Resensi Film Darah Daging, Minim Dialog Berbalut Konflik Keluarga

Resensi Film <i>Darah Daging</i>, Minim Dialog Berbalut Konflik Keluarga

Poster film Darah Daging (Instagram: @skylar.pictures)

Bagikan:

JAKARTA - Seberapa besar pengorbanan yang bisa Anda berikan untuk menyelamatkan Ibu yang telah merawat Anda dari kecil? Mungkin seperti itu makna dari film berjudul Darah Daging yang sedang tayang di bioskop tanah air. 

Darah Daging, film produksi Skylar Pictures merupakan karya debut dari sutradara Sarjono Sutrisno. Fokus film ini bercerita tentang persaudaraan, kekeluargaan, dan cinta seorang ibu yang dibalut dengan drama laga. Sarjono menjelaskan film ini adalah bentuk surat cinta yang ia berikan kepada ibunya.

Film Darah Daging menceritakan seorang jurnalis bernama Hanna (Estelle Linden) yang menemui Salim (Donny Alamsyah), narapidana kasus perampokan bank 14 tahun yang lalu. Hanna bertemu dengan Salim untuk keperluan novel yang sedang Hanna garap. Salim yang dinyatakan akan menjalani hukuman mati dalam waktu 10 hari lagi berusaha mengingat kejadian perampokan yang ia lakukan bersama Arya (Ario Bayu), Rahmat (Rangga Nattra), Borne (Tanta Ginting), dan Fikri (Arnold Leonard).

Tidak banyak dialog yang dilontarkan sepanjang film berjalan. Darah Daging lebih berfokus kepada bagaimana sebuah adegan “berbicara” dengan kapasitasnya. Ini merupakan langkah yang cukup unik mengingat di Indonesia, jarang sekali film yang berusaha menekankan dialog lewat adegan. Hal ini diperkuat dengan alur maju mundur dalam cerita, sehingga tidak perlu merasa kebingungan dengan jalan cerita.

Secara teknis, film Darah Daging memiliki color grading dan pengambilan yang bagus. Desain produksinya juga patut diberi apresiasi karena kerapihan untuk setiap pemainnya. Jangan lupakan akting pemain kelas Festival Film Indonesia ini, kelima pemain utama bermain menyeimbangkan satu sama lain. Apalagi ketika mereka berlima memulai aksinya sebagai perampok di bank.

Hanya saja, beberapa adegan dalam film Darah Daging terlihat kurang natural dan seringkali membuat penceritaan menjadi bertele-tele. Shoot yang seharusnya cukup dari satu sisi jadi terlihat berlebihan dengan mengulang adegan dari sisi lainnya. Bahkan, ada satu adegan yang tidak sengaja bocor, dan itu adalah adegan penting dari film Darah Daging.

Darah Daging tidak hanya menekankan pada sisi laga, namun sesuai judulnya, Darah Daging juga menyajikan cerita cinta antara anak dengan orang tua. Meskipun sejauh dan sesulit apa pun keadaan, orang tua adalah sosok yang sanggup menopang kesulitan diri anaknya. Film Darah Daging bisa disaksikan pada layar lebar mulai 5 Desember 2019.

Tag: Film