Kita Bahkan Bisa Menyusun Kaleidoskop Hanya dari Peristiwa di Bulan Januari

Kita Bahkan Bisa Menyusun Kaleidoskop Hanya dari Peristiwa di Bulan Januari

Ilustrasi (Ilham Amin/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Banjir besar di Jakarta dan sekitar, kebakaran hutan Australia, konflik Amerika Serikat dan Irak, hingga penyebaran virus corona yang jadi wabah penyakit mematikan di dunia. 2020 baru saja menginjakkan bulan pertamanya. Bulan yang berat untuk dilalui. Sialnya, kami bahkan dapat menyusun semacam 'kaleidoskop hitam' hanya dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan Januari.

 

Kebakaran hutan Australia

Kanguru yang terancam akibat kebakaran hutan (Twitter/@brynnobrien)

 

"Kita perlu banyak-banyak mendekatkan diri pada Tuhan dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama dan alam," ungkap seorang sejawat kantor di hari kesembilan bulan Januari.

Ungkapan itu ia ucap usai kami membahas meluasnya kebakaran hutan di Australia. Berdasar info hari itu, kebakaran hutan Australia telah menewaskan 27 orang. Satu miliar hewan mati, mulai dari burung, reptil, dan mamalia, termasuk dua spesies endemik Australia, kanguru dan koala yang terancam punah akibat kebakaran. Dua ribu rumah hancur. New South Wales jadi wilayah yang terdampak paling parah dengan catatan 4,9 miliar hektare terdampak.

Kebakaran sejatinya bukan hal baru untuk Australia. Setiap tahun, Australia dilanda kebakaran. Penyebabnya, macam-macam. Suhu panas hingga kilatan petir dapat memicu lumatan api. Selain perkara alamiah, ulah manusia tak luput jadi sebab. Kebakaran hutan kali ini pun sejatinya telah terjadi sejak Juli 2019. Kebakaran semakin parah jelang akhir tahun dan terus memburuk memasuki 2020. Pada 5 Januari lalu, kebakaran bahkan menyebabkan langit Australia berubah oranye.

Kebakaran ini pun tercatat sebagai yang terburuk dalam sejarah Australia, setelah Black Saturday yang terjadi tahun 2009. Kebakaran hutan memicu suhu panas hingga 40 derajat celcius atau 113-120 derajat fahrenheit. Penyebab buruknya kebakaran kali ini adalah kekeringan panjang --yang juga tak pernah terjadi sebelumnya-- yang melanda seantero negeri. Tentu saja, manusia ambil andil dalam bencana ini. Polisi telah menangkap 183 orang hingga 9 Januari.

Bagi kami, tak ada yang lebih mengerikan dari bencana kebakaran hutan. Tanpa hutan, tak akan ada oksigen. Bagaimana mungkin kita hidup tanpa oksigen?

 

Banjir awal tahun

Sejumlah warga Ciledug Indah, Tangerang menetap di tengah banjir (Yudhistira Mahabharata/VOI)

Malam tahun baru, hujan deras mengguyur Jakarta dan sejumlah wilayah di sekitarnya. Hujan itu disebut sebagai salah satu yang terparah. Pantauan di Taman Mini, Jakarta Timur menangkap curah hujan hingga 335 milimeter. Sedang pantauan tertinggi ditangkap di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur: 377 milimeter. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan tertinggi sebelumnya pernah terjadi pada 2007 dengan angka 340 milimeter per hari.

Pagi hari, Rabu, 1 Januari, Jakarta kebanjiran. Sejumlah wilayah penyangga Ibu Kota --mulai dari Tangerang, Depok hingga Bekasi-- ikut terendam. Data terakhir yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 4 Januari mengkalkulasi dampak banjir yang merendam 308 kelurahan dengan ketinggian air beragam, mulai 25 centimeter hingga yang tertinggi mencapai enam meter.  Banjir juga menyebabkan 60 orang meninggal dan 92.621 lainnya mengungsi ke 189 titik pengungsian yang tersebar.

Ahli Geospasial, Bintang Rahmat Wananda menganalisis banjir ini. Menurutnya, banjir adalah bencana yang tak mengenal faktor tunggal sebagai penyebabnya. Pun yang terjadi di awal 2020. Menurutnya, faktor pertama adalah minimnya resapan air di wilayah selatan Jakarta --sebagai hulu. Padahal, wilayah hulu amat penting untuk menyerap air permukaan yang diakibatkan tingginya curah hujan.

Selain itu, minimnya ruang terbuka biru (RTB) juga jadi sebab. Jakarta dinilai tak memiliki tempat yang memadai untuk jadi tempat parkir air sebelum dialirkan ke laut. Faktor penurunan tanah dan buruknya sistem pengelolaan air permukaan jadi penyebab lain. “Seharusnya tiap permukiman diwajibkan memiliki semacam kolam resistensi untuk menampung air dan itu dibikin sistemik melalui regulasi pemerintah,” kata Bintang dikutip dari Tirto, Selasa, 28 Januari.

Segala rangkaian penyebab itu memperburuk kondisi alam yang makin menunjukkan gejala kerusakan akibat perubahan iklim. Sebagaimana diungkap Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, bahwa perubahan iklim memperparah potensi-potensi bencana yang terjadi. Tak terkecuali banjir di awal 2020 lalu. Menurut analisis statistik hujan yang dilakukan BMKG, perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan pola intensitas hujan dalam waktu 150 tahun belakangan.

"Hal ini menandakan hujan-hujan besar yang dulu jarang, kini lebih berpeluang kerap hadir pada kondisi alam saat ini," katanya ditulis Tempo.

 

Ancaman perang dunia

Parade pasukan Garda Revolusi Iran (Sumber: Commons Wikimedia)

Jakarta masih banjir. Hutan Australia masih terbakar. Di Timur Tengah, serangan udara pasukan Amerika Serikat (AS) menewaskan Jenderal Qaseem Soleimani. Pemimpin pasukan elite Quds Iran itu tewas diberondong rudal pasukan AS pada Jumat, 3 Januari. Serangan dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump.

Iran berang bukan main. Genderang perang ditabuh. Bendera merah dikibarkan di kota suci Qom. Ini merupakan kali pertama dalam sejarah, Iran mengibarkan bendera merah di Masjid Besar Jamkaran yang merupakan situs ziarah kaum Syiah. Menurut tradisi Syiah, bendera merah itu merupakan simbol pembalasan atas tumpahnya darah secara tak adil. 

Juru Bicara Garda Revolusi Iran Ramezan Sharif turut menyerukan pembalasan itu. Dalam siaran televisi nasional Iran, ia berucap: Garda Revolusi, bangsa Iran yang bijaksana dan fron perlawanan di dunia Muslim yang membentang luas akan membalas tumpahnya darah syuhada ini (Soleimani).

Dunia dilanda ketakutan akan pecahnya perang dunia ketiga. Sekutu Iran, China dan Rusia turut berkomentar. China mendesak AS untuk meninggalkan jalan kekerasan. Sementara, Kementerian Luar Negeri Rusia mengingatkan AS akan konsekuensi yang mungkin terjadi terkait meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Ketakutan akan pecahnya perang dunia makin kuat saat Iran menyerang pangkalan udara gabungan AS-Irak di Ayn al-Asad, Irak Barat pada Rabu, 8 Januari. Garda Revolusi Iran mengonfirmasi serangan itu sebagai balasan atas meninggalnya Soleimani. "Garda Revolusi Iran mengumumkan kepada AS bahwa balasan ini akan penuh dengan 'rasa sakit' dan 'kehancuran'," tulis Garda Revolusi Iran seperti dilaporkan Bloomberg.

Memanasnya kondisi itu turut menyebabkan petaka bagi sebuah penerbangan. Sebuah pesawat Boeing 737 milik Ukraina jadi sasaran salah tembak pada Rabu pagi, 8 Januari. 176 tewas dalam tragedi itu. Militer Iran mengakui kesalahannya. Mereka juga menyeret AS dalam tragedi itu. Menurut Iran, gangguan interfensi elektronik AS telah menyebabkan operator rudal keliru mengidentifikasi pesawat penumpang Ukraina sebagai rudal jelajah AS.

 

Virus corona

Penumpang di Gerbang Kedatangan Bandara Soekarno Hatta (Irfan Meidianto/VOI)

31 Desember 2019, Komisi Kesehatan Publik Wuhan, China melaporkan sebuah wabah penyakit. Wabah itu disebut-sebut mirip dengan pneumonia. Ketika awal terdeteksi, otoritas mencatat 27 kasus di mana para korban terkonfirmasi positif terjangkit. Kemudian, 9 Januari, para ilmuwan mengidentifikasi virus yang jadi penyebab wabah penyakit itu sebagai corona jenis baru. Virus itu mengingatkan banyak orang tentang wabah SARS yang sempat merebak di China tahun 2002.

Kesamaan yang paling mendasar adalah bagaimana virus menular dari hewan ke manusia. Dalam kasus virus corona, kelelawar disebut-sebut sebagai penyebar utama virus. Kebiasaan masyarakat China mengonsumsi hewan liar --termasuk kelelawar-- disebut jadi penyebab utama penularan. Dugaan itu diperkuat dengan fakta bahwa Pasar Makanan Laut Huanan di Wuhan jadi lokasi pertama virus menyebar.

12 Januari, Pemerintah China mengumumkan kematian seorang pria berusia 61 tahun di Wuhan sebagai kematian pertama terkait virus corona. Pria itu disebut-sebut meninggal setelah tiga hari terjangkit. Sehari kemudian, otoritas mengumumkan secara resmi bahwa virus telah menyebar ke negara lain. Thailand jadi negara pertama di luar China yang melaporkan temuan kasus. Selanjutnya, virus corona ditemukan di Jepang sebelum temuan lain dilaporkan di Korea Selatan dan Taiwan.

Selanjutnya, otoritas mengisolasi Kota Wuhan. Hingga Senin, 27 Januari, isolasi masih diberlakukan. Tak ada satu pun orang yang boleh meninggalkan atau pun datang ke Wuhan. Kepanikan mulai melanda seiring menipisnya persediaan logistik di dalam kota. Data yang dihimpun dari situs gisanddata.maps.arcgis.com menunjukkan sebaran virus corona per hari ini, Selasa, 28 Januari pukul 15.53 WIB telah menyentuh 19 negara.

Rinciannya, China dengan temuan 4.409 kasus, Hong Kong dan Thailand dengan delapan kasus, Macau enam kasus, Australia, AS, Taiwan, dan Singapura dengan lima kasus. Jepang, Malaysia, Korea Selatan sama-sama mencatat empat temuan kasus, Prancis tiga kasus, dan Vietnam dengan dua kasus. Catatan kasus lebih sedikit terjadi di Kamboja, Kanada, Jerman, Pantai Gading, Nepal, dan Sri Lanka yang sama-sama mencatatkan satu kasus.

Merujuk sumber data yang sama, virus corona telah menewaskan 107 orang, di mana seluruh kematian terjadi di China. Di Indonesia, otoritas belum menemukan satu pun kasus hingga hari ini. Langkah pencegahan pun dilakukan dengan meningkatkan pengawasan di pintu-pintu bandara, menerbitkan travel warning ke China, hingga memanfaatkan kapsul evakuasi.

Beratnya Januari

Januari adalah bulan yang berat. Kesan itu tak hanya tertangkap oleh kami para pewarta yang sehari-hari berkutat dengan derasnya arus informasi. Lewat kuesioner yang kami lempar di media sosial, nyatanya kami menangkap perasaan serupa yang ditangkap warganet. Rata-rata dari mereka mengungkap beratnya ujian yang harus ditanggung warga dunia selama sebulan ini. 

Akun Twitter @encrypttt, misalnya yang menjawab, "Berat banget sumpah. Belum setengah aja udah berat banget kayak bawa dosa."

Atau akun @CutMelisa_ yang menangkap banyak pertanyaan dari berbagai peristiwa yang terjadi sepanjang Januari. "Begitu banyak misteri dan teka-teki atas kejadian awal 2020 ini."

Akun @mazzini_giusepe menggambarkan perasaan serupa. "Mengerikan dan bikin was-was."

Di Instagram pun kami menangkap keresahan yang sama. Kami melempar sebuah pertanyaan, "Seberapa Berat Bulan Januari untuk Kamu Jika Dilihat dari Berbagai Peristiwa yang Terjadi di Dunia?"

Akun @datikabunga menjawab: Berat banget, sih. Enggak nyangka, belom selesai bulan Januari udah banyak aja cobaannya.

@ignacina, menjawab: Berat enggak berat. Big slap from nature to humanity. Should have done better care for nature.

Lainnya, @yosafatmilala menggambarkan beratnya beban di bulan Januari yang bahkan ia sebut setara dengan beban setahun penuh 2019.

"2020 baru sampai Januari tapi bebannya sebanding sama 2019 kemarin," katanya.

Caption
Caption