Jika COVID-19 Tak Muncul, Seperti ini Suasana Idulfitri di China
Ilustrasi masjid by Asif Ali Yousafzai on Unsplash

Bagikan:

BEIJING - Di China, ada sekitar 25 juta Muslim yang tersebar luas dan terkonsentrasi dalam kelompok-kelompok kecil. Hal tersebut dikarenakan Islam adalah salah satu dari empat atau lima agama yang diakui secara resmi di China.

Pemukiman Muslim utama pertama di China terdiri dari pedagang Arab dan Persia. Islam menembus China selama dinasti Tang dan Song, terutama di sepanjang jalur sutra ketika sering terjadi pertukaran persahabatan antara pemerintah dan banyak utusan yang datang untuk melakukan bisnis.

Melansir China Higlights, di semua bagian China terdapat warga yang menganut agama Islam. Tetapi jumlah terbesar ditemukan di provinsi Xinjiang, Gansu, Qinghai dan Yunnan. Wilayah Xinjiang memiliki populasi Muslim terbesar di China. Sekitar 50% orang di sana adalah Muslim.

Idulfitri dirayakan oleh banyak minoritas Muslim di China, termasuk orang-orang Hui, Uyghur, Kazak, Uzbek, Tajik, Tatar, Khalkha, Salar, Dongxiang, dan Bao'an. Umat ​​Muslim Hui di beberapa bagian Provinsi Ningxia juga menyebut Idulfitri dengan Big Id, sementara Muslim Hui di Provinsi Gansu dan Qinghai menganggapnya Idulfitri juga sebagai perayaan Tahun Baru. 

Idulfitri merupakan perayaan terbesar bagi orang-orang Hui. Muslim Hui di provinsi Gansu, Qinghai, dan Yunan di China Barat juga menyebut Idulfitri 'Da Erde', sementara orang-orang di Ningxia bagian selatan menyebutnya 'Xiao Erde'. Orang Hui menyebut Ramadan dengan Lai Maidan. Karena sistem kalender Islam sama dengan kalender China, hari Idulfitri berbeda setiap tahunnya.




Suasana Idulfitri di China

Sama halnya di Indonesia, menjelang Idulfitri orang-orang Hui yang bekerja di luar kota atau yang sedang dalam perjalanan kembali ke kampung halamannya. Mereka merayakan Idulfitri selama tiga hari. Pada hari pertama, setiap keluarga bangun pagi dan membersihkan rumah mereka. Pria yang lebih tua mandi terlebih dahulu dan semua orang mengenakan pakaian baru. 

Adapun masjid tempat salat Id diadakan, staf masjid bekerja mengatur saf sebelum salat dimulai. Mereka menggantung spanduk dan lampu warna-warni juga sebagai bentuk perayaan Idulfitri. 

Setelah pukul 8 pagi, setiap orang Hui dari berbagai daerah membawa sajadah dan pergi ke masjid. Namun terkadang, masjid tidak dapat menampung begitu banyak orang, sehingga sebagian dari kerumunan mencari tempat bersih untuk tempat salat. 

Ketika Imam mengumumkan salat akan segera dimulai, puluhan ribu orang Hui membaringkan sajadahnya. Mereka kemudian melepas sepatu dan mulai ikut salat. Karena ini adalah salah satu ibadah yang cukup penting, sejumlah besar orang tidak peduli bagaimana keadaan cuacanya mereka akan tetap ikut salat jamaah. 

Seperti halnya perayaan hari raya agama lain, makan besar bersama keluarga dilakukan di mana seluruh keluarga menikmati makanan besar yang disiapkan khusus. Bahkan keluarga miskin juga mencoba memasak makanan terbaik pada kesempatan ini. Makan bersama keluarga adalah tanda persatuan dan cinta antara anggota keluarga. Itu juga merupakan simbol penghormatan terhadap orang tua dan kasih sayang bagi orang muda.

Tak lupa Idulfitri juga merupakan kesempatan untuk mengunjungi dan menghabiskan waktu bersama saudara dan teman. Orang-orang biasanya sibuk mencari nafkah dan tidak memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama anggota keluarga lainnya. Tetapi momen Idulfitri ini memberi mereka kesempatan untuk memperkuat ikatan keluarga dan persahabatan. 

Namun adanya pandemi COVID-19 mungkin mengubah segala perayaan ini. Apalagi China juga baru bangkit dari keterpurukannya akibat virus corona yang berawal dari Kota Wuhan ini. Meski angka kasus COVID-19 di China menurun dan sudah mencabut aturan lockdown, namun pembatasan kegiatan masih diberlakukan. Selain itu banyak negara yang juga mengeluarkan fatwa untuk melaksanakan salat Id di rumah mengingat virus corona masih belum terkendali sepenuhnya dan belum ada vaksin untuk menangkal virus tersebut.