Bagaimana Jika Ternyata Baru Dua Persen Kasus COVID-19 yang Terdeteksi di Indonesia?

Bagaimana Jika Ternyata Baru Dua Persen Kasus COVID-19 yang Terdeteksi di Indonesia?

Presiden Joko Widodo (Instagram/@jokowi)

Bagikan:

JAKARTA - Indonesia memiliki masalah serius terkait penanganan COVID-19. Dari sisi medis, Indonesia mencatatkan defisit signifikan terkait fasilitas kesehatan, termasuk tempat tidur rumah sakit dan sejumlah fasilitas perawatan intensif lain. Yang juga menyedihkan, Indonesia tak memiliki cukup staf medis.

Paparan data yang ditinjau media asing, Reuters itu turut mencantumkan peringatan para pakar kesehatan soal Indonesia yang akan menjadi episentrum baru pandemi COVID-19. Data terakhir, Kamis, 26 Maret, tercatat penambahan 103 kasus positif COVID-19. Artinya, angka kumulatif COVID-19 di Indonesia kini mencapai 893 kasus.

Sementara, untuk pasien meninggal, Indonesia mencatatkan kasus tertinggi se-Asia Tenggara dengan 78 kematian. Segala kekacauan ini terjadi karena pemerintah yang sejak awal lamban menangani masalah ini. Merujuk laporan yang sama, para pakar memperkirakan kasus COVID-19 jauh lebih tinggi dari yang terlapor karena tingkat pengujian yang rendah dan kematian yang tinggi.

Studi yang dilakukan Pusat Pemodelan Matematika untuk Penyakit Menular yang berbasis di London, Inggris memperkirakan hanya dua persen dari kasus COVID-19 di Indonesia yang termonitor dalam laporan. Data ini dirilis Senin, 23 Maret lalu. Artinya, sejatinya ada sekitar 34.300 kasus positif COVID-19 di Indonesia, lebih banyak dari kasus COVID-19 di Iran.

Pemodelan lain memproyeksikan skenario terburuk kasus COVID-19 di Jakarta dapat meningkat hingga lima juta pada akhir April. Hanya di Jakarta. "Kami telah kehilangan kendali, virus itu telah menyebar di mana-mana. Mungkin kita akan mengikuti Wuhan atau Italia. Saya pikir kita berada dalam kisaran itu,” kata Ascobat Gani, seorang ekonom kesehatan masyarakat, dikutip dari Reuters, Kamis 26 Maret.

Meski begitu, pemerintah Indonesia tidak sependapat. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto mengatakan, dampak virus tidak akan separah itu. "Kami tidak akan seperti itu," katanya, menanggapi pembandingan kasus Indonesia dengan Italia dan China.

"Yang penting adalah kita mengerahkan orang-orang untuk tetap menjaga jarak," tambah pria yang akrab disapa Yuri.

Jubir Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto (Istimewa)

 

Sistem kesehatan

Sorotan besar tentunya ada pada sistem kesehatan Indonesia yang dinilai sangat buruk dibanding negara senasib lain yang terdampak COVID-19. Indonesia yang dihidupi 260 juta penduduk hanya memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit. Data yang sulit dibantah oleh Yuri karena merujuk langsung pada data Kementerian Kesehatan.

Dalam hitung-hitungan matematika, kondisi itu sama dengan 12 tempat tidur untuk setiap 10 ribu orang. Angka ini berbanding jauh dengan Korea Selatan yang memiliki 115 tempat tidur untuk setiap 10 ribu orang, sesuai data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Lainnya, terkait tenaga kesehatan. Pada 2017, WHO mencatat Indonesia memiliki empat dokter per 10 ribu orang. Sementara, Italia memiliki sepuluh kali lebih banyak. Sedangkan Korea Selatan memiliki dokter enam kali lebih banyak. Rumah sakit jelas tak siap.

“Rumah sakit tidak siap untuk mendukung kasus-kasus yang potensial. Perawatan sangat terbatas," kata Budi Haryanto, seorang ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia.

Alat perlindungan untuk tim medis Indonesia juga dikritisi. Banyak staf kesehatan yang tidak memiliki perlindungan yang mumpuni. Hal tersebut disampaikan langsung oleh seorang dokter yang mengatakan bagaimana ia harus menggunakan jas hujan karena tidak ada baju medis yang tersedia.

"Teman-temanku, satu per satu, tertular virus," katanya, menahan air mata.

Perkembangan terakhir terkait ini, pemerintah Indonesia menyatakan siap memasok 175 ribu set peralatan pelindung baru untuk staf medis yang akan didistribusikan di seluruh negeri. Selain itu, rumah sakit darurat dibuka di Gedung Wisma Atlet dan mampu menampung hingga 24 ribu pasien. Lainnya, dokter dan staf medis telah dijanjikan bonus, dan 500 ribu alat rapid test telah tiba dari China.

Kritik lain ada pada desentralisasi sistem kesehatan di Indonesia. Desentralisasi yang amat sangat menyulitkan pemerintah pusat untuk mengoordinasikan respons di negara kepulauan yang memiliki luas sekitar 19 ribu pulau yang membentang 5.100 kilometer.

Kurangnya tempat tidur unit perawatan intensif (ICU) juga mengkhawatirkan para ahli. Hal tersebut dikarenakan Indonesia tak hanya menghadapi COVID-19 namun juga demam berdarah (DBD).

"Jika Anda sakit parah dan Anda bisa masuk ICU dan memakai ventilator, kebanyakan orang semestinya selamat," kata Archie Clements, spesialis kesehatan masyarakat dari Universitas Curtin Perth, merujuk pada pasien COVID-19. 

"Jika Anda tidak membawanya ke ICU dan tidak menggunakan ventilator, maka mereka akan mati," tambah Clements. 

Sebuah studi pada jurnal Critical Care Medicine membandingkan tempat perawatan intensif untuk orang dewasa di negara-negara Asia menggunakan data 2017. Hasilnya, Indonesia diketahui memiliki 2,7 tempat perawatan kritis per 100 ribu orang, paling rendah di Asia.