Banyak Masyarakat Menganggap Tak Ada Politik Dinasti di Keluarga Jokowi

Banyak Masyarakat Menganggap Tak Ada Politik Dinasti di Keluarga Jokowi

Hasil survei Median tentang tanggapan masyarakat terhadap majunya Gibran Rakabuming Raka (Wardhany Tsa Tsia/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Anak Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka maju di Pilkada Wali Kota Solo 2020. Banyak yang bilang, ini adalah bentuk politik dinasti. Namun, anggapan ini terbantahkan dari survei Median. Sebanyak 55,5 persen warga Kota Solo menganggap majunya Gibran bukan bentuk dinasti politik.

Survei ini dilakukan pada 3-9 Desember 2019 yang diikuti 800 responden yang dipilih secara random dengan margin of error mencapai 3,5 persen dan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen. Teknik survei itu menggunakan multistage random sampling dan proporsional atas populasi kecamatan dan gender.

"Sebanyak 55,5 persen warga menganggap majunya Gibran bukan dinasti politik sedangkan 41,6 persen menyatakan bahwa majunya Gibran adalah dinasti politik," kata Direktur Lembaga Survei Median Rico Marbun di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin, 16 Desember.

Rico memaparkan ada tiga alasan publik tak menganggap majunya Gibran sebagai politik dinasti. Pertama, sebanyak 41,3 persen responden berharap Gibran bisa menjadi seperti Presiden Jokowi yang pernah menjabat sebagai Wali Kota Solo selama dua periode.

"Kedua, sebanyak 19,4 persen responden menanggap Gibran masih muda dan ketiga, Gibran dianggap bisa membawa perubahan. Ada 14,7 responden yang menganggap seperti itu," ungkap Rico.

Survei ini juga menangkap sebanyak 40 persen pemilih usia 17-19 tahun lebih memilih Gibran dibandingkan Achmad. Sementara Achmad dipilih oleh responden yang usianya antara 30-39 dengan persentase sebesar 61,5 persen.

Terkait elektabilitas, posisi Gibran kini berada di urutan kedua dari sejumlah bakal calon yang akan maju. Pada posisi pertama, berdasarkan hasil survei, Achmad Purnomo yang merupakan calon incumbent dan merupakan bakal calon dari DPC PDI Perjuangan Solo masih unggul.

"Achmad Purnomo elektabilitasnya sebesar 40,1 persen sementara Gibran di posisi kedua yaitu 19,1," jelas Rico sambil menambahkan jika sebenarnya pertarungan di Pilwalkot 2020 hanya milik Achmad dan Gibran yang sama-sama dari PDIP.

Berkaca dari elektabilitas itu juga, survei yang dilakukan Median juga mendapatkan hasil bahwa pemilih PDIP akan terbagi di dalam Pilwalkot itu bila Gibran dan Achmad nantinya berhadapan dalam laga tersebut.

"Pemilih PDIP relatif terbelah pilihannya antara Achmad Purnomo yang dari hasil survei mendapatkan suara 43,7 persen dari responden pemilih PDIP versus Gibran mendapatkan suara 36,7 persen," tegasnya.

Ada yang menarik dalam diskusi ini, sebab dari hasil survei ini banyak anak muda yang resisten dengan isu politik dinasti, malah mendukung majunya Gibran di Pilwalkot Solo 2020. Rico menyebut, banyak anak muda atau pemilih pemula yang berusia 17-19 tahun dan 20-29 tahun justru menganggap majunya anak sulung Presiden Joko Widodo itu adalah hal yang positif.

Anak muda ini, kata Rico, juga menganggap majunya Gibran bukan karena keuntungan yang dia miliki sebagai anak presiden. Sebab, dia mengikuti kompetisi Pilwalkot 2020 secara fair dengan segala proses yang ada.

"Kita lihat dia tidak dapat 'jalan tol', ini kan agak beda sama politik dinasti zaman Orde Baru. Enggak ada yang berani ngelawan kalau dulu, beda dengan sekarang," jelas Rico sambil menjelaskan anak muda memilih Gibran karena ingin ada perubahan.

"Itulah kenapa anak muda menganggap itu bukan dinasti politik, sederhana memang tapi itu yang terjadi," imbuhnya.

Rico memaparkan, jika Gibran ingin menang di Pilwalkot Solo 2020, dia harus mampu membuktikan dirinya mampu. Begitupun dengan Achmad, yang harus mampu merangkul pemilih muda yang berada di usia 17-29 tahun.

"Kalau Gibran mau menang, dia harus membesarkan (mengadaptasi) presepsi yang dimiliki Ahmad Purnomo yang dianggap berpengalaman dan merakyat. Begitu pun sebaliknya," tutupnya.