JAKARTA - Mendiang Pemimpin Gereja Katolik Dunia Paus Fransiskus menjalani hari terakhirnya dengan bekerja, meski dokter memerintahkannya beristirahat setelah keluar dari rumah sakit, bertemu dengan pemimpin negara asing hingga berpesan untuk perdamaian di Jalur Gaza.
Setelah menghabiskan lebih dari lima minggu di rumah sakit karena radang paru-paru ganda, dokter memberi tahu Paus Fransiskus jika dirinya perlu istirahat dua bulan.
Namun, pemimpin 1,4 miliar umat Katolik di dunia itu terus bekerja sampai akhir. Pada Minggu Paskah, sehari sebelum wafat di usia 88 tahun, Paus Fransiskus membuat penampilan publik pertamanya yang panjang sejak Februari, memasuki Lapangan Santo Petrus di Vatikan dengan mobil kepausan berwarna putih.
Dalam penampilan publik terakhirnya, pada Hari Minggu, Ia hanya hanya mengucapkan beberapa patah kata, mengucapkan selamat Paskah dengan suara serak kepada sekitar 35.000 orang yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, dikutip dari Reuters 22 April.
Saat Ia berkeliling alun-alun dengan mobil Paus pada Hari Minggu, orang-orang berbaris di lorong untuk mendekatinya, banyak yang mengibarkan bendera nasional dan meneriakkan "viva il Papa!" (hidup Paus!).
Dalam pesan Paskah yang dibacakan oleh seorang ajudan, Paus Fransiskus mengulangi seruannya mengenai gencatan senjata di Jalur Gaza, menyebut situasi kemanusiaan di daerah kantong Palestina itu "menyedihkan".
Paus juga meminta kelompok militan Palestina Hamas untuk membebaskan para sandera yang tersisa, mengutuk apa yang disebutnya sebagai tren antisemitisme yang "mengkhawatirkan" di dunia.
Pastor Gabriel Romanelli, dari paroki Gaza yang sering dikunjungi Paus selama perang Israel-Hamas, mengatakan kepada Vatican News: "Paus menelepon kami untuk terakhir kalinya pada Sabtu malam, sesaat sebelum Misa Malam Paskah dimulai, saat kami sedang berdoa Rosario. Ia memberi tahu kami bahwa ia berdoa untuk kami, ia memberkati kami, dan ia berterima kasih atas doa-doa kami untuknya."
Bagi seseorang yang sedang dalam masa pemulihan setelah sakit yang berkepanjangan, Paus Fransiskus bekerja keras.
Sejak kembali dari rumah sakit, Paus Fransiskus mendapatkan perawatan 24 jam dari seorang perawat, kata Vatikan sebelumnya.
Paus menerima oksigen melalui selang kecil di bawah hidungnya sepanjang malam dan pada siang hari sesuai kebutuhan.
Kardinal Michael Czerny, pejabat senior Vatikan yang dekat dengan Fransiskus mengatakan, menurutnya Paus Fransiskus tidak memaksakan diri secara tidak bertanggung jawab dan perlu bergerak.
"Istirahat total bukanlah penyembuhan," kata Czerny.
"Dia menyeimbangkan masa pemulihan dengan jabatannya sebagai Uskup Roma," lanjutnya.
Czerny mengatakan, Paus mengabdikan dirinya untuk pekerjaannya memimpin umat Katolik di seluruh dunia.
Mengutip instruksi yang sering diberikan Fransiskus kepada para uskup Katolik untuk memastikan mereka dekat dengan umatnya, Czerny berkata: "Dia meninggal dengan bau domba di tubuhnya."
Juga pada Hari Minggu, Paus Fransiskus menerima pemimpin asing di kediamannya untuk pertemuan singkat, yakni dengan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dan Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic.
"Saya senang melihatnya kemarin, meskipun Ia jelas sakit," tulis Wapres Vance di X.
"Semoga Tuhan mengistirahatkan jiwanya," lanjutnya.
Sedangkan PM Plenkovic yang ditemani keluarganya ketika bertemu Paus menuliskan dalam sebuah pernyataan Hari Senin, "Itu adalah momen yang singkat, tetapi sangat menyentuh, pertemuan yang penuh kebaikan, senyuman dan berkat."
Sementara itu, Austen Ivereigh, penulis penulis biografi Paus Fransiskus yang juga menulis buku bersama Paus pada tahun 2020, mengatakan Paus "mendengarkan dengan saksama nasihat dokternya tetapi prioritas utamanya adalah misinya untuk hadir."
Fransiskus, kata Ivereigh, adalah "ahli dalam mengatur waktu."
"Dia memastikan kita memiliki seorang Paus untuk Paskah dan terus menjalankan misinya untuk hadir sampai akhir," katanya.
BACA JUGA:
Diketahui, Vatikan pada Senin malam mengumumkan Paus Fransiskus karena stroke dan kemudian mengalami serangan kardiovaskular yang tidak dapat disembuhkan.
Kardinal Kevin Farrell, yang mengumumkan kematian tersebut di saluran TV Vatikan pada Senin pagi, mengatakan Paus Fransiskus meninggal pada pukul 7:35 pagi waktu setempat.
Menteri Urusan Keluarga Italia Eugenia Roccella mengatakan, Paus Fransiskus telah memberikan segalanya, sampai akhir.
Paus, katanya dalam sebuah pernyataan, "memilih untuk tidak mengasihani dirinya sendiri, menyampaikan dalam penderitaannya, kedekatan fisiknya, sebuah pesan tentang seluruh kepausannya."