YOGYAKARTA - Sering kita mendengar ungkapan "Adab di atas ilmu", namunapakah Anda tahu makna mendalam di balik frasa tersebut?
Artikel ini akan mengupas tuntas arti dan makna dari adab di atas ilmu, dan menjelaskan mengapa karakter dan perilaku luhur menjadi fondasi utama dalam setiap aspek kehidupan, bahkan sebelum ilmu itu sendiri.
Pengertian Adab Diatas Ilmu
Dilansir dari laman NU Online, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari mengemukakan pandangan ulama bahwa adab adalah puncak dari tauhid, iman, dan syariat.
Tauhid, iman, dan syariat tidak bisa dipisahkan dalam membentuk adab yang luhur. Oleh karena itu, individu yang beradab umumnya mampu menjalankan syariat, keimanan, dan ketauhidan dengan benar.
Namun, belakangan ini, ungkapan "Al-Adab Fauqal Ilmi" atau adab lebih utama daripada ilmu sering disalahpahami. Banyak yang cenderung meniru gaya berpakaian, cara berbicara, bahkan gaya hidup tokoh alim dan berakhlak yang mereka kagumi, tanpa memahami proses di balik kemuliaan akhlak dan keilmuan sosok tersebut.
Fenomena dalam masyarakat ini kerap membuat sebagian orang lebih tertarik menghadiri majelis shalawatan, haul, khataman Al-Quran, pembacaan manaqib, dan acara-acara seremonial lainnya, meski jaraknya jauh.
Baca juga artikel yang membahas Keajaiban Membaca Al Qur'an setiap Hari dari Ganjaran Berlimpah hingga Wajah yang Cerah
Padahal, ada majelis ilmu di dekat rumah mereka yang diasuh oleh kiai atau ustaz setempat. Bahkan, ada sebagian kecil yang sampai mengabaikan orang tua sendiri demi mengikuti majelis-majelis populer tersebut.
Jika kesalahpahaman ini terus berlanjut, masyarakat akan menghadapi ancaman nyata, yaitu menjauhnya mereka dari ilmu. Padahal, keberlangsungan Islam beserta segala manifestasinya selalu ditopang oleh kekuatan ilmu. Ibaratnya, segala bentuk ibadah tidak akan sah jika dilaksanakan tanpa ilmu.
Adab dan Ilmu dalam Islam
Dilansir dari laman Dompet Dhuafa, hubungan erat antara adab dan ilmu merupakan pilar fundamental dalam ajaran Islam.
Sejak awal penciptaan, Allah SWT telah menetapkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 30. Untuk mengemban amanah ini, manusia dianugerahi akal, sebuah karunia yang memungkinkan mereka untuk berpikir, belajar, dan menggali ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, dan mereka yang berilmu diberikan keutamaan yang besar oleh Allah.
Adab Sebagai Penyeimbang Ilmu
Meski ilmu memiliki kedudukan mulia, Islam juga menekankan pentingnya adab dalam setiap proses pencarian ilmu. Ilmu yang tidak diimbangi dengan adab akan kehilangan keberkahannya dan berpotensi menjerumuskan pemiliknya pada sifat-sifat tercela seperti kesombongan, takabur, dan ujub.
Adab berfungsi sebagai benteng yang menjaga seorang berilmu agar tetap rendah hati dan mengamalkan ilmunya dengan cara yang benar.
Selain itu, adab juga menjadi penuntun menuju hakikat dan keberkahan ilmu yang sejati. Pentingnya adab ini bahkan disuarakan oleh Imam Syafi'i, yang menyatakan bahwa "Belajar satu bab adab lebih baik daripada belajar 70 bab ilmu."
Dengan demikian, konsep "adab di atas ilmu" bukanlah sekadar pepatah, melainkan sebuah prinsip yang tercermin dalam berbagai riwayat dan nasihat para ulama.
Imam al-Ghazali, dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, berulang kali menegaskan signifikansi adab. Ia menggambarkan ilmu tanpa adab ibarat api tanpa bahan bakar, tidak memberikan manfaat yang berarti.
Dalam perspektif Islam, adab adalah aktualisasi nyata dari ilmu yang dimiliki seseorang. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang berilmu namun tidak memiliki akhlak atau adab yang baik, sesungguhnya belum dapat dikatakan benar-benar berilmu. Adab adalah cerminan dari kedalaman dan kebermanfaatan ilmu itu sendiri.
Selain adab diatas ilmu, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Ingin tahu informasi menarik lainnya? Jangan ketinggalan, pantau terus kabar terupdate dari VOI dan follow semua akun sosial medianya!