JAKARTA - Rusia memiliki kemampuan yang cukup untuk berhasil menyelesaikan operasi militer khusus di Ukraina tanpa menggunakan senjata nuklir, kata Presiden Vladimir Putin dalam percakapan dengan jurnalis Pavel Zarubin.
Itu disampaikannya dalam tayangan dokumenter televisi pemerintah tentang seperempat abad Presiden Putin menjadi pemimpin tertinggi Rusia yang berjudul "Rusia, Kremlin, Putin, 25 tahun", ketika ditanya mengenai risiko eskalasi nuklir dari perang Ukraina.
"Mereka ingin memprovokasi kita, ingin kita membuat kesalahan," katanya, melansir TASS 5 Mei.
"Dan tidak perlu menggunakan senjata (nuklir) yang Anda sebutkan. Saya harap itu tidak perlu," tambahnya.
"Kita memiliki kemampuan dan sarana yang cukup untuk menyelesaikan apa yang kita mulai pada tahun 2022 dengan hasil yang dibutuhkan Rusia," tandas Presiden Putin.
Sebelumnya, Rusia telah berulang kali menegaskan pendiriannya, penggunaan senjata nuklir akan menjadi pilihan terakhirnya. Pada Bulan November, Presiden Putin telah menyetujui doktrin nuklir Rusia yang diperbarui.
Diketahui, PresidenPutin memerintahkan ribuan tentara Rusia ke Ukraina pada bulan Februari 2022, yang memicu konflik darat terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua dan konfrontasi terbesar antara Moskow dan Barat sejak Perang Dingin, dikutip dari Reuters.
Ratusan ribu tentara telah tewas atau terluka di kedua belah pihak sejak perang pecah.
BACA JUGA:
Putin, mantan letnan kolonel KGB yang diangkat menjadi presiden pada hari terakhir tahun 1999 oleh Boris Yeltsin yang sedang sakit, adalah pemimpin Kremlin yang menjabat paling lama sejak Josef Stalin, yang memerintah selama 29 tahun hingga wafat pada tahun 1953.
Para pembangkang Rusia melihat Putin sebagai seorang diktator yang telah membangun sistem pemerintahan pribadi yang rapuh yang bergantung pada penjilatan dan korupsi yang membawa Rusia menuju kemunduran dan kekacauan.
Di sisi lain, pendukungnya menganggap Putin, yang menurut para jajak pendapat Rusia memiliki peringkat persetujuan di atas 85 persen, sebagai penyelamat yang melawan Barat yang arogan dan mengakhiri kekacauan yang menyertai disintegrasi Uni Soviet tahun 1991.