Bupati Sleman Tetap Terpapar COVID-19 adalah Penanda Vaksin Tak Maksimal Tanpa 3T
Bupati Sleman Sri Purnomo saat menjalani vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Ngemplak II (Foto: Antara)

Bagikan:

JAKARTA - Bupati Sleman Sri Purnomo mengumumkan dirinya positif COVID-19 setelah mendapatkan vaksinasi sepekan sebelumnya. Melihat hal ini, epidemiolog mengingatkan agar pemerintah terus menguatkan penerapan testing, tracing, dan treatment untuk menyukseskan program vaksinasi di tengah masyarakat.

Setelah menjalani dua rangkaian pengujian yaitu uji cepat atau rapid test antigen dan uji usap atau swab test berbasis polymerase chain reaction (PCR), Sri Purnomo mengumumkan dirinya positif COVID-19. Dia mengaku kondisinya tak bergejala meski pada Rabu, 20 Januari lalu sempat batuk dan mengalami demam.

Kehebohan publik terkait hal ini kemudian ditanggapi Kepala Dinas Sleman Joko Hastaryo. Melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 22 Januari lalu, dia menegaskan kondisi Sri tak berkaitan dengan pemberian vaksin.

"Kondisi positif Bapak Bupati tidak ada hubungannya dengan pemberian vaksin pada 14 Januari," kata dia.

Joko mengatakan, vaksin ini baru akan bekerja meningkatkan daya tahan tubuh setelah dua kali suntikan. Alasan inilah yang membuat pemberian vaksinasi akan dilakukan sebanyak dua kali dan suntikan kedua untuk Sri Purnomo bakal diberikan pada 28 Januari mendatang.

"Kalau baru sekali diberikan vaksin belum memberikan efek kekebalan atau pembentukan antibodi belum memadai. Sehingga harus diberikan booster atau suntikan kedua yang akan membentuk kekebalan secara optimal," tegas Joko.

Dia juga menyebut, meski vaksin ini belum sepenuhnya memberikan efek kekebalan namun jika vaksinasi sudah dilakukan maka gejala yang dialami oleh para pasien termasuk Sri Purnomo tidak akan parah dibandingkan dengan mereka yang belum divaksinasi.

Penjelasan senada juga disampaikan oleh epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman. Menurutnya, vaksin COVID-19 memang tak bisa bekerja secara instan namun butuh waktu agar membentuk antibodi yang sempurna untuk melawan virus.

"Kalau dihitung sejak suntikan pertama vaksin dan dengan yang kedua, empat sampai enam minggu setelah suntikan pertama baru ada imunitas yang memadai yang sesuai dengan efikasi dalam riset tiap vaksin," kata Dicky saat dihubungi VOI, Minggu, 24 Januari.

"Artinya dalam kurun waktu itu seseorang tetap rawan untuk terkena COVID-19 dan inilah kenapa orang yang sudah divaksinasi, orang yang telah mendapat vaksin harus tetap menerapkan protokol kesehatan," imbuh dia.

Berkaca dari hal ini, Dicky juga mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan testing, tracing, dan treatment atau 3T. Hal ini penting karena dia menilai, saat ini, semua orang di Tanah Air sangat berisiko untuk terpapar COVID-19.

"(Tak terkendalinya kasus COVID-19, red) ini membuat semua orang di Republik ini sangat berisiko dan akibatnya, jangan aneh kalau kemudian ada orang yang sudah divaksin tiba-tiba positif. Begitu juga dengan orang yang sudah menerapkan protokol kesehatan tapi positif. Kenapa, karena memang virus ini sudah di mana-mana sebenarnya dan orang tidak boleh ke mana-mana harusnya," jelasnya.

Dia juga menyebut upaya 3T ini sebenarnya perlu digencarkan lagi supaya terjadi pelandaian kasus. Sebab, dengan adanya pelandaian kasus ditambah dengan adanya program vaksinasi maka tujuan untuk menimbulkan kekebalan kelompok atau herd imunity akan mudah diraih. 

"Jadi kalau kurvanya menurun banyak keuntungannya seperti potensi ke herd imunity-nya besar. Kemudian juga dengan landainya kurva ini banyak orang yang tadinya berpotensi virus jadi berkurang jauh," ungkapnya

Pelandaian ini, kata Dicky, juga perlu dilakukan guna mencegah terjadinya ada anggapan negatif dari publik yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan isu-isu yang mengganggu program vaksinasi. 

"Ini harus dicegah. Kenapa, ketika pandemi ini tidak terkendali, terjadi infeksi, ya ini akan membuat orang yang ragu maupun antivaksin akan makin memiliki alibi kuat, 'oh divaksin juga positif'. Padahal tidak tapi kan susah menerangkan pada mereka entah karena tidak mengerti konsepnya atau memang tidak mau," katanya.

"Jadi, untuk itulah strategi utamanya jangan semakin abai bukan kendor ya. Karena dari awal sudah tidak ketat kok. Jangan makin lemah karena akibatnya akan kontraproduktif dengan program vaksinasi," pungkasnya.