Keris bagi Pangeran Diponegoro Bukan Sekadar Alat Perang

Keris bagi Pangeran Diponegoro Bukan Sekadar Alat Perang

Keris Pangeran Diponegoro yg diserahkan Belanda ke Presiden Joko Widodo (Foto: Twitter @setkabgoid)

Bagikan:

JAKARTA - Keris milik Pangeran Diponegoro yang tersimpan di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, akhirnya kembali ke Indonesia. Keris tersebut sebelumnya diserahkan oleh Pemerintah Belanda kepada Duta Besar Indonesia I Gusti Agung Wesaka Puja, sebelum sampai ke Presiden Joko Widodo.

Untuk menemukan keris tersebut milik Pangeran Diponegoro, butuh penelitian yang sangat mendalam, apalagi keris tersebut sempat dinyatakan hilang selama ratusan tahun. Kini pusaka milik Pangeran Diponegoro tersebut resmi kembali kepada Indonesia dan dipajang di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Keris tersebut bernama Kyai Nogo Siluman. Sebelumnya, didapat Belanda saat penangkapan Pangeran Diponegoro setelah Perang Jawa yang berlangsung pada 1825-1830. Kolonel Jan-Baptist Cleerens memberikan keris tersebut kepada Raja Willem I pada 1831 sebagai hadiah.

Kyai Nogo Siluman kerap dibawa ke mana-mana oleh Pangeran Diponegoro, bahkan saat perang. Diponegoro juga memiliki keris yang diberi nama Kyai Wiso Bintulu.

Dalam buku Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855, oleh ahli sejarah Peter B Carey, Diponegoro kerap membawa beberapa keris lainnya yaitu keris Kyai Abijoyo yang merupakan pemberian sang ayah dan keris Kyai Ageng Bondoyudo. Saat wafat, keris Kyai Ageng Bondoyudo ikut dikuburkan di liang lahat bersama Diponegoro. 

Di Indonesia sendiri, keris dipercaya merupakan sebuah pusaka yang lebih kuat dari pedang. Terbuat dari benda-benda di alam seperti batu, baja, dan bijih besi yang berkualitas dan semua benda tersebut benar-benar berasal dari alam, membuat keris tidak menjadi sekadar senjata namun menjadi pusaka dan memberi nilai lebih bagi pemiliknya. 

Dikutip dari Majalah Adiluhung Pelestarian Budaya Nusantara Edisi 17, Rabu 11 Maret, keris memang senjata perang pada masanya, namun bukan berarti alat khusus pembunuh. Dalam perang, keris digunakan sebagai kendel atau penguat.

Hal tersebutlah yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro. Dia membawa keris pusaka untuk meningkatkan percaya diri saat perang. Nyatanya hal tersebut benar adanya karena Belanda kerap dibuat kewalahan saat perang. 

Keris memiliki nilai filosofi, bahkan lekukan yang ada pada keris memiliki artinya tersendiri. Sebanyak apapun lekukan pada keris, maka akan memiliki ujung yang sama. Jadi, semua tindakan manusia di dunia baik lurus maupun belok-belok akhirnya mengakui adanya sebuah kekuasaan yang tidak dimiliki manusia dan murni dimiliki oleh yang Esa yaitu Tuhan. 

Tak hanya keris, Pangeran Diponegoro memiliki benda pusaka lainnya yaitu tongkat yang diberi nama Kanjeng Kyai Tjokro. Tongkat tersebut sebelumnya berada di Belanda dan disimpan di rumah keluarga Braud sejak 1834 hingga dikembalikan kepada pihak Indonesia pada 2015 saat pameran 'Aku Diponegoro'.

Kanjeng Kiai Tjokro merupakan tongkat pusaka Pangeran Diponegoro akhirnya kembali ke Indonesia. Tongkat itu telah pulang ke rumah aslinya. Tongkat tersebut merupakan hadiah dari pribumi untuk Pangeran Diponegoro dan kerap dibawa saat mengunjungi tempat suci untuk berziarah dan berdoaagar kegiatannya terberkati.

Tongkat Kyai Tjokro ini berada di tangan Pangeran Adipati Notoprojo sebelum Pangeran Diponegoro tertangkap pada 1830. Tongkat Kanjeng Kyai Tjokro lalu diserahkan kepada Gubernur Jenderal Jean Chretien Baud pada 1834 dengan tujuan mengambil hati Pemerintah Hindia Belanda.