Banyak Perceraian karena Kurang Siap Menikah

Banyak Perceraian karena Kurang Siap Menikah

Ilustrasi (Ilham Amin/VOI)

Bagikan:

Angka perceraian di Indonesia terus meningkat. Ketidaksiapan para calon pengantin jadi salah satu penyebab. Lewat Tulisan Seri pekan ini, kita akan sama-sama belajar memperkuat perspektif tentang pernikahan. Bahwa pernikahan adalah pintu masuk, bukan jalan keluar. Selamat bergabung untuk menyelami "Pernikahan Hari Ini".

 

Jika ada lagu tentang harapan pernikahan paling dalam, barangkali When I'm Sixty Four milik The Beatles adalah salah satu yang paling indah menggambarkannya. Lewat lagu itu, John Lennon dan Paul McCartney melantunkan segala harapan indah tentang kehidupan pernikahan yang abadi. Namun, jika ada kemungkinan paling buruk bagaimana dua orang memutuskan mengakhiri pernikahannya, itu adalah perceraian. Dan kami bisa menggambarkannya.

Di Indonesia, angka perceraian terus meningkat dalam tiga tahun belakangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat angka perceraian sebanyak 353.843 di tahun 2015. Pada 2016, angkanya meningkat jadi 365.654 dan kembali melonjak menjadi 374.516. Lonjakan tertinggi terjadi pada tahun lalu dengan angka mencapai 408.202.

Jika dipecah per provinsi, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah jadi daerah dengan tingkat perceraian tertingi. Dihitung dengan data 2018, angka perceraian di Jawa Timur mencapai 88.995, disusul Jawa Barat dengan angka 87.307, dan Jawa Tengah dengan jumlah kasus perceraian mencapai 75.557 kasus. Angka itu berbanding lurus dengan demografi ketiga provinsi yang merupakan wilayah-wilayah dengan populasi terbanyak.

Banyak alasan yang mendorong orang-orang memilih perceraian sebagai jalan keluar dari permasalahan rumah tangga. Kami mewawancarai psikolog Rose Mini untuk mendalami persoalan ini. Menurut Rose Mini, ada alasan amat mendasar yang sejatinya juga amat aneh yang konon paling sulit diselesaikan dalam perkara perceraian: ketidakcocokan. Aneh, sebab sejatinya ketidakcocokan itu tak pernah bisa dijelaskan.

"Kalau misalnya jumlah kan harus pakai data statistik, tapi biasanya orang selalu bilang karena ketidakcocokan. Selalu ketidakcocokan alasannya, tapi sebetulnya tidak pernah terjabarkan ketidakcocokannya di sebelah mana, bagaimana atau apanya. Itu yang enggak pernah terjelaskan," kata Rose Mini saat dihubungi VOI lewat telepon, Selasa 17 Desember 2019. 

Menurut Rose Mini, alasan semacam ini terjadi karena sifat asli pasangan yang tak disadari dan baru tampak setelah menikah. Selain itu, kemampuan pasangan beradaptasi dengan lingkungan baru juga jadi faktor pendorong. Berbagai faktor itu, menurut Rose Mini dipengaruhi oleh kesiapan tiap-tiap pasangan. Kesiapan yang mau tidak mau dipengaruhi juga oleh kematangan usia.

Nikah muda

Suka tak suka, perkara usia jadi hal krusial dalam pernikahan. Ada faktor-faktor yang membuat kematangan usia amat berpengaruh pada kesiapan seseorang memasuki kehidupan pernikahan. Menurut Rose Mini, orang-orang yang menikah di usia muda amat rentan pada permasalahan mental dan emosi yang labil.

Kondisi tersebut sangat mungkin menyulitkan seseorang untuk beradaptasi dalam kehidupan pernikahan. Secara umum, orang-orang yang masih tergolong muda akan kesulitan mengemban tanggung jawab pernikahan. Orang-orang muda sejatinya memerlukan proses untuk menjalani kehidupan dengan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Dari proses itu, barulah seseorang dapat mengemban tanggung jawab lain sebagai suami, istri, atau menantu, misalnya.

"Kalau dia terlalu muda, di mana tugas perkembangannya masih mencari identitas diri, mau seperti apa saya, gimana mau berkarier, masih sibuk lagi, ditambah peran lagi nanti setelah menikah bikin dia pusing. Sampai dia rasanya saya enggak bisa deh beradaptasi," tutur Rose Mini.

Pun jika perceraian terjadi. Stigma masyarakat terhadap status janda dan duda adalah perkara yang harus dihadapi. Bagi mereka yang bercerai di usia muda, stigma tersebut akan makin sulit dihadapi dan berpotensi membebani mereka. 

Lebih rumit lagi jika pasangan itu telah dikaruniai anak. Kedua belah pihak harus berdiskusi dan membuat pertimbangan untuk melanjutkan pengasuhan anak. Dimulai dari di mana anak harus tinggal hingga persoalan lain menyangkut pembiayaan dan menentukan pendidikan, misalnya.

Persoalan ini akan amat sulit dihadapi oleh mereka yang bercerai di usia muda. Bukan tak mungkin dihadapi. Namun, kondisi mental dan emosional orang-orang di usia muda akan mempersulit proses diskusi dan pengambilan keputusan.

"Kasihan anaknya. Karena, mau enggak mau anak enggak diajak berpikir, bertukar pikiran pada waktu mau melakukan perceraian. Jadi langsung orang tua memutuskan dan anak harus menerima. Konsekuensinya, orang tua membuat anak jadi perebutan. Jadi direbutin sana-sini, kayak barang," papar Rose Mini.

Maka, jika perceraian adalah pilihan terburuk bagi seseorang mengakhiri pernikahan, rasanya beralasan menyebut persiapan sebagai perkara penting yang harus dilakukan seseorang sebelum memutuskan menikah.

Ikuti Tulisan Seri edisi ini: Pernikahan Hari Ini