Lestari Alamku Bestari Saguku

Lestari Alamku Bestari Saguku

Pengolahan sagu oleh masyarakat (Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Sulit memungkiri kekayaan hayati dalam hutan Indonesia. Ketersediaan pangan berupa biji-bijian, umbi-umbian, jamur, buah-buahan, pati-patian, hingga biji-bijian memenuhi daratan berimbun negeri ini. Salah satu kekayaan itu terwujud dalam sagu. Betapa melimpahnya potensi alam Indonesia. Gemah ripah loh jinawi.

Melihat potensi itu, Presiden Pertama Indonesia, Soekarno bahkan pernah mengangkat kekayaan itu dalam salah satu pidatonya di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1952. “Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan rakyat tak dapat dipenuhi, maka ‘malapetaka.' Oleh karena itu, perlu usaha secara besar-besar, radikal, dan revolusioner,” seru Soekarno.

Tentu, bukan tanpa alasan Bung Karno menggebu kala menyampaikan pidato di atas. Ia gelisah melihat negeri yang dipimpinnya kala itu amat tergantung pada pangan dari luar. Mau tak mau, dengan segenap kuasanya, Soekarno mendorong kemandirian dan kedaulatan pangan. Harga mati.

Lebih dalam lagi, Soekarno menyampaikan harapan agar masyarakat Indonesia mau mengubah sumber makanan utama mereka dan beralih menuju pangan lokal lainnya agar isi piring rakyat tak melulu beras. “Kenapa kita harus membuang deviden 120 sampai 150 juta dolar, kita pergunakan tiap tahun untuk membeli beras dari luar negeri? Kalau 150 juta dolar kita pergunakan untuk pembangunan, alangkah baiknya hal itu,” tutur Soekarno.

Sayang, semangat Soekarno tak berlanjut. Penyeragaman pangan malah menjadi agenda utama pemerintahan Orde Baru lewat Swesembada beras yang dielu-elukan sebagai obsesi empunya kuasa. Hal yang sama pun berlanjut hingga era orde paling baru ala Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Keadaan relatif tak berubah. Malahan, jumlah sawah guna ditanami beras semakin bertambah, bahkan menyentuh wilayah Timur Nusantara: Maluku dan Papua.

Catatan dan perjalanan

Ada yang disayangkan dari langkah ini. Sebab, Maluku dan Papua sebenarnya memiliki kekayaan sumber pangan utama lain: sagu. Di era kekinian, posisi sagu sebagai sumber pangan utama telah tergeser. Kondisi ini jelas berbeda dengan ribuan tahun lalu ketika sagu masih jadi primadona makanan pokok di Nusantara. Dari Sabang hingga Merauke.

Dikutip dari Ahmad Arif dalam bukunya yang berjudul Sagu Papua untuk Dunia, ia mengungkap kehadiran sagu sudah di tengah kehidupan masyarakat telah terjadi semenjak abad ke-13. Catatan tersebut bisa didapat dari kisah penjelajahan terkenal Marco Polo ke Nusantara. Marco Polo memberi gambaran bahwa sagu memiliki peran penting sebagai sumber pangan masyarakat, selain beras.

“Anda harus tahu bahwa mereka memiliki jenis pohon yang memiliki kulit tipis dan di dalamnya terdapat tepung yang sangat baik untuk dimakan. Dan saya katakan lebih lanjut kepada Anda bahwa Tuan Marco Polo telah mencoba tepung ini dan membuat roti (yang) sangat enak dimakan,” tertulis.

Memotong dan mengemas sagu kering (Commons Wikimedia)

Meski begitu, catatan lain menyebut eksistensi sagu sebagai pangan nusantara sudah mulai digaungkan pada abad ke-7, saat di mana Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Utara sedang jaya-jayanya. Melalui prasasti Talang Tuo yang berisikan narasi Raja Sriwijaya, dikisahkan bahwa kala itu sebuah taman dibangun. Di dalamnya, aneka pohon, mulai dari kelapa, pinang, bambu, aren, hingga sagu ditanam.

Setelah itu, pada tahun 1741, pakar Botani berkebangsaan Jerman, Rumphius memiliki catatan paling rinci perkara sagu di Ambon. Lewat buku langkanya yang berjudul Herbarium Amboinense, dituliskan bahasan yang tak cuma meliputi sagu, tapi juga memberi pandangan soal pemanfaatan ganja. Buku beranak enam seri itu bahkan dijadikan landasan untuk mendorong pemerintah untuk memanfaatkan tanaman ganja untuk medis.

Namun, persebaran Sagu di timur Indonesia --Maluku dan Papua-- bisa dilihat dari mahakarya seorang naturalis berkebangsaan Inggris, Alfred Russel Wallace yang memuat catatan perjalanannya ke Nusantara dalam buku berjudul The Malay Archipelago (1869). Buku itu banyak berisi kisah perjalanannya mengarungi bumi Nusantara dari Kalimantan hingga Papua demi mencari tahu terkait kekayaan flora dan fauna.

Pohon sagu (Commons Wikimedia)

Bahkan, Wallace tak lupa mengungkap betapa senangnya ia bisa melihat langsung proses pembuatan sagu serta memperoleh data menarik tentang sagu sebagai makanan pokok penunjang ketahanan pangan masyarakat di Maluku maupun Papua kala itu. “Tenaga yang diperlukan untuk mengelolah sagu tak begitu besar," tertulis.

"Pembuatan sagu mentah dari satu pohon memakan waktu lima hari dan dikerjakan oleh dua orang. Selanjutnya, pengelolaan sagu mentah hingga menjadi kue juga memerlukan waktu lima hari dan dilakukan oleh dua orang. Jika demikian, dalam waktu seratus hari, seseorang dapat menghasilkan jatah makan satu orang untuk satu tahun,” tersambung.

Terkait pengalamannya mencoba kue sagu, Alfred juga menuliskan: Kue sagu adalah makanan saya sehari-hari sebagai pengganti roti (selama di Timur Indonesia). Saya menikmatinya bersama secangkir kopi. Kue sagu yang dididihkan akan menjadi pudding atau sup yang bisa mengganti beras yang kadang harus diperoleh dari timur.

Melalui penjelajahan Wallace, sebuah fakta tersirat bahwa sagu bukan lagi dianggap sebagai makanan pokok, tetapi makanan alternatif pengganti nasi. Untuk melegitimasi pendapatnya, catatan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1811-1815, Thomas Stamford Raffles bisa menjadi rujukan. Dari total seribu lebih halaman bukunya, The History of Java, perihal sagu hanya mendapat bagian kecil di bukunya. Kalah jumlah dengan pokok bahasan terkait beras.

“Pohon Aren yang banyak tumbuh di Jawa bisa menghasilkan semacam tepung, seperti tepung sagu di kepulauan timur. Apabila persediaan makanan berkurang, banyak pohon aren yang ditebang untuk diambil tepung. Sari buahnya dapat dibuat menjadi gula cokelat yang biasa dinikmati penduduk. Minuman keras atau tuwak yang terbuat dari aren rasanya lebih enak dibanding dari pohon lain, ungkap Raffles.”

Ia pun turut mengungkap penjelasan panjang lebar terkait cara tepung sagu dibuat. Ia juga memberikan fakta bahwa saat itu pohon sagu sudah sedemikian sedikit. Namun, hal itu dirasa kurang akurat, karena sekarang fakta justru berbicara Indonesia telah memiliki predikat sebagai lumbung sagu terbesar di dunia. Ironinya, jumlah itu tak membuat Indonesia menjadi market leader di pasar ekspor dunia.

Sagu hadir dalam Mustika Rasa

Tak cuma proyek-proyek arsitektur saja yang menjadi fokus Soekarno pada fase awal-awal masa pemerintahannya. Soekarno turut mencanangkan hadirnya proyek yang melibatkan istrinya, Hartini dalam rangka mengumpulkan 1.600 resep-resep makanan tradisional yang ada di pelosok Nusantara lewat buku berjudul Mustika Rasa pada tahun 1967.

Dari total 1.600 resep makanan, setidaknya hadir sekitar 30 resep yang menjadikan sagu sebagai bahan dasar mulai dari empek-empek, hagau, kapurung, sinore, norohombi, papeda, dan lain-lain. Kiranya, itulah bukti keseriusan narasi kemerdekaan dimulai dari lidah yang digaungkan oleh Soekarno. Tak hanya itu. Dalam buku tersebut, Soekarno turut menyisipkan pesan mengenalkan alternatif pangan lainnya selain beras.

Itu dibuktikan dari sambutannya pada buku ini. Bung Karno berucap: Keputusan radikal revolusioner mengubah menu rakyat dari melulu beras menjadi beras, jagung, umbi-umbian, dan lain-lain. Bahan makanan yang tumbuh di Indonesia ditambah dengan ikan dan daging.

Jawaban ketahanan pangan 

Meski makanan pokok sudah diseragamkan dengan beras, seiring waktu, laju penduduk yang terus berkembang membuat negara ini pun turut mengimpor beras untuk memenuhi pangan nasional. Jika tidak dilakukan, maka kelaparan akan hadir dimana-mana.

Alasan berubahnya makan pokok masyarakat dari sagu ke nasi turut dijelaskan oleh Manajer Kampanye Pangan, Air, dan Ekosistem Esensial Walhi, Wahyu Perdana Kepada VOI beberapa waktu lalu. Ia mengungkap bahwa pengambil kebijakanlah yang saat itu bertanggung jawab perihal banyaknya yang memengaruhi masyarakat merubah makanan pokok dari sagu ke beras.

“Pertama, berangkat dari pola pikir pengambil kebijakan. Pada zaman dahulu itu makanan pokok adalah beras. Kedua, ada fase kebijakan yang diambil oleh pemerintah itu, sadar atau tidak sadar, di bawah alam sadar publiknya itu diamini. Jadi, misalnya ada goyunan zaman dahulu itu. Makan sagu berak lem, sehingga makanan pokok yang keren itu ya beras,” ungkap Wahyu. 

Wahyu turut menambahkan bahwa “pangan sebagai beras hadir itu karena penetapan praktik terhadap lahannya, yang banyak dibuka adalah beras. Dalam praktik penetapan program-program itu berdampak dalam tata ruang pangan begitu berhubungan dengan ekosistemnya.”

Untuk itu, jika ingin mengembalikan memori indah terkait sumber pangan lain selain beras. Maka sagu dapat didorong sebagai jawaban guna terpenuhinya stok pangan nasional. Buktinya, jika beras bergantung pada cuaca dan musim, maka berbeda dengan sagu yang sama sekali tak bergantung pada musim.

Masyarakat Mentawai mengolah sagu (Commons Wikimedia)

Selain itu, sagu pun memiliki fleksibelitas penggunaan dan juga banyak kandungan nutrisi, baik yang menjadikannya sebagai produk olahan serta berbagai fungsi lain seperti bahan baku gula dan bioethanol. Bahkan sagu bagi masyarakat papua sudah lebih dari itu semua. Tokoh adat Kampung Saga, Kecamatan Matemani, Kabupaten Sorong, Yosua Muguratu mengungkap eratnya pertalian antara sagu dan kehidupan masyarakat di Papua.

"Sagu seperti ibu bagi orang papua. Bukan hanya sebagai sumber pangan, sagu juga merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan mereka. Jika orang papua meninggalkan sagu, mereka akan kehilangan akar hidupnya," tertulis.

Tag: sejarah