Mereka yang Lebih Yakin Formula E Buntung ketimbang Untung

Mereka yang Lebih Yakin Formula E Buntung ketimbang Untung

Balap Formula E (Instagram/@fiaformulae)

Bagikan:

JAKARTA - Kebingungan soal penentuan lokasi penyelenggaraan Formula E membuat Anggota Fraksi PDIP DPRD DKI Gilbert Simanjuntak mencermati besarnya biaya pengeluaran. Namun, menurut dia, hal itu tak sebanding dengan keuntungan yang bakal didapat.

Dalam menyelenggarakan ajang balap mobil bertenaga listrik tersebut, Pemprov DKI mesti menggelontorkan biaya sedikitnya Rp1,6 triliun dalam APBD tahun 2020. Biaya ini bahkan lebih besar dari penyelenggaraan Formula E di Hong Kong yang menghabiskan biaya senilai Rp540 miliar. 

Yang Gilbert pertanyakan, mengapa penyelenggaran di Jakarta bisa lebih besar berkali-kali lipat dari Hong Kong. "Apa dasar biaya penyelenggaraan di Jakarta membengkak dari biaya di luar negeri? Padahal, bahan untuk membangun seperti semen dan batu tersedia di Indonesia," tutur Gilbert kepada wartawan, Selasa, 11 Februari. 

Lebih lanjut, Gilbert meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berkaca pada pengalaman penyelenggaraan di Hong Kong yang merugi. Pada 2016, penyelenggaraan Formula E di Hong Kong tidak balik modal dan hanya meraup keuntungan sebesar 16 persen dari biaya yang sudah dikeluarkan. 

"Saat balapan di Hong Kong, dihasilkan untung sebesar 50 juta HKD atau sekitar Rp88,3 miliar. Balapan Hong Kong 2017 juga defisit," ungkap dia.

Dibantah Gerindra

Terpisah, penasihat fraksi Gerindra Muhammad Taufik tak sepakat dengan pernyataan Gilbert. Menurut dia, tak sepatutnya PDIP membandingkan proyeksi keuntungan hanya dengan pendapatan penyelenggaraan secara langsung. 

Kata Taufik, penyelenggaraan kegiatan internasional di Jakarta akan menimbulkan persepsi bahwa Ibu Kota merupakan tempat yang aman untuk dikunjungi. Taufik yakin, persepsi tersebut bakal meningkatkan pendapatan di sektor investasi.

"Akan ada persepsi penyelenggaraan yang aman itu muncul dari berbagai belahan dunia terhadap Jakarta, maka otomatis investor akan masuk," ujar Taufik. 

"Jadi, untungnya di situ. Bukan kayak jualan dagang gado-gado. Begitu buka usaha, terus langsung kepengin dapat untung. Bukan begitu cara menilai kegiatan internasional," tambahnya. 

Sebagai informasi, Formula E adalah turnamen balapan terpopuler kedua sesudah Formula 1. Bedanya dengan Formula 1, Formula E sudah menggunakan mesin bertenaga listrik sehingga bebas emisi. Nantinya aksi kebut-kebutan ini bakal diadakan di jalan raya yang diubah jadi sirkuit sementara.

Berbagai persiapan pun segera dilakukan, termasuk menyiapkan lintasan pada ajang balap Formula E. Ajang balap ini akan diselenggarakan pada 6 Juni 2020. Rencananya, acara ini bakal digelar selama 5 tahun berturut-turut.

Demi bisa menyelenggarakan Formula E, Pemprov DKI mengajukan anggaran DKI dalam APBD mencapai sekitar Rp1,6 triliun. Rinciannya, ada anggaran Rp360 miliar untuk commitment fee kepada federasi Formula E.