JAKARTA - Para menteri luar negeri Arab akan melanjutkan konsultasi dengan utusan khusus Presiden AS Donald Trump mengenai rencana Mesir untuk membangun kembali Jalur Gaza, sebagai alternatif terhadap rencana Trump untuk mengambil alih wilayah Palestina.
Konsultasi dan koordinasi mengenai rencana tersebut akan terus berlanjut dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff, sebagai dasar bagi upaya rekonstruksi di Gaza, menurut pernyataan bersama setelah pertemuan para menteri luar negeri di Doha.
Dilansir Reuters, Kamis, 13 Maret, awal bulan ini, para pemimpin Arab mengadopsi rencana rekonstruksi Mesir senilai $53 miliar untuk Gaza yang akan menghindari penggusuran warga Palestina dari daerah kantong itu, yang bertentangan dengan visi Trump tentang "Riviera Timur Tengah".
Rencana Trump memperkuat ketakutan lama warga Palestina akan pengusiran permanen dari rumah mereka, dan mendapat penolakan internasional yang meluas.
Mesir, Yordania, dan negara-negara Teluk Arab khawatir rencana semacam itu akan mengganggu stabilitas seluruh wilayah. Rencana rekonstruksi Mesir untuk Gaza menyediakan komite administratif yang terdiri dari teknokrat Palestina yang independen dan profesional yang diberi tugas untuk mengelola Gaza.
Rencana tersebut dirinci dalam dokumen setebal 112 halaman yang mencakup peta tentang bagaimana lahannya akan dikembangkan kembali dan lusinan gambar berwarna-warni yang dihasilkan oleh AI tentang pembangunan perumahan, taman, dan pusat komunitas.
Pendanaan rekonstruksi skala besar akan membutuhkan dukungan besar dari negara-negara Teluk Arab yang kaya minyak seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
Gedung Putih sebelumnya mengatakan rencana tersebut, yang baru-baru ini menerima dukungan dari Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris, tidak membahas realitas Gaza.