Polemik Sistem Pendidikan Online di Indonesia

Polemik Sistem Pendidikan <i>Online</i> di Indonesia

Ilustrasi (Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memberi peringatan keras kepada seluruh guru agar membimbing siswa selama proses belajar mengajar di rumah atau sistem online saat wabah corona atau COVID-19. 

Sebab, dia dapat informasi, ada sejumlah guru yang memberikan tugas kepada siswa tanpa ada pembimbingan. Proses belajar mengajar seperti ini membuat siswa terbebani dan kesulitan ketika mengerjakan tugas tersebut.

"Jadi mohon, siswa-siswa kita walau bekerja dari rumah, bahwa guru itu juga benar-benar mengajar dari rumah dan membantu membimbing siswanya," ucap Nadiem, Selasa, 25 Maret.

Karenanya, Nadiem meminta kepada seluruh guru untuk menggunakan cara-cara atau metode tertentu agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Kemudian, pemanfaatan sistem online pun harus dilakukan semaksimal mungkin ketika wabah COVID-19 melanda.

Penggunaan sistem online dengan kondisi saat ini, dianggap cara terbaik untuk mengurangi kontak dan memurus mata rantai penyebaran virus tersebut.

"Kami juga ingin menekankan bahwa walaupun banyak sekolah sekarang melakukan belajar dari rumah, bukan berarti gurunya hanya berikan pekerjaan saja kepada murid, tapi juga ikut berinteraksi dan berkomunikasi membantu muridnya dalam mengerjakan tugasnya," ungkap Nadiem.

Sementara itu, Wakil Sekertaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriawan Salim mengatakan,  setidaknya ada tiga faktor yang menjadi penyebabnya pola mengajar online tidak dilakukan dengan cara pembimbingan dan hanya memberi tugas.

Pertama, karena ketidakmengertian beberapa guru dengan teknologi saat ini. Sehingga, mereka memilih menggunakan cara offline dalam proses belajar mengajar.

"Ketidakmengertian guru mengelola dan menggunakan perangkat atau media," kata Satriawan.

Kemudian, faktor yang kedua karena aturan yang dibuat oleh Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan yang terlalu kaku sehingga menghambat proses belajar mengajar. Terakhir, soal masalah ekonomi masing-masing siswa yang dianggap tidak semua memiliki gawai.

"Ada daerah yang orang tua dan siswa belum memiliki gawai dan laptop atau komputer," ungkap Satriawan.

Sementara, prakritisi pendidikan Indra Charismiadji mengatakan, persolan ini bukanlah hal yang baru. Sebab, penerapan sistem belajar online sempat dicoba sebelum adanya wabah COVID-19. Namun, sejumlah guru tak siap menerapkannya, sehingga metode tersebut banyak ditinggalkan.

Bahkan, dengan berkaca pada ketidaksiapan para guru dengan sistem online, ada anggapan jika mereka tidak bisa mendidik atau membentuk para generasi muda untuk bersaing dengan negara-negara maju lainnya.

"Guru-guru kita tidak siap membawa anak-anak mita menghadapi tantangan abad 21," tegas Indra.

Selain itu, ketidaksiapan guru seperti ini juga dinilai karena tidak mengikuti penerapan standar proses pendidikan sesuai dengan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dengan ketidaksiapan yang terus berulang seperti ini, katanya, sistem pendidikan Indonesia harus mengevaluasi para guru dan memberikan hukuman.

"Cari pekerjaan lain saja karena taruhannya masa depan penerus bangsa," tandas Indra.