Cerita Pasien Corona: Harapan Sembuh itu Ada dan Nyata

Cerita Pasien Corona: Harapan Sembuh itu Ada dan Nyata

Ilustrasi (Irfan Meidianto/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Beberapa hari ini, RO sesekali beranjak dari tempat tidur menuju jendela, cuma ingin tahu bagaimana perkembangan kondisi di luar sana. Maklum, sejak dinyatakan positif corona 7 hari lalu, pria ini langsung diisolasi di salah satu rumah sakit rujukan virus corona atau COVID-19 di Jakarta.

Awalnya, RO menjadi pasien dalam pengawasan (PDP) di sebuah rumah sakit swasta pada 14 Maret lalu. Esoknya, ia menjalani tes swab. Hasil tes keluar pada 17 Maret dan menyatakan RO positif corona. Pada 18 Maret RO dipindahkan ke rumah sakit rujukan dan dirawat sampai sekarang. 

RO mendapat kamar isolasi di rumah sakit rujukan di kawasan Jakarta Timur. Dari luar, gedung tampak biasa saja. Tapi, RO mengaku fasilitas yang ada di dalam rumah sakit ini tak kalah memadai dibanding rumah sakit swasta. Di kamar ini, RO bisa melakukan berbagi aktivitas. 

"Saya mengobrol dengan teman sekamar saya yang juga positif, membaca Alkitab, membaca berita di medsos, serta berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman melalui WhatsApp," tutur RO saat dihubungi VOI lewat pesan singkat, Selasa, 24 Maret.

Dalam satu kamar, RO berbagi ruang dengan satu orang pasien lainnya. Dari cerita rekan sekamarnya, RO punya cerita menarik. Rekannya dinyatakan positif virus corona setelah pulang dari Malaysia bersama istrinya. Tapi, ternyata sang istri tidak terpapar dan tetap sehat sampai saat ini. 

"Artinya, penyebaran virus ini demikian cepat tapi untuk seseorang terinfeksi meskipun bersama dengan yang positif bergantung kepada imunitas orang tersebut. Demikian sharenya, berharap dapat menguatkan saudara saudara kita yang sedang terpapar COVID-19 ini dan juga keluarga," jelas RO. 

Sampai saat ini, demam yang didera warga DKI berusia 54 tahun ini sudah mereda. Selang infus juga sudah dicabut. Keluhan yang tersisa tinggal batuk dan jika berbicara panjang, ia perlu menarik nafas dalam. Tapi, RO merasa semakin membaik. 

"Saya sudah tidak demam dan infus sudah dicabut, namun masih batuk-batuk sampai dengan saat ini. Meskipun begitu, saya merasa semakin membaik," ucapnya. 

Kesehatan RO mulai membaik setelah tenaga medis di rumah sakit rutin memberi asupan obat, salah satunya adalah klorokuin dan vitamin untuk meningkatkan imunitas tubuh. 

RO punya harapan kuat untuk sembuh dari virus corona. Selain obat, ternyata ada faktor lain yang mendukungnya, yakni peran dokter dan perawat yang lebih dari sekadar memeriksa kesehatan lalu memberi obat. 

"Dokter dan perawat disini sangat baik dan sering memberikan narasi positif dan menyenangkan. Bahkan, mereka suka berhumor juga," tutur dia 

"Meskipun saya tahu beban kerja mereka berat, harus bekerja selama 6 jam dengan menggunakan APD Hazmat yang menutup seluruh tubuh tanpa bisa makan, minum, dan istirahat," tambahnya. 

Dari dedikasi para tenaga medis itulah, RO termotivasi untuk berpikir positif bahwa ia pasti sembuh. Ditambah, doa dari istri dan anak-anaknya semakin menguatkan harapan RO.

Tak sabar, dalam benak RO, untuk pulang ke rumah. Sebab, sejak awal masuk rumah sakit, keluarganya memang tak diizinkan menjenguk, sesuai dengan SOP penanganan pasien positif COVID-19. 

Keluarga RO hanya bisa memberikan pakaian bersih, makanan, atau keperluan lainnya. Barang-barang itu diserahkan kepada pos penitipan dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Selama dirawat, dia bisa berkomunikasi dengan baik dengan keluarganya lewat aplikasi WhatsApp.

Hari ini, RO baru saja dites swab lagi. Kata dokter, hasilnya akan keluar dalam 3 hari. Ketika hasilnya negatif, RO dinyatakan sudah sembuh dan bisa pulang ke rumah.

Kepada VOI, RO menitipkan pesan agar bisa dibaca oleh sesama penderita virus corona yang dirawat di rumah sakit, maupun isolasi diri di rumah. 

"Kepada saudara-saudara kita yang saat ini sedang terbaring dalam pergumulan yang sama dengan saya bahwa harapan sembuh itu ada dan nyata. Pemerintah sudah melaksanakan sesuai dengan protokol penanganan COVID-19 ini," tutup RO.

Ilustrasi (Ilham Amin/VOI)