Mengenal Sajaegi, Kecurangan dalam Tangga Musik Digital Korea

Mengenal Sajaegi, Kecurangan dalam Tangga Musik Digital Korea

Rapper sekaligus personel grup Block B, Park Kyung yang menulis kicauan kontroversial di akun Twitter-nya (KQ Entertainment)

Bagikan:

JAKARTA - Hallyu wave yang melanda dunia ternyata juga melanda negara asalnya. Terhitung setiap tahunnya, setidaknya lebih dari 10 grup maupun solois K-pop debut. Rilisan musik baru juga hadir setiap pekannya. Ini membuat persaingan baik dari segi penjualan dan promosi dipertaruhkan.

Masuk ke dalam tangga musik adalah impian bagi musisi yang berkarier di Korea Selatan. Saat ini, ada enam layanan tangga musik di Korea Selatan yakni iChart, Melon, Genie, Bugs, Soribada, dan Flo. Enam tangga musik ini menjadi patokan sebuah musik bisa dikenal atau tidak.

Karena persaingan yang ketat, berbagai cara juga dilakukan oleh agensi dan penggemar yang menaungi artis untuk bisa membantu musik si artis masuk ke dalam tangga musik. Streaming massal adalah salah satu cara yang sering dilakukan oleh penggemar. Caranya, ketika penyanyi merilis sebuah musik atau single, penggemar bisa langsung memutar musik tanpa menjeda.

Namun, ketika seorang musisi tidak memiliki basis penggemar yang kuat, lantas apa yang harus dilakukan oleh musisi? Peran agensi tentu menjadi besar di sini. Sayangnya, beberapa waktu belakangan, agensi ikut andil dalam berbuat curang demi nama sang artis yang masuk ke dalam tangga musik. Sajaegi adalah sebutan bagi musisi K-pop yang melakukan manipulasi tangga lagu.

Isu sajaegi memang sudah lama beredar, namun di tahun 2019, ini jadi yang pertama. Rapper sekaligus personel grup Block B, Park Kyung, menulis sebuah kicauan di akun Twitter-nya (sekarang sudah dihapus). Tulisan itu berbunyi: “Saya ingin melakukan sajaegi seperti Vibe, seperti Song Ha Ye, seperti Lim Jae Hyun, seperti Jeon Sang Keun, seperti Jang Deok Cheol, dan seperti Hwang In Wook ^^;;”

 

 Tangkap layar unggahan Twitter KYUNGPARK1992

 

Melihat perkembangan tangga lagu, saat ini penyanyi Vibe menempati nomor 5 pada tangga lagu Melon untuk lagunya Call Me Back, Song Ha Ye dengan Another Love di urutan 11, Im Jae Hyun dengan I’m a Little Drunk pada urutan nomor 12, Jeon Sang Keun dengan lagu I Still Love You A Lot di nomor 15, Jang Deok Cheol dengan See You later di urutan ke 16, dan Hwang In Wook dengan Sad Drinking di urutan 24.

Untuk penyanyi yang jarang berpromosi, masuk ke dalam tangga musik adalah hal yang mengagumkan. Dan pendapat Park Kyung ini menerima reaksi yang bercampur. Apalagi ia juga tidak menjelaskan lebih lanjut dari mana asal muasal daftar penyanyi yang ia sebut melakukan sajaegi. Yang jelas, karena hal ini, lagu Park Kyung kembali dalam tangga lagu. Sementara penyanyi yang disebut Park Kyung melakukan sajaegi mengambil tindakan hukum untuk menuntut dirinya.

Sebenarnya, aksi sajaegi ini sudah santer berbunyi di kalangan penikmat musik di Korea Selatan. Di antaranya penyanyi Nilo, Ben, Shaun pernah dikabarkan melakukan sajaegi. Pada 26 November, program radio CBS Kim Hyun Jung’s News Show mewawancarai kritikus musik Kim Jak Ga tentang sajaegi yang saat ini kembali viral lantaran Park Kyung menulis sebuah cuitan dan menuduh beberapa penyanyi terlibat aksi curang ini.

“Manipulasi tangga lagu sudah lebih luas dan terbuka sejak tahun 2017. Tidak ada contoh dengan bukti hukum atau penilaian,” kata Jak Ga, dilansir dari Soompi. Jak Ga melanjutkan, hal seperti sajaegi merupakan kebenaran yang sudah terbuka diketahui orang-orang dalam industri musik dan seringkali mereka menerima penawaran untuk melakukannya. Jak Ga bahkan menyebutkan tindakan sajaegi hampir setingkat rahasianya dengan transaksi perdagangan narkoba.

Sayangnya, tindakan manipulasi ini tidak bisa dibawa secara hukum karena tidak ada yang bisa dikonfirmasi tanpa campur tangan pribadi. Kim Jak Ga menjelaskan bagaimana sebuah kontrak sajaegi dibuat oleh orang yang disebut sebagai broker.

"Disebut sebagai bisnis viral, langsung menghubungi agensi ketika seorang penyanyi dari agensi tersebut debut atau merilis musik baru, atau mereka juga terhubung melalui referensi,” kata dia.

Sejumlah uang kemudian dibayarkan agar perusahaan tersebut mempertahankan nomor satu dalam waktu tertentu. Perjanjian tersebut dilakukan perusahaan yang berbisnis viral ini. Untuk penentuan harga, hal itu bergantung kepada faktor apakah penyanyi tersebut masih merintis atau sudah mapan secara popularitas.

Jak Ga juga menjelaskan kantor-kantor tersebut ditempatkan di berbagai negara, termasuk Cina. “Ratusan gawai menggunakan banyak ID yang didaftarkan di situs musik. Proses streaming terjadi secara instan terutama pada malam hari dan dini hari ketika tidak banyak pengguna. Puluhan ribu ID yang masuk dengan mudah bisa menaikkan sebuah lagu ke tangga musik.”

Pada tahun 2015, kanal televisi JTBC sempat membocorkan perusahaan di Cina yang melakukan sajaegi. Sesuai yang dideskripsikan Jak Ga, banyak gawai yang sedang memutar sebuah lagu. Menurut Jak Ga, saat ini tidak banyak penyanyi dengan basis penggemar yang kuat sehingga manipulasi tangga lagu lebih sering terjadi.

Meskipun terjadi sejak lama, hingga saat ini masih sulit untuk mengungkap tindak sajaegi dalam tangga lagu. “Hal ini hanya bisa diungkapkan oleh pelapor. Tetapi alasan lainnya ini sulit diungkap karena situs musik tidak aktif dalam membuka data dan pola,” jelas Kim Jak Ga. Situs musik di Korea Selatan yang tidak transparan dalam menunjukkan data membuat pelaku sajaegi masih belum jelas siapa yang melakukan. Yang pasti, sebuah tindakan sajaegi pasti memiliki campur tangan agensi yang menaungi artis tersebut.

 

Tag: Musik K-pop