Masih Perlukah Musisi Mengejar Posisi Nomor Satu di Tangga Lagu?

Masih Perlukah Musisi Mengejar Posisi Nomor Satu di Tangga Lagu?

Tangkap layar video klip Yummy (YouTube)

Bagikan:

JAKARTA - Pada awal 2020, penyanyi Justin Bieber merilis lagu baru berjudul Yummy. Ini adalah lagu promosi untuk album Bieber yang akan datang. Lagu bernuansa R&B itu disambut dengan meriah oleh Belieber (sebutan penggemar Justin Bieber) karena idolanya sudah empat tahun tidak merilis proyek solo.

Namun, sepertinya Yummy tidak sepenuhnya menjadi comeback besar-besaran suami Hayley Baldwin. Sebabnya, lagu ini 'hanya' debut di urutan dua di Spotify dan tangga lagu Billboard. Prestasi ini meruntuhkan lagu-lagu Bieber terdahulu yang selalu berhasil meraih peringkat satu setelah dirilis.

Di Spotify, lagu Tones And I yang berjudul Dance Monkey masih bertahan di posisi nomor satu. Sedangkan di Billboard, posisi teratas diraih rapper Roddy Ricch dengan single The Box.

Seperti tim promosi pada umumnya, Bieber dan tim-nya melakukan segala strategi demi mendongkrak Yummy ke nomor satu. Selama sepekan belakangan, mereka merilis tujuh versi video dalam kanal YouTube-nya.

Tujuh versi CD yang hanya diisi satu lagu, Yummy, djual lewat situs pribadinya. Bieber juga mendaftar akun TikTok dan Triller yang sedang marak digunakan di kalangan pengguna internet, ia merekam 11 video dirinya dengan menggunakan lagu Yummy.

Belakangan, Bieber juga membuat video yang memperlihatkan dirinya sedang melakukan Instagram Live bersama penggemarnya. Ia meminta penggemarnya untuk membuka komputernya dan menyuruh mereka untuk membeli lagu Yummy dari iTunes.

Ia juga mengunggah ulang posting-an dari penggemar yang memperlihatkan cara membuat Yummy menjadi nomor satu. Salah satunya dengan menggunakan VPN dan mendengarkan lagu tersebut dengan volume kecil dan dibiarkan sampai tertidur.

 

Bieber juga mendapat pemutaran radio dengan jumlah besar dan tidak sedikit yang mencurigai jika Bieber menggunakan payola sebagai sistemnya. Payola adalah praktik pembayaran ilegal oleh perusahaan rekaman untuk menyiarkan rekaman di radio komersial menjadi bagian dari siaran hari biasa. Biasanya, hal ini dilakukan untuk mendapatkan ulasan positif dan rekaman yang meraih popularitas tinggi.

Langkah ini sebenarnya sudah biasa dilakukan oleh para penggemar demi mendukung musisi idolanya. Menilik industri musik K-pop, penggemar biasa melakukan streaming massal dari album dan video demi naiknya lagu si musisi ke posisi nomor satu.

Rasanya tidak adil jika harus menyebut statistik sebagai standar kualitas musik saat ini. Memang, lagu yang berada di tangga lagu teratas punya banyak kesempatan untuk meraih perhatian penikmat musik dan hasil streaming tersebut bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah meskipun tidak setara dengan penjualan secara fisik. Tetapi jika melihat langkah-langkah Bieber yang terlihat putus asa dan curang, ini jadi kurang baik di mata penggemar. Semua karya punya porsi dan pasarnya sendiri. Jadi, buat apa repot-repot memaksakan musik kita agar bisa didengar semua kalangan.

Kita ambil contoh lagu Dance Monkey milik Tones and I. Meski jumlah pengikut Tone and I di Instagram yang berjumlah 465 ribu jauh di bawah Bieber yang memiliki 125 juta pengikut, lagu ini berada di peringkat pertama di Spotify dengan jumlah streaming 887 juta.

Meskipun Tones and I tidak memiliki penggemar yang masif seperti Bieber, lagunya bisa sampai kepada penikmat musik manapun. Jadi, sebuah karya akan sampai di tangan penikmat musiknya sendiri tanpa harus 'dipaksakan'. Yang jadi pertanyaan, masih perlukah menjadi nomor satu di tangga lagu untuk membuktikan sebuah musik memiliki kualitas baik?

 

 

Tag: Musik