Kemenkes Siagakan 'Kapsul Evakuasi' untuk Pasien yang Terkontaminasi Virus Corona
Kapsul evakuasi yang disiagakan Kementerian Kesehatan (Irvan Meidianto/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Kesehatan telah mengaktifkan 21 kapsul evakuasi di sejumlah bandara dan pelabuhan internasional. Kapsul tersebut nantinya akan digunakan untuk mengevakuasi penumpang yang terindikasi virus Corona atau flu Wuhan untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes (Kemenkes) Anung Sugihantono mengatakan, upaya ini dilakukan untuk meminimalisasi risiko masuknya virus corona ke Indonesia. Anung menambahkan, pengoperasian kapsul-kapsul tersebut sudah dalam posisi standby dan siap jika sewaktu-waktu digunakan. 

"Kapsul ini apabila ada sesuatu yang tidak diinginkan bisa mengevakuasi ke rumah sakit terdekat. Jadi keamanannya lebih terjamin," katanya, saat konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Senin, 27 Januari.

Pihak Kemenkes juga telah mengidentifikasi, daerah-daerah yang berisiko tinggi dan menjadi pintu masuk penularan virus dikatakan mematikan itu, terutama dari kawasan yang memiliki akses langsung dari dan menuju Tiongkok. Adapun daerah tersebut, antara lain Jakarta, Tangerang, Bandar Lampung, Padang, Balikpapan, Tarakan, Manokwari, Sampit, Bandung, Denpasar, Manado, Palembang, Surabaya, dan Batam.

Untuk mengantisipasinya jika ada pasien yang menunjukkan tanda-tanda kurang sehat. Kemenkes telah menyiapkan dua rumah sakit (RS) yang dapat menjadi rujukan untuk penanganan pertama, yakni Rumah Sakit dr Kariadi, Semarang dan Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso.

"Sudah mulai simulasi dan kami juga sudah mempersiapkan alat pelindung diri lengkap kalau ini memang harus ditangani dengan serius," tuturnya.

Tampilan Thermal Scanner di bandara Soekarno-Hatta (Irvan Meidianto/VOI)

Pencegahan Dini

Anung menjelaskan, jika selama ini Kemenkes memberlakukan pengecekan kesehatan secara masif menggunakan thermal scanner di pintu kedatangan bandara. Namun, yang paling baru, prosedur pemeriksaan kesehatan tersebut dilakukan secara perorangan, langsung di pesawat yang baru tiba.

Menurut Anung, prosedur pemeriksaan kesehatan semacam ini dilakukan terhadap mereka yang baru datang dari luar negeri khususnya China. "Sebagaimana diketahui bahwa kita mempunyai thermal scanner yang itu kita gunakan secara penuh. Tapi sejalan dengan peningkatan eskalasi maka kami juga saat ini mulai meningkatkan kewaspadaan di awal. Sekarang sudah mulai masuk ke pesawat," tuturnya.

Sejak kemarin, kata Anung, pengecekan kesehatan semacam ini sudah dilakukan di Bandara Soekarno Hatta. Dia menjelaskan, mekanismenya, jika ada yang terindikasi tidak sehat, yang bersangkutan akan diarahkan ke pos kesehatan bandara untuk menjalani pemeriksaan.

Kemudian, lanjut Anung, jika yang bersangkutan diindikasikan sehat, maka akan diberi health alert card yang berlaku selama 14 hari sejak kedatangannya di Indonesia. Namun, jika dalam kurun waktu tersebut pemegang health alert card menunjukkan gejala sakit seperti pilek dan batuk, ia harus diperiksa lebih lanjut.

"Di (Pelabuhan) Tanjung Priok juga sudah mulai dilaksanakan sejak kemarin, ada yang namanya pandu biasanya dia naik duluan bawa kapal parkir sebelum tenaga kesehatan datang, sekarang teman-teman KKP (kantor kesehatan pelabuhan) naik dulu (ke kapal), baru kalau sudah clear pandunya naik untuk membawa kapal ke tempat parkir pelabuhan yang memang sudah ditetapkan," jelasnya.

Di sisi lain, Anung menjelaskan, hingga saat ini virus corona belum diketahui bagaimana proses penularannya. Masyarakat diimbau untuk terus waspada dan menjaga kesehatan serta daya tahan tubuh.

"Sampai sekarang belum diketahui proses penularannya. Sementara masih diduga melalui kontak langsung," katanya.