Belajar Memahami Kenapa Tak Ada Kasus Corona di Indonesia

Belajar Memahami Kenapa Tak Ada Kasus Corona di Indonesia

Ilustrasi foto (Irfan Meidianto/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Saat ini, virus corona atau 2019-nCoV sudah menyebar di 24 negara di berbagai benua. Indonesia masih berstatus zero corona atau belum ada satu pun yang terkonfirmasi positif. Keadaan ini justru membuat Indonesia diragukan kapabilitasnya dalam mendeteksi virus corona.

Virus yang sebelumnya disebut 'penyakit pernafasan akut 2019-nCoV' itu, kini memiliki nama resmi "COVID-19".

Anggota PB IDI, Dr. Erni Juwita Nelwan, Sp.PD-KPTI, FACP, FINASIM, Ph.D yang merupakan ahli penyakit tropik dan infeksi menjelaskan keadaan mengapa hingga saat ini Indonesia masih berstatus zero corona.

Erni menjelaskan, faktornya bukan karena virus ini tidak bisa berkembang atau hidup di Indonesia. Hanya saja, virus corona sebenarnya bukan virus baru. Dahulu, sebelum 2019-nCoV, virus corona lain pernah terdeteksi. Pun dengan virus yang mirip corona, seperti SARS CoV, MERS CoV. Termasuk human coronavirus yang menyerang manusia.

"Kalau dikatakan ada daerah tertentu yang kemudian jadi tidak bisa virus itu berkembang, sebenarnya tidak begitu. Bukan tergantung dari daerahnya. Tapi tergantung dari yang pertama. Kalau mau ada virus ini ada di Indonesia, ada yang bawa dong," katanya saat dihubungi VOI di Jakarta, Selasa, 11 Februari.

Jika merujuk data Litbang Kemenkes, kata Erni, bersyukur dari 62 yang dicurigai membawa virus corona ini setalah dilakukan pengecekan hasilnya negatif. Artinya, memang tidak ada yang membawa virus itu masuk ke Indoensia.

"Jadi bukan dia tidak bisa masuk. Memang ini belum ada yang membawa sampai saat ini dari yang sudah dideteksi. Kita bicara secara umum, ya. Itu sebabnya kenapa suatu virus itu tidak ditemukan di satu negara. Bukan virusnya itu tidak bisa ditemukan di situ. Karena, toh, dengan Singapura dan Malaysia yang kita sebelahan, ada virusnya di mereka. Secara geografis kan boleh dikatakan kita mirip sekali," ucapnya.

Faktor iklim

Selain itu, Erni menjelaskan, faktor cuaca atau iklim di Indonesia juga turut membantu mencegah virus ini berkembang atau beradaptasi di daerah Indonesia. Menurut Erni, beberapa virus memang ada yang bisa mati dengan sendirinya jika berhadapan dengan cuaca yang panas. Virus yang mudah mati ini tidak memiliki kemampuan untuk menularkan.

"Jadi, ada virus yang gampang sekali mati, tidak mudah menular karena dia tidak tahan dengan cuaca panas. Jadi benar juga (cuaca) ikut memengaruhi. Memang itu adalah fakta bukan mitos. Nah sekarang kembali kita lihat si nCoV ini. Kalau kita lihat novel coronavirus kan dikatakannya memang thermal sensitive," tuturnya.

Novel corona virus atau 2019-nCov ini, kata Erni, virus saluran pernafasan yang masuk kepada seseorang lewat kontak fisik, semisal terhirup. Virus ini setelah terhirup, akan menyerang saluran nafas atas, yang membuat infeksi di bagian tersebut. Jika seseorang yang mengalami hal tersebut, kemudian tidak mampu mengatasinya, maka virus ini bisa turun ke paru-paru yang akhirnya menyebabkan sesak, kemudian menjadi pneumoni.

"Kalau kita lihat corona virusnya secara keseluruhan dia sangat sensitif terhadap panas. Nah jadi kembali lagi apakah kemudian di Indonesia virusnya enggak bisa hidup? Enggak begitu mengatakannya. Tapi yang sekarang pada saat ini yang bisa kita katakan virusnya belum ada yang menular dari mereka yang di-screening," tuturnya.

Proteksi diri

Menurut Erni, sebenarnya banyak faktor yang juga menyebakan virus ini mati sebelum sempat menular. Salah satu mencegahnya, dengan cara mencuci tangan menggunakan disinfeksi dan menjaga kebersihan tangan.

"Mudah sekali dilemahkan atau dibuat tidak berdaya dengan solten atau larutan yang ditaru di suhu 160 derajat celcius, ini kaitannya dengan apa? Kaitannya dengan upaya disinfeksi kalau kita mau bersihin tangan. Jadi dia mati, kalau di lingkungan kalau suhunya tinggi 26-27 derajat celcius itu juga tidak bertahan walaupun tidak berada di dalam larutan yang mengandung lemak atau yang berminyak-minyak gitu," jelasnya.

Erni mengatakan, cairan pembersih lantai juga dapat membunuh virus ini. Namun, ia mengingatkan, jika ingin menggunakannya ke tubuh atau badan, tentu harus yang aman untuk manusia. Jadi banyak hal yang membuat virus ini inactive.

"Waspada tetap, tapi bukan panik membawa ke arah yang negatif jadi sampai kayak masker sampai habis dan macam-macam, bukan seperti itu. Kewaspadaan itu dengan keseharian yang sehat, menambahkan sering cuci tangan, kalau sakit tahu membatasi diri, pakai masker," ucapnya.

Ilustrasi foto (Irfan Meidianto/VOI)

Pengunaan masker seharian penuh juga dapat membuat penggunanya tidak nyaman, apalagi di iklim tropis seperti Indonesia. Erni mengatakan, sebetulnya penggunaan masker juga tidak efektif untuk mencegah corona virus. Sebab, virus ini memang tidak ada di udara Indonesia.

"Sebenarnya menggunakan masker di Indonesia secara terus menerus setiap hari itu kurang ada manfaatnya, kalau dikaitakan dengan nCoV langsung. Karena itu tidak ada di udara kita. Pakai masker untuk melindungi diri dari orang-orang yang sakit, apalagi di keramaian kita tidak tahu macam-macam penyakit, kita pakai lah jadi kita melindungi diri kita terhadap yang di dekat kita," ucapnya.

Meski belum ada yang terjangkit corona virus ini, Erni mengatakan, masyarakat Indonesia tetap harus waspada. Karena, kita tidak punya pintu gerbang yang dikunci dari dalam. Artinya, wisatawan dari berbagai negara lain masih bisa datang ke Tanah Air.

"Kewaspadaan yang sudah digalang dimulai sejak awal itu tetap harus dipertahankan sampai dengan masalah ini bisa teratasi di pusatnya di China terutama dan sampai tidak ada kasus-kasus baru di negara-negara lain. Jadi selama itu masih ada kewaspadaan kita harus tetap sama-sama aware," jelasnya.

Senada, peneliti Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra menuturkan, secara teori virus corona akan bertahan lama di suhu rendah dan klembaban tinggi. Tapi sebetulnya karakteristik new coronavirus ini masih banyak perlu diteliti lagi.

"Kalau tanpa host atau sel inang, virus enggak bisa berkembang. Yang ada mungkin bisa bertahan, tapi tergantung kondisi lingkungan," jelasnya.

Sugiyono memberi contoh, ada kasus positif 2019-nCoV di Singapura di mana penderita tidak punya riwayat perjalanan ke China dan tidak punya riwayat berinteraksi dengan orang di sana. Lalu pertanyaannya, bagaimana mungkin bisa terinfeksi. Ia menjelaskan, dugaannya adalah ada virus yang mampu bertahan setelah keluar dari tubuh penderita.

"Lewat bersin, batuk dalam bentuk droplet misalkan. Kemudian droplet tersebut kena orang yang sehat, dan menginfeksi," ucapnya.

Menurut Sugiyono, hal yang dapat dilakukan oleh masyakarat untuk menghindari atau mencegah terinfeksi virus ini dengan menjaga kebersihan diri. Terutama, mencuci tangan.

"Iya cuci tangan itu penting, atau hand sanitizer, dan etika batuk harus diterapkan. Karena kita tidak tahu kalau virus mungkin ada di fasilitas umum yang sering kita pegang-pegang. Tapi jangan terlalu paranoid juga sebagai kewaspadaan terutama di tempat-tempat mobilitas manusia tinggi, seperti airport, di mana ada riwayat perjalanan dari tempat asal wabah," jelasnya.

Sementara itu, mengenai kondisi Indonesia yang masih dalam status zero corona, kata Sugiyono sebenernya banyak faktor juga yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi karena memang tidak ada virusnya atau memang tidak terdeteksi karena tidak dilakukan di tes. "Virus bisa saja dibawa tapi tidak atau belum menimbulkan gelaja. Sehingga tidak dites," tuturnya.