai bidang. Meskipun sektor energi telah berkembang pesat, masih terdapat peluang besar untuk memperluas investasi hijau ke sektor lain, termasuk kesehatan.