Bagikan:

JAKARTA - Para pemimpin Inggris, Kanada dan Prancis mengancam sanksi terhadap Israel pada Hari Senin, jika negara itu tidak menghentikan serangan militer baru di Jalur Gaza dan mencabut pembatasan bantuan, yang semakin menekan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Militer Israel mengumumkan dimulainya operasi baru pada Hari Jumat, sementara PM Netanyahu pada Hari Senin mengatakan Israel akan menguasai seluruh Gaza.

Di sisi lain, para pakar internasional telah memperingatkan tentang kemungkinan bencana kelaparan.

"Penolakan Pemerintah Israel atas bantuan kemanusiaan penting bagi penduduk sipil tidak dapat diterima dan berisiko melanggar Hukum Kemanusiaan Internasional," kata pernyataan bersama yang dirilis oleh pemerintah Inggris, melansir Reuters 20 Mei.

"Kami menentang segala upaya untuk memperluas permukiman di Tepi Barat. Kami tidak akan ragu untuk mengambil tindakan lebih lanjut, termasuk sanksi yang ditargetkan," tambah pernyataan itu.

Israel telah memblokir masuknya pasokan medis, makanan dan bahan bakar ke Gaza sejak awal Maret untuk mencoba menekan Hamas, agar membebaskan para sandera yang disandera kelompok militan Palestina tersebut pada 7 Oktober 2023, ketika kelompok itu menyerang komunitas Israel.

"Kami selalu mendukung hak Israel untuk membela warga Israel dari terorisme. Namun, eskalasi ini sama sekali tidak proporsional," kata ketiga pemimpin Barat tersebut dalam pernyataan bersama.

Mereka mengatakan tidak akan tinggal diam sementara Pemerintah PM Netanyahu melakukan "tindakan mengerikan ini."

Mereka menyatakan dukungan mereka terhadap upaya yang dipimpin oleh Amerika Serikat, Qatar dan Mesir untuk gencatan senjata segera di Gaza, dan mengatakan berkomitmen untuk mengakui negara Palestina sebagai bagian dari solusi dua negara untuk konflik tersebut.

Hamas menyambut baik pernyataan bersama tersebut dan menggambarkan sikap tersebut sebagai "langkah penting" ke arah yang benar menuju pemulihan prinsip-prinsip hukum internasional.

Konflik terbaru di Jalur Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, saat kelompok militan Palestina yang dipimpin Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya, menurut perhitungan Israel.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas diikuti pembebasan sandera-tahanan disepakati kedua belah pihak dan berlaku sejak 19 Januari. Itu berakhir pada Bulan Maret dengan Israel melanjutkan serangannya pada 18 Maret.

Kemarin, otoritas kesehatan Gaza mengonfirmasi jumlah korban tewas Palestina akibat serangan Israel telah mencapai 53.486 jiwa, serta korban luka-luka mencapai 121.398 orang, mayoritas perempuan dan anak-anak, dikutip dari WAFA.

Sementara, jumlah korban tewas sejak Israel memulai kembali serangan pada 18 Maret telah mencapai 3.340 orang, sedangkan korban luka-luka mencapai 9.357 orang.