CVR Black Box Sriwijaya Air SJ-182 Masih Dicari, <i>Beacon</i> Terlepas dan Arus Deras Jadi Kendala
Jumpa pers Kabasarnas Bagus Puruhito terkait perkembangan pencarian korban dan bagian pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di JICT2 Tanjung Priok, Kamis, 14 Januar (Diah Ayu/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Kepala Basarnas Marsekal Madya Bagus Puruhito menyebut pencarian cockpit voice recorder (CVR) black box Sriwijaya Air SJ-182 masih dilakukan. Pencarian terkendala lepasnya underwater acoustic beacon dari CVR yang sebetulnya berfungsi untuk memudahkan deteksi.

“Soal CVR saya kembali ulangi, tadi saya sudah jawab bahwa masih dilaksanakan (pencarian). Saya tambahkan bahwa saya sudah komunikasi dengan ketua KNKT maupun Panglima Armada yang di lokasi, informasi yang kami dapatkan baru casingnya bungkus atau body protector dari CVR yang ketemu,” kata Kabasarnas dalam jumpa pers di posko utama pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di JICT2, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis, 14 Januari. 

“Permasalahan yang ada seperti kita ketahui bersama beacon yang bisa membawa kita ke benda itu sudah lepas dari alat itu sehingga kita gunakan cara yang relatif lebih lama dan air di bawah permukaan cukup deras,” imbuhnya. 

Dalam operasi SAR gabungan pada hari ini, tim mengumpulkan 98 kantong jenazah berisi bagian tubuh korban. Sedangkan, serpihan pesawat yang berukuran kecil bertambah 9, dan serpihan besar pesawat bertambah 5.

Total temuan tim SAR sampai hari keenam sebanyak 239 kantong jenazah berisi bagian tubuh atau body parts. Kemudian, material pesawat sebanyak 73, dengan rincian 40 kantong kecil yang berisi serpihan pesawat dan 33 potongan besar pesawat.

Sebelumnya fligt data recorder (FDR) black box Sriwijaya Air ditemukan pada Selasa, 12 Januari. FDR black box langsung diserahkan ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Ketua Sub Komite IK Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo sebelumnya menyebut, proses pengunduhan data dari black box FDD cukup membutuhkan waktu sekitar dua jam. 

"Proses pengunduhan data (black box FDR) memakan waktu dua jam apabila berjalan lancar tanpa kendala," kata Nurcahyo dalam keterangannya, Rabu, 13 Januari.

Namun, saat ini data FDR belum diunduh oleh KNKT. Sebab, ada serangkaian proses yang mesti dilakukan, mulai dari membongkar rangkaian hingga membersihkan black box tersebut.

Proses diawali dengan mengeluarkan crash survanable memori unit (CSMU) dari rangkaian black box dan membersihkannya dari kotoran akibat terendam di laut.

CSMU adalah bagian dari black box yang tahan banting dan benturan sampai dengan 250 g, serta tahan suhu sampai 1000 derajat selama 1 jam.

"Setelah dikeluarkan, memori unit tersebut kemudian dibersihkan dari kotoran, utamanya dari garam karena unit ini pernah terendam di laut, dibersihkan menggunakan air suling dan kemudian dilanjutkan menggunakan alkohol," jelas Nurcahyo.

Setelah dibersihkan, dilanjutkan dengan proses pengeringan menggunakan oven khusus selama 8 jam. Setelah kering, data rekaman dalam FDR baru bisa diunduh.

"Pengunduhan data yaitu menghubungkan dengan FDR yg masih bagus untuk diunduh datanya. Ini sama dengan kita mengunduh data dari suatu memory card atau dari suatu CD atau menggunakan player yang masih bagus,” kata dia.