JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut dirinya akan menggandeng lembaga independen internasional untuk mengaudit keuangan Bank DKI. Hal ini sehubungan dengan kebocoran dana Bank DKI yang mengakibatkan gangguan layanan.
"Kami sudah meminta kepada lembaga independen yang internasional, biar disebutkan oleh direksi Bank DKI, untuk melakukan audit, tracing, monitoring, (aliran dana) ke mana saja," kata Pramono di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu, 9 April.
Selain itu, Pramono juga memerintahkan Bank DKI untuk mengambil jalur hukum dengan melaporkan kasus kebocoran dana bank pembangunan daerah (BPD) tersebut ke Bareskrim Polri.
"Tentunya, selain Bank DKI, bareskrim pasti akan segera mengetahui ini. Karena yang namanya apapun tentang jejak digital uang lari ke mana saja. Dalam sistem sekarang pasti kelihatan," urai Pramono.
Pramono menyebut kasus serupa bukan terjadi pertama kali. Walau begitu, Pramono menegaskan dana yang bocor bukan milik nasabah Bank DKI. Dana nasabah masih dalam keadaan aman. Dana tersebut merupakan deposito atau dana cadangan milik Bank DKI yang disimpan di bank himbara lain.
"Sama sekali tidak ada dampak kepada nasabah, karena yang diganggu itu adalah rekeningnya Bank DKI yang ada di Bank BNI. Sehingga dengan demikian, sebenarnya kepada nasabah tidak ada gangguan sama sekali," tutur Pramono.
Jajaran direksi Bank DKI telah menghadap Pramono dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno pada Selasa, 8 April lalu untuk menjelaskan persoalan gangguan layanan.
Dari laporan direksi atas pendalaman masalah tersebut, Pramono memutuskan untuk memecat Direktur Teknologi dan Operasional Bank DKI Amirul Wicaksono dari jabatannya.
"Diambil tindakan kepada Direktur IT. Karena sudah berulang kali, ini yang ketiga kali. Dibebastugaskan. Jabatan itu dirangkap oleh Direktur Umum dan mulai berlaku kemarin," jelas Pramono.
Sejak 29 Maret lalu, sistem pengamanan internal bank DKI secara otomatis mendeteksi adanya gangguan dan langsung mengaktifkan fitur pemeliharaan sistem keamanan.
Aktivasi pemeliharaan sistem tersebut berdampak pada masalah yang dialami nasabah, seperti tak bisa melakukan transfer antarbank dan transaksi pembayaran menggunakan QRIS lewat aplikasi JakOne Mobile.
BACA JUGA:
Saat ini, pemulihan sistem masih berjalan. Saat ini nasabah sudah bisa bertansaksi lewat 750 unit ATM yang beroperasi dan tersebar di berbagai titik di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Termasuk di kantor kelurahan dan kecamatan, pusat perbelanjaan, stasiun, terminal, dan lokasi-lokasi publik lainnya.