Indonesia Perlu Belajar dari Vietnam dalam Menangani Pasien COVID-19

Indonesia Perlu Belajar dari Vietnam dalam Menangani Pasien COVID-19

Ilustrasi masker (unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Vietman menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang dipuji oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena cekatan dalam menangani pasien COVID-19. Tercatat sebanyak 16 orang penderita coronavirus di Hanoi, dilaporkan telah berhasil disembuhkan.

Kementerian Kesehatan Vietnam pun menyatakan bahwa tidak ada lagi kasus COVID-19 yang tercatat sejak 13 Februari 2020. Menyusul laporan terakhir ada sebuah desa di sebelah utara Hanoi yang harus diisolasi selama 20 hari. 

"Jika pertempuran COVID-19 ibarat perang, maka kami telah memenangkan putaran pertama tetapi bukan seluruh perang karena situasinya bisa sangat tidak terduga," kata Wakil Perdana Menteri Vietnam, Vu Duc Dam, seperti dikutip dari Reuters.

Cepatnya Vietnam dalam menangani virus corona, tidak terlepas dari kesigapan pemerintah sejak mengetahui kasus pertama penyakit ini. Tak hanya instansi pemerintahan, kerjasama antara masyarakat juga turut berkontribusi dalam penanganan virus yang mirip SARS ini.

Sebagaimana diketahui Vietnam secara resmi menyatakan COVID-19 sebagai epidemi pada 1 Februari, sejak saat itu jumlah kasus corona yang dilaporkan terus meningkat. Tak basa-basi, Kementerian Kesehatan memerintahkan 10.600 penduduk Son Loi untuk tidak meninggalkan kota dan lebih baik menghabiskan waktu di rumah selama 20 hari.

Pihak pemerintah Vietnam juga langsung menghentikan semua penerbangan menuju dan dari China. Semua izin yang diberikan untuk penerbangan antara Vietnam dan China, termasuk Taiwan, Hong Kong, dan Makau, telah dicabut hingga ada pemberitahuan berikutnya, kata pemerintah dalam satu pernyataan.

"Negara ini telah mengaktifkan sistem responsnya pada tahap awal wabah, dengan mengintensifkan pengawasan, meningkatkan pengujian laboratorium, memastikan pencegahan dan pengendalian infeksi dan manajemen kasus di fasilitas kesehatan, penjelasan risiko virus yang jelas, dan kolaborasi multi-sektoral," ujar Kidong Park, perwakilan WHO di Vietnam.

Tak hanya Kementerian Kesehatan, kementerian lainnya juga berkontribusi agar penyebaran virus tersebut dapat ditekan. Wakil Menteri Pendidikan dan Pelatihan Nguyen Huu Do mengatakan, Kementerian Pendidikan telah menginstruksikan sekolah untuk mendisinfeksi ruang kelas sebelum siswa memulai dan melanjutkan kegiatan belajar mengajar. 

Guru dan staf diminta untuk selalu mengingatkan siswa tentang menjaga kebersihan seperti mencuci tangan dan melakukan pemeriksaan suhu pada siswa pada saat kedatangan mereka. Sekolah juga diharuskan menyiapkan formulir kesehatan yang digunakan untuk memantau kesehatan siswa.

Meski demikian, Vietnam tidak 'menyantaikan' diri. Meski berhasil mengontrol virus dengan baik sampai saat ini, berbagai pihak di Vietnam masih percaya bahwa ada beberapa peraturan yang harus dilakukan agar virus tersebut tidak kembali, yaitu dengan cara pelarangan perdagangan satwa liar.

Pada 28 Januari, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc memerintahkan larangan impor hewan liar ke Vietnam. Departemen Perlindungan Hutan untuk sementara juga melarang pengangkutan hewan liar di luar wilayah atau keluar dari Vietnam. Saat virus COVID-19 pertama kali mewabah di Wuhan, dipercaya bahwa virus tersebut berasal dari daging hewan liar, seperti kelelawar dan ular. 

Otoritas Vietnam juga menghentikan program bebas visa untuk warga negara Korea Selatan. Selain itu, semua wisatawan yang datang dari Korea Selatan, Iran, dan Italia diwajibkan isolasi selama 14 hari. 

Sekitar 700 turis dari Korea Selatan dikarantina di Can Tho sebagai tindakan pencegahan penyebaran virus. Selain itu, Vietnam Airlines menangguhkan sementara semua penerbangan ke dan dari Korea Selatan mulai 5 Maret. Sebelumnya pada 26 Februari, Bamboo Airways telah menangguhkan semua penerbangan ke dan dari Korea Selatan.

"Kami berada di titik kritis dalam wabah. Negara-negara, termasuk Vietnam, harus menggunakan waktu ini untuk mempersiapkan kemungkinan penularan yang lebih luas," tukas Kidong Park.

Meski Vietnam telah berhasil menyembuhkan seluruh pasien COVID-19 di negaranya. Namun bukan berarti Vietnam bisa menurunkan kewaspadaanya, mengingat penyebaran infeksi virus ini masih berlangsung di sejumlah negara sekitar. 

Hingga kini, jumlah kasus virus corona atau COVID-19 di seluruh dunia mencapai 167,457. Menurut data Johns Hopkins CSSE, pasien COVID-19 terbanyak di luar Cina terjadi di Italia dengan jumlah kasus 24.747. Kemudian disusul Iran 13.938 kasus dan Korea Selatan dengan 8.162 kasus.

Sedangkan jumlah pasien yang sembuh dan dinyatakan bebas virus corona COVID-19 mencapai 76.851 orang Spanyol 289 kematian.

Di Indonesia, jumlah pasien yang teridentifikasi virus corona mencapai 117 orang dengan lima orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Sementara baru lima orang pasien lainnya dilaporkan sembuh dan terbebas dari virus corona.