Perihal Keris, Pusaka Pelengkap Kuasa

Perihal Keris, Pusaka Pelengkap Kuasa

Relief keris di Candi Sukuh (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - “Matilah dengan keris tertancap di dadamu sebagai seorang kesatria, bukan mati dengan tombak tertancap di punggungmu karena lari dari medan laga.”

Begitulah penggambaran tentang filosofi pusaka bernama keris yang diucap oleh Panji Sukma dalam novelnya berjudul Sang Keris (2020). Meski hanya berbentuk novel, pemenang kedua dari sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2019 ini sudah selayaknya patut diacungi jempol.

Bagaimana tidak, dirinya mampu mengawini gairah akan keris dengan budaya jawa yang diramu dengan sentuhan sastra yang menarik. Selain itu, keris yang banyak dikenal sebagai alat tikam, olehnya diperlihatkan realita bahwa keris pun menempati bagian penting dalam kehidupan masyarakat jawa.

Hal itu dikarenakan keris termasuk dalam lima kesempurnaan hidup seorang lelaki jawa, baik dari kalangan penguasa, priayi, hingga orang biasa. Lima kesempurnaan hidup tersebut, antara lain adalah wisma atau rumah, wanita, kukila (burung sebagai hobi), turangga (kuda sebagai lambang kendaraan), dan curiga (keris).

Sehingga, untuk mendapatkan kesempurnaan yang hakiki, mereka berlomba-lomba mendapatkan kesempurnaan itu. Salah satunya perihal mendapatkan keris. Walau begitu, keris dianggap bukan sekadar senjata yang di dalam proses pembuatannya terdapat empat unsur alam seperti purosani, mangangkang, mangambal, dan balitung.

Keris, seperti yang pernah diungkap Garrett dan Bronern Solyon dalam buku The World of the Javanese Keris (1988) dianggap sebagai pengukuh identitas sebagai lelaki dewasa dan seorang anggota keluarga dan masyarakat yang bertanggung jawab.

Berdasarkan hal itu pula, keris pun sering kali menjadi saksi tuannya dalam memainkan peran mempertahankan kuasa, baik saat menarik upeti-upeti, merebut kekuasaan, mengomandoi serangan, atau membantai senapati kerajaan lain.

“Sepintas kau (keris) teringat dengan sensasi itu, sebuah sensasi saat kau digunakan tuanmu untuk menusuk seorang raja yang dianggap sebagai keturunan Wisnu, darah raja itu mengalir melewati dirimu dan sejak saat itu kau tak pernah lagi menikmati merasakan sensasinya,” tulis Panji Sukma.

Untuk itu, wajar jika keris sudah dikenal melakoni banyak peran dalam kehidupan pada orang-orang Jawa pada zaman dahulu. Panji berucap, “Jangan bilang kau (keris) tak berperan, kejadian itu tidak akan ada seandainya kau tak menuruti keinginan tuanmu. Dielusnya benteng taman keputeren hingga membuat benteng tinggi itu luluh melandai, dan tuanmu berhasil melompatinya.”

“Kau juga nyirep para penjaga hingga membuat mereka terlelap, tentu kau masih ingat semua itu. Bukankah itu pula yang selalu menghantui perenunganmu selama kau ada di tempat ini,” ucap penulis Sang Keris.

 

Kuasa keris

Disinyalir, bentuk keris yang mirip dengan masa kini itu justru baru muncul pada abad ke-14, meskipun bisa jadi orang-orang sudah mengenal keris lebih dulu. Hal itu didapat dari relief di Candi Sukuh yang berada di lereng Gunung Lawu (Karanganyar, Jawa Tengah).

Dalam relief tersebut, terdapat sebuah adegan dimana tergambarkan adegan tempat kerja pandai besi yang terlihat pula sejumlah benda besi yang dihasilkan. Uniknya, beberapa diantaranya ada sebuah alat tusuk berbilah ramping meruncing yang diyakini sebagai keris oleh para ahli keris.

Oleh sebab itu, tak salah jika Budiarto Danujaya dalam tulisannya berjudul Keris: Sebuah Pencapaian Masa Silam pada buku "1000 Tahun Nusantara" (2000) menerangkan fungsi keris pada masa lalu. Ia menggambarkan, di masa lalu, kepercayaan bahwa sebuah keris mempunyai “daya” tertentu sehingga menimbulkan legitimasi bagi seseorang untuk menduduki jabatan tertentu sudah menjadi barang biasa.

“Sebagai contoh, Amangkurat II dikisahkan pernah mengirim utusan untuk ‘meminjam’ pusaka Puger, yakni tombak Kiai Plered dan keris Kiai Mesanular. Ketika dikirimkan aslinya, Amangkurat II tercekam takut, lalu marah. Ia segera mengembalikan lalu meminta pinjam kopi modelnya saja,” tulis Budiarto Danujaya.

Relief keris di Candi Sukuh (Commons Wikimedia)

Pada zaman itu, Kiai Plered merupakan pusaka keraton turun temurun, yang pernah dipakai pendiri Mataram, Panembahan Senapati, untuk membunuh lawannya Arya Panangsang (Jipang). Sementara Kiai Mesanular adalah pusaka raja terakhir raja Majapahit. Untuk itu, orang-orang percaya daya magis pusaka tersebutlah yang membuat orang sekelas raja saja takut menyentuhnya.

Tak hanya itu, perihal kepercayaan sebilah keris dapat membawa legitimasi juga terdapar dalam tradisi mereka yang menghuni desa-desa di Jawa. Budiarto mengungkap, “Misalnya, kalau terjadi halangan hadir, karena meninggal atau bertugas jauh, perkawinan dapat tetap dilangsungkan dengan keris pusaka sang pengantin lelaki sebagai ganti/wakil kehadirannya.”

Bahkan, setelah disuling peradaban, keris sering diasosiasikan secara simbolik sebagai lambang ikatan persaudaraan, atau keris dipakai sesajen penunggu dangau, tolak bala, dan sebagainya. Lebih jauh lagi, dari sebilah keris seseorang dapat memahami segala bentuk aspek budaya dan kehidupannya lewat satu hal saja yaitu keris, yang kiranya dapat melebar ke segala penjuru pokok bahasan terkait Jawa.

Itu bukan bualan belaka, karena hal itu diungkap langsung oleh Dr. Groneman dalam bukunya yang paling banyak dikutip oleh para penulis keris selanjutnya, Der Kris Der Javaner (1910). Namun, kala melirik segi tampilan dan estetika keris, pendapat dari Edward Frey, pengarang buku The Kris, Mystic Weapon of the Malay World (1986), punya cerita sendiri. Dirinya menganggap, “Kebanyakan senjata menuntut keterampilan canggih dalam kerja logam, tetapi keris merupakan contoh lebih baik dari keartistikan dalam kerja logam dibanding senjata manapun.”

Kiranya, pendapat di atas dapat diamini kala orang-orang melihat langsung bentuk dari pusaka dari pangeran Jawa Diponegoro yang baru-baru ini diserahkan oleh Balanda bernama keris Nogo Siluman pada 3 Maret lalu.

Terlepas dari perdebatan benar tidaknya pusaka tersebut milik Pangeran Diponegoro. Sesuatu yang pasti, keris bergagang kayu dengan ukiran kepala naga emas di bagian bawahnya, serta tubuh naga yang menjalar sampai ke ujung keris di antara sulur-sulur tanaman yang juga berwarna emas.  Setidaknya, mampu membuat orang-orang yang melihatnya berdecak kagum dan membuat Nogo Siluman (kembali) dibahas dalam segala moment tiap dilangsungkannya diskusi ringan.

Tag: sejarah