Merasakan Kembali Sensasi Menumpang Getek Di Zaman Modern

Merasakan Kembali Sensasi Menumpang Getek Di Zaman Modern

Perahu getek di Kali Cagak (Rizmy Adytia Praman/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Di zaman modern ini, teknologi terus dan semakin berkembang. Beberapa di antaranya digunakan untuk membantu kehidupan, bahkan tak jarang ada yang dimanfaatkan sebagai alat transportasi.

Skuter dan sepeda listrik, jadi salah satu teknologi transporasi yang bisa kita nikmati. Sebelum adanya aturan, kedua alat transportasi itu bisa kita nikmati di jalanan Ibu Kota.

Meski demikian, di tengah kota metropolitan seperti Jakarta, masih ada alat transportasi yang jauh bila disebut memiliki teknologi yang canggih. Adalah perahu eretan, atau yang lebih dikenal dengan sebutan getek.

Di masa lalu, getek merupakan salah satu transportasi alternatif untuk menyerang sungai atau kali. Hanya saja, dengan seiring berjalannya waktu, keberadaanya semakin sulit ditemukan.

VOI mencoba menelusuri jalan ibu kota untuk memastikan keberadaan alat transportasi itu. Bukan perkara mudah untuk menemukannya, berjam-jam dilewati, jalan setapak yang hanya selebar satu meter pun harus dilalui untuk mencarinya.

Hingga akhirnya, keberadan perahu eretan atau getek berhasil ditemukan, di Kali Cagak yang berada di kawasan Jakarta Utara. 

Perahu getek di Kali Cagak (Rizmy Adytia Praman/VOI)

Senang, sudah barang tentu itu yang dirasakan. Seperti melihat mainan klasik yang sudah tak bisa dijumpai. Kami pun mencobanya menaiki transportasi ini.

Untuk menggunakan alat transportasi itu, kami harus membayar Rp1.000. Ini terhitung murah buat kami. Namun, biaya berbeda sebesar Rp2.000 harus dibayarkan oleh para penumpang lainnya, yang membawa sepeda motor.

Setelah membayar, kami pun menaiki perahu eretan itu. Namun, ekspektasi awal kami tentang perahu itu meleset. Sebelumnya kami membayangkan balok kayu atau pun bambu yang dibentuk menjadi perahu. Kenyataannya, perahu eretan itu dibuat dengan menggunakan fiber atau bisa dikatakan rada-rada modern.

Sebelum perahu itu membelah kali Cagak, yang diperkirakan selebar 7-8 meter, kami melihat beberapa utas tali berada tepat di atas kepala. Tali itu digunakan untuk menjalankan perahu tersebut. Cara kerjanya, seorang petugas, atau izinkan kami menyebutnya nahkoda, menarik tali yang membentang di kedua saksi kali.

Di atas getek itu, kami merasakan sensasi bergoyang. Ini karena keseimbangan perahu diombang-ambing. Sementara, sepanjang perjalana ini, bau tak sedap tercium di hidung kami. Aroma itu seperti bau sampah. 

"Ini aman Pak?" kami bertanya. Dijawab sang nakhoda, "aman kok."

Sekitar satu-dua menit, perahu pun tiba di tepi kali yang berbeda dengan yang kami naiki tadi. Kami yang berada di urutan paling belakang, menunggu antrian sepeda motor yang bergantian keluar dari perahu. Dari penglihatan kami, perahu tak berhenti tepat ditepi kali. Ada jembatan kayu yang jadi dermaga untuk getek itu.

Setelah mejajal perahu eretan atau getek, kami mencoba berbincang dengan sang nahkoda. Namun, dia menolak. Dia mengarahkan kami untuk berbincang dengan pria bernama Amin, yang kala itu sedang bersantai di sebuah warung kelontong tak jauh dari dermaga.

Kami menghampirinya. Berharap banyak cerita yang didapat darinya. Senyuman lebar dari Amin menyambut kedatangan kami dan kemudian percakapan pun tejadi.

Di menit-menit pertama, percakapan kami hanya membahas soal suka-duka sebagai nahkoda getek. Belasan tahun sudah Amin berprofesi sebagai nahkoda. Yang paling diingatnya, ketika dirinya tercebur ke kali saat bertugas. 

"Ya pernah tercebur juga. Tapi kalau penumpang Alhamdulilah tidak pernah (tercebur)," kata Amin.

Sejumlah motor yang menyeberang menggunakan getek di Kali Cagak (Rizmy Adytia Praman/VOI)

Perbincangan selanjutanya lebih mengarah ke penghasilan yang didapat hingga apakah pernah mendapat penolakan dari pemerintah setempat. Mendengarkan pertanyaan dari kami, Amin justru tertawa. Dia bilang, tak pernah ada yang melarang geteknya beraksi.  Justru, kata dia, getek ini membantu warga yang ingin menyebrang kali dari kawasan Muara Karang ke Pantai Indah Kapuk atau pun sebaliknya. 

"Justru pada makasih, mereka terbantu. Bisa cepat sampai tujuan," ungkap Amin mengutip ucapan petugas dari Keluruhan setempat yang terbantu dengan keberadaan getek.

Mendengar pernyatan itu, kami tak langsung percaya. Usai perbincangan dengan Amin rampung. Kami mencoba menelusuri jalan utama dari kawasan Muara Karang menuju Pantai Indah Kapuk.

Dengan menggunakan sepeda motor, kami berkendara ke lokasi tujuan. Ternyata perkataan Amin terbukti. Jika menggunakan getek, hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit. Namun, perjalanan sekitar 5 kilometer dan memakan waktu kurang lebih 20 menit kami tempuh hanya untuk menuju Pantai Indah Kapuk (PIK) dari kawasan Muara Karang.