Harga Saham Emiten Farmasi Berguguran Usai Jokowi Divaksin, Analis: Euforia Picu Aksi <i>Profit Taking</i>
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat divaksin COVID-19, di Istana Negara, Rabu 13 Januari 2020. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Bagikan:

JAKARTA - Harga saham emiten farmasi anjlok pada perdagangan, Rabu, 13 Januari, meskipun muncul sentimen positif di mana Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan lampu hijau penggunaan darurat vaksin COVID-19 buatan Sinovac, perusahaan farmasi asal China.

Padahal, di hari yang sama juga Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi orang pertama yang disuntik bersama dengan jajarannya di Istana Negara, tokoh politik hingga artis Raffi Ahmad. Semua berjalan dengan baik, namun sentimen positif ini tak mendorong saham-saham farmasi melesat.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), terjadi koreksi saham-saham farmasi di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berada di zona hijau. IHSG tumbuh positif karena merespons kabar vaksinasi ini, bahkan terpantau melesat 0,62 persen.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat divaksin COVID-19, di Istana Negara, Rabu 13 Januari 2020. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Dari 7 emiten farmasi dan sektor pendukungnya seluruhnya terpantau ditransaksikan di zona merah. Bahkan seluruhnya anjlok menyentuh level terendah yang diijinkan oleh bursa alias auto reject bawah (ARB).

Koreksi terparah dibukukan oleh emiten farmasi berkapitalisasi pasar terbesar di bursa yakni PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang terkoreksi 6,85 persen. Disusul dua anak usaha Bio Farma yakni PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) juga terpaksa anjlok, saham keduanya terkoreksi 6,81 persen.

Kemudian, PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) juga anjlok hingga 6,76 persen. Selanjutnya, emiten jarum suntik PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) yang terkoreksi 6,76 persen.

Terjadi Overvalue dan Profit Taking

Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama mengatakan harga saham emiten farmasi yang anjlok ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu overvalue dan profit taking.

Kata Nafan, profit taking terjadi karena euforia di tengah masyarakat. Maksudnya, ketika vaksin datang harga saham melambung, kemudian pemerintah merencanakan vaksinasi, hal ini menimbulkan euforia lagi di tengah masyarakat, sehingga harga saham melambung tinggi.

Namun, ketika harga saham berada di puncak tertinggi banyak investor yang melepas kepemilikan saham. Karena ingin mengambil untung. Hal ini membuat harga saham farmasi memerah.

"Terjadinya aksi profit taking harga saham yang dialami di sektor farmasi. Kalau dikatakan (sempat) terjadi kenaikan itu kan karena euforia kedatangan vaksin dari China Sinovac," katanya, saat dihubungi VOI, Rabu malam, 13 Januari.

Lebih lanjut, Nafan berujar, euforia dari kenaikan harga saham yang signifikan tersebut sebenarnya membuka peluang terjadinya aksi profit taking. Menurut dia, hal ini sebenarnya output yang wajar.

"Wajar kalau di pasar modal terjadi aksi profit taking sehingga menyebabkan harga titik saham kembali ke titik equilibrium, jadi ada keseimbangan antara permintaan maupun penawaran," tuturnya.

Nafan berujar, nantinya pergerakan harga sahamnya juga akan relatif kembali bergerak naik. Namun, pergerakannya perlu didukung sentimen positif. Sebab, sentimen positif dapat mempengaruhi pergerakan harga saham.

Saham Kimia Farma (KAEF) yang anjlok 6,81 persen pada perdagangan Rabu 13 Januari. (Foto: RTI)

"Nanti sambil menunggu laporan akhir tahun lalu ataupun dividen, atau sejauh mana dinamika vaksinasi massal tersebut berjalan di Tanah Air dan di luar negeri, dan juga misalnya laporan keuangan kuartal I 2021. Jadi itu yang akan mempengaruhi daripada pergerakan harga saham farmasi," tuturnya.

Menurut Nafan, untuk kinerja emiten saham farmasi peluang peningkatan penjualan produk masih sangat tinggi, mengingat saat ini pandemi COVID-19 masih berlangsung.

"Produk alat-alat kesehatan, obat-obatan termasuk vaksin ini tetap terbuka lebar (meningkat) menurut saya. Seiring dengan adanya recovery perekonomian pula," jelasnya.

Sebenarnya, kata Nafan, memerahnya 7 emiten saham farmasi juga bisa jadi dipengaruhi pemberitaan hasil efikasi vaksin Sinovac di Brasil yang merosot menjadi 50,4 persen untuk mencegah infeksi, jauh di bawah persentase yang diumumkan pekan lalu.

Minggu lalu, para peneliti Brasil merayakan hasil yang menunjukkan 78 persen efikasi atau kemanjuran melawan kasus COVID-19 "ringan hingga berat", tingkat yang kemudian mereka gambarkan sebagai "kemanjuran klinis".

Ilustrasi vaksin COVID-19. (Foto: Unsplash)

Sekadar informasi, dikutip dari Reuters, ilmuwan dan pengamat mengecam pusat biomedis Butantan karena merilis sebagian data pada minggu lalu yang menghasilkan ekspektasi yang tidak realistis. 

Pengungkapan sedikit demi sedikit tentang uji coba vaksin China secara global telah menimbulkan kekhawatiran bahwa uji coba tersebut tidak tunduk pada pengawasan publik seperti yang dilakukan di AS dan Eropa.

Para peneliti di Butantan sendiri menunda pengumuman hasil mereka tiga kali, menyalahkan klausul kerahasiaan dalam kontrak dengan Sinovac.