Bagikan:

JAKARTA - Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) memperingatkan pada Hari Minggu, situasi di Jalur Gaza telah memburuk secara signifikan selama dua bulan terakhir karena blokade Israel dan penolakan bantuan kemanusiaan.

UNICEF mengatakan dalam unggahan di akun Twitter-nya, anak-anak di Jalur Gaza telah menghadapi pemboman Israel yang tiada henti dan kehilangan barang-barang penting, layanan, dan perawatan yang menyelamatkan nyawa sejak dimulainya perang pemusnahan di Jalur tersebut.

UNICEF menekankan perlunya mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza dan segera melanjutkan gencatan senjata, dikutip dari WAFA 19 Januari.

UNICEF menegaskan, "situasi di Jalur Gaza telah memburuk secara signifikan selama dua bulan terakhir karena blokade dan penolakan bantuan kemanusiaan."

Diketahui, Israel menutup semua penyeberangan ke Gaza, mencegah masuknya bantuan kemanusiaan apa pun sejak 2 Maret. Israel mengklaim itu dilakukan untuk menekan kelompok militan Palestina Hamas menerima gencatan senjata dan membebaskan seluruh sandera.

Konflik terbaru di Jalur Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, saat kelompok militan Palestina yang dipimpin Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya, menurut perhitungan Israel, dikutip dari Reuters.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas diikuti pembebasan sandera-tahanan disepakati kedua belah pihak dan berlaku sejak 19 Januari. Itu berakhir pada Bulan Maret dengan Israel melanjutkan serangannya pada 18 Maret.

Kemarin, otoritas kesehatan Gaza mengonfirmasi jumlah korban tewas Palestina akibat serangan Israel telah mencapai 53.486 jiwa, serta korban luka-luka mencapai 121.398 orang, mayoritas perempuan dan anak-anak.

Sementara, jumlah korban tewas sejak Israel memulai kembali serangan pada 18 Maret telah mencapai 3.340 orang, sedangkan korban luka-luka mencapai 9.357 orang.