M Taufik Ajak Anggota DPRD Sisihkan 10 Persen Gaji untuk Korban Banjir Jakarta

M Taufik Ajak Anggota DPRD Sisihkan 10 Persen Gaji untuk Korban Banjir Jakarta

Ruang rapat DPRD DKI Jakarta (Diah Ayu Wardani/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Muhammad Taufik berinisiatif untuk mengajak seluruh anggota DPRD DKI menyumbang 10 persen gaji mereka bagi korban terdampak banjir. Sekiranya urunan itu bisa disisihkan dari take home pay anggota dewan yang diterima dalam satu bulan.  

"Pimpinan dan anggota kan gajinya beda. Anggapannya, dari gaji saya, saya menyumbang 10 juta, diserahkan ke Sekwan (Sekretaris Dewan)," kata Taufik di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, 6 Januari. 

Uang sumbangan ini, kata Taufik, bisa digunakan untuk melengkapi kebutuhan warga selama mengungsi seperti pakaian dan makanan, serta membeli perlengkapan pembersihan rumah. 

Permintaan ini, menurut Taufik sekiranya tidak akan memberatkan bagi anggota dewan DPRD DKI Jakarta. Di mana gaji masing-masing anggota dewan berkisar antara Rp59 juta sampai Rp111 juta.

Jika jumlah sumbangan diratakan seperti moninal yang dirogoh Taufik sebesar Rp10 juta, maka bantuan yang bisa diserahkan DPRD untuk korban banjir Jakarta sebesar Rp1,06 miliar.

"Sumbangan itu nanti saya menyuruh kepada Sekwan untuk diserahkan (kepada warga)," ungkapnya. 

BPBD Jakarta saat mengevakuasi warga terdampak banjir (Irvan Meidianto/VOI)

 

Masih Banyak Warga Mengungsi

Masih ada sejumlah warga yang mengungsi akibat banjir di Jakarta. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI pagi ini, jumlah pengungsi paling banyak berada di Jakarta Barat.

"Di Jakarta Barat masih ada tiga RT di satu kelurahan yang terdampak banjir, ketinggian air saat ini paling dalam mencapai 150 cm. Masih ada 2.867 pengungsi di lima lokasi pengungsian," ucap Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI M Ridwan kepada wartawan, Senin 6 Januari.

Selain Jakarta Barat, beberapa lokasi pengungsian masih tersebar di Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Hal ini disebabkan luapan volume air sungai dan banjir rob yang masih menggenangi kawasan tersebut.