JAKARTA – Pengamat ekonomi Unpad, Ina Primiana menilai, cita-cita kemandirian dan keberlanjutan energi bisa terwujud dengan merujuk kepada kelapa sawit yang berpotensi besar sebagai bahan baku bahan bakar minyak (BBM) di masa depan.
“Kalau menurut saya, yang berpotensi untuk BBM itu dari kelapa sawit. Sekarang, 67 persen dari kelapa sawit itu, sudah jadi produk olahan. Salah satunya BBM,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Minggu 11 Mei.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam acara Halalbihalal Purnawirawan TNI AD, di Jakarta, Selasa 6 Mei lalu menyatakan tekad pemerintahannya untuk meraih kemandirian BBM dalam lima tahun yang akan datang.
Menurut Ina, untuk mencapai target swasembada BBM berbasis kelapa sawit dalam lima tahun ke depan, diperlukan data yang akurat dan menyeluruh serta pentingnya pemetaan produksi, kebutuhan dalam negeri, dan volume ekspor kelapa sawit secara terperinci.
“Nah, untuk mencapai lima tahun itu, perlu ada data tentang berapa banyak produksi kelapa sawit kita, terus untuk apa. Berapa yang diekspor? Berapa untuk kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.
Karena itu, dia mengingatkan agar perhitungan dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi saat ini dan proyeksi lima tahun ke depan.
Ina menegaskan, meski menjadi salah satu produsen terbesar, Indonesia masih harus mempertimbangkan banyak aspek, termasuk posisi negara lain seperti Malaysia.
“Kebijakan pemerintah dalam menjaga kesinambungan produksi kelapa sawit, termasuk melalui proses replanting dan penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir juga penting. Jadi, tergantung kebijakan pemerintah untuk menjaga itu dari hulu ke hilir. Untuk mau semuanya, rantai pasoknya itu juga harus dijaga,” ujar Ina.
BACA JUGA:
Dia menilai, target Presiden Prabowo sangat penting untuk ditindaklanjuti.
Apalagi, lanjutnya, Indonesia sudah mengalami defisit BBM sejak 2004.
Saat ini, 56 persen atau sekitar 284 juta barel pasokan BBM Indonesia diperoleh dari impor.
“Jika rata-rata harga minyak dunia di kisaran 70 US dollar per barel, maka kita menghabiskan hampir 20 miliar dolar AS, atau setara dengan sekitar 9 persen APBN. Karena itu, untuk mencapai target kemandirian energi juga perlu mencari sumber BBM alernatif,” kata Ina.