Seorang Penderita Skizofrenia Berpikir Ia Pahlawan karena Bunuh Tiga Lansia

Seorang Penderita Skizofrenia Berpikir Ia Pahlawan karena Bunuh Tiga Lansia

Aksi Christian Bale perankan karakter penuh delusi dalam The Machinist (IMDB)

Bagikan:

EXETER - Seorang penderita skizofrenia paranoid membunuh tiga pria lanjut usia. Dalam bayang-bayang delusinya, ia adalah pahlawan. Pembunuhan itu baginya tampak seperti aksi penyelamatan seorang wanita muda dari kelompok pedofil.

Alexander Lewis-Ranwell memukul Anthony Payne (80) dengan palu sebelum memukul kembar Twins dan Roger Carter (84) hingga mati dengan sebuah sekop. Menurut Dokter John Sandford, psikiater yang didatangkan untuk membela Lewis-Ranwell di pengadilan, pembunuhan tidak sepenuhnya di bawah kendali Lewis-Ranwell.

"Dia (Lewis-Ranwell) tahu memasuki properti seseorang dan tahu ketika dia membunuh seseorang, dia akan menyebabkan kerusakan serius. Tetapi, dia memiliki semacam keyakinan bahwa korban-korbannya memiliki sebuah kesalahan (yang dalam bayangannya pedofilia). Dia percaya dia sedang melakukan semacam pencarian. Menurut saya pun begitu (pencarian). Dan itu hal yang baik secara moral," kata Sandford dikutip Metro.co.uk, Rabu, 27 November.

Pembunuhan itu terjadi di dua rumah yang satu sama lain hanya berjarak sekitar setengah mil. Pembunuhan Payne dan kembar Carter pun hanya terjadi dalam kurun waktu tiga jam pada 10 Februari lalu. Peristiwa yang sejatinya amat mengejutkan penegak hukum. Sebab, pembunuhan terhadap Payne dilakukan Lewis-Ranwell hanya beberapa jam usai dilepaskan polisi.

Sebelumnya, polisi sempat menangkap Lewis-Ranwell karena pria 28 tahun itu menyerang seorang petani dengan gergaji. Penyerangan itu jadi petunjuk polisi yang langsung mengaitkan keterlibatan Lewis-Ranwell dengan pembunuhan tiga lansia. Ia pun akhirnya ditangkap. Lewis-Ranwell dibawa ke unit psikiatris untuk mendalami problem kesehatan mentalnya.

Sejak itu, Sandford terus mendampingi Lewis-Ranwell. Sanford bersaksi, Lewis-Ranwell menderita delusi dan halusinasi psikotik akut. Hal itu menyebabkan kemampuannya mengendalikan diri berkurang. Menurut Sandford, dalam pembunuhan itu, Lewis-Ranwell meyakini bahwa yang ia habisi adalah kelompok pedofil yang tengah menyekap seorang gadis 25 tahun.

"Dia melihat foto seorang wanita di majalah dan dia mulai berpikir wanita ini telah hilang dan dia merasa harus menemukan gadis itu ... Dia percaya dia membebaskan dan mencegah kejahatan di masa depan," kata Sanford.

Kasus Lewis-Ranwell masih bergulir di pengadilan. Sandford terus berupaya meyakinkan juri bahwa segala pembunuhan ini adalah penderitaan bagi Lewis-Ranwell yang tak mampu membedakan mana delusi dan kenyataan.