Percayalah, Tak Ada yang Bisa Melindungi Pelatih dari Pemecatan

Percayalah, Tak Ada yang Bisa Melindungi Pelatih dari Pemecatan

Ernesto Valverde (Twitter @IGIHE)

Bagikan:

JAKARTA - Pemecatan Ernesto Valverde dari Barcelona pekan ini berfungsi sebagai bukti terbaru bahwa tidak ada yang dapat menjamin keamanan kerja dalam sepak bola. 

Barcelona berada di puncak klasemen sementara La Liga Santander dan maju ke babak 16 besar Liga Champions sebagai juara grup. Belum lagi, di bawah Valverde, Los Blaugarana menempati puncak klasemen selama 81 dari 95 pekan yang dijalani. Namun, sang pelatih tetap dipecat

Hal serupa juga terjadi di Real Madrid pada tahun 1992. Radomir Antic membawa Los Blancos ke puncak liga pada akhir Januari. Dalam 19 pertandingan, mereka unggul tujuh poin dari Barcelona dan juga dengan mulus lolos ke perempat final Piala UEFA dengan kemenangan atas Slovan Bratislava, Utrecht dan Neuchâtel Xamax. Tapi, ia tidak bisa mempertahankan pekerjaannya.

Bahkan, Liga Inggris juga tidak menawarkan keamanan yang lebih besar. Claudio Ranieri membawa Leicester City meraih gelar liga yang sebelumnya dianggap mustahil pada 2016. Tetapi, pada Februari 2017, ia sudah tidak punya pekerjaan. 

"Itu tak bisa dijelaskan, tak termaafkan, memilukan, dan menyedihkan," kata legenda Leicester dan Inggris, Gary Lineker menanggapi pemecatan Ranieri pada saat itu. Melansir Marca, Rabu, 15 Januari.

Apakah merevolusi klub di tengah kompetisi merupakan solusi tepat? Tidak dalam kasus Johan Cruyff yang dipecat oleh Barcelona pada tahun 1996. DNA Barcelona didasarkan pada cetak biru pelatih asal Belanda itu, tetapi perselisihannya dengan presiden klub, Joan Gaspart membuat bulan madunya di Camp Nou berakhir. 

Cruyff tahu, Bobby Robson disiapkan untuk menggantikannya dan dia pun memanggil Gaspart dengan sebutan "Judas". 

Vicente del Bosque juga diusir dari Santiago Bernabeu, padahal ia  memenangkan La Liga Santander bersama Real Madrid pada 2003.

Kalau masih belum percaya, Jupp Heynckes akan memberi tahu Anda bahwa bahkan memenangkan Liga Champions pun tidak menolong nasib mereka. Ia dipecat beberapa hari setelah memenangkan gelar ketujuh Real Madrid, yang pertama setelah 32 tahun.

Ada contoh lainnya. Roberto Di Matteo memenangkan Liga Champions untuk Chelsea pada 2012. Ini adalah yang pertama buat tim London Biru. Tapi setelah dikalahkan Juventus 3-0 yang berujung tereliminasinya mereka dari kompetisi Eropa, pria Italia itu dipecat pada Desember.

Pemecatan pelatih tidak selalu karena hasil. Satu contoh terakhir adalah ketika dua hari sebelum Piala Dunia dimulai Julen Lopetegui dipecat oleh Spanyol setelah mengambil pekerjaan Real Madrid. Keputusan Luis Rubiales (presiden RFEF, PSSI-nya Spanyol) menghancurkan semua persiapan La Roja

Contoh lain adalah ketika, setelah berturut-turut lolos ke babak kualifikasi Liga Champions dan kemenangan di Copa del Rey 2019, Marcelino dipecat oleh Valencia awal musim ini.